Film Review: Jailangkung (2017)

Nama Rizal Mantovani dan Jose Poernomo selamanya tercatat dalam sejarah perfilman Indonesia berkat Jelangkung (2001), sebuah fim horor yang sukses besar justru saat situasi perfilman lokal tengah mati suri dan menjadi salah satu pencetus bergeraknya kembali gelombang film Indonesia baru, bersama dengan Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Kini, 16 tahun kemudian, Mantovani dan Poernomo melakukan reuni dalam sebuah film horor lain yang juga mengangkat mitos sama, Jailangkung.

Jailangkung  sama sekali bukan remake dari Jelangkung, karena memang memiliki cerita yang jauh berbeda. Meski tentunya masih mengandalkan instrumen pemanggil arwah yang setipe untuk digunakan dalam ritualnya. Ada perbedaan detil, termasuk perubahan “mantra” yang kini adalah “datang gendong, pulang bopong”, alih-alih “datang tak dijemput, pulang tak diantar” yang beken itu.

Jelangkung menyasar pasar remaja atau anak muda, sehingga secara aspek sinematis Mantovani dan Poernomo memilih pendekatan cerita yang nge-pop dan visual yang sedikit hiper-kinetik, mengingatkan akan video klip musik. Tidak heran karena latar keduanya yang memang bergerak dari wilayah penyutradaraan klip tadi.

Sedang Jailangkung tampaknya menargetkan penonton yang datang dari demografi lebih luas, sehingga kisah keluarga menjadi sentranya, meski tetap mengundang bintang-bintang muda sebagai penarik perhatian. Jadi, film berkisah tentang kakak-beradik Angel (Hannah Al Rashid) dan Bella (Amanda Rawles) yang mencoba mengungkap misteri mengapa ayah mereka, Ferdi (Lukman Sardi), yang menurut dokter dalam keadaan sehat-sehat saja secara fisik, bisa dalam keadaan koma.

Bella mencurigai jika ada campur tangan supernatural dalam kasus ayahnya. Berbekal bantuan teman kuliahnya, Rama (Jefry Nichol), yang memiliki ketertarikan besar terhadap hal-hal klenik, Bella, berserta Angel dan adik mereka yang masih kanak-kanak, Tasya (Gabriella Quinlynn), menuju rumah di mana ayah mereka ditemukan.

Benar saja, ternyata sang ayah bermain jailangkung guna berhubungan dengan almarhum istrinya, Sarah (Wulan Guritno). Hanya saja, yang menyambangi tidak hanya Sarah namun sosok-sosok ghaib yang mengerikan. Dan, setelah memainkan jailangkung tersebut, kini mahluk-mahluk tersebut juga mengincar mereka.

Secara visual, Jailangkung pastinya tidak usah diragukan lagi dalam menampilkan gambar-gambar yang sedap dipandang, meski agak berlebihan dalam penggunaan aerial shot-nya. Dan Jailangkung beruntung didukung oleh barisan pemain yang mampu bermain baik. Tidak hanya para senior seperti Sardi, Guritno atau Al Rashid, namun juga Nichol dan Rawles, yang menegaskan jika mereka memang layak disebut sebagai bintang masa depan.

Secara penceritaan? Nanti dulu.Harus diakui, ketimbang beberapa film horor Mantovani atau Poernomo di kurang lebih satu dekade terakhir, Jailangkung di atas mereka.Film bisa dinikmati dengan lebih baik.

Hanya saja, film tidak dibekali dengan naskah yang bagus. Terlalu banyak lubang menganga selain logika bertutur yang berantakan, sehingga Jailangkung sangat keteteran dalam menghadirkan plot yang berjalan dengan solid.

Hasilnya film terasa tergagap pada beberapa bagian dan tergesa di bagian lain. Tempo yang belang-belang sangat mengganggu saat menyimak filmnya. Belum lagi film seperti bingung dalam mengelaborasi setiap unsur ceritanya, entah itu dari sisi drama, misteri, atau romansanya. Beberapa momentum malah terasa komikal dan mengundang tawa, meski rasa-rasanya tidak diniatkan begitu.

Jikalah harus membandingkan dengan Jelangkung, maka Jailangkung jelas inferior. Padahal secara kualitas produksi (dan akting) Jailangkung lebih mumpuni. Namun, dengan ketidakmampuan film dalam menghasilkan narasi yang utuh, serta gagalnya menggali sisi seram secara efektif, hingga kurang berhasil dalam menghadirkan sosok-sosok demit yang ikonik, maka ia sulit untuk bisa bersanding sama tinggi dengan Jelangkung yang kini bisa dikatakan sebagai salah satu film horor klasik Indonesia.

Jailangkung

★★☆☆☆

Advertisements