Film Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Semenjak Sam Raimi menghadirkan Spider-Man (2002), sementara  ini telah ada 5 buah film versi mutakhir yang berangkat dari karakter komik Marvel kreasi Stan Lee dan Steve Ditko. Dan dalam lebih dari satu dekade kemudian, franchise gawangan Sony ini bahkan telah mengalami reboot dengan The Amazing Spider-Man (2012). Performa yang kurang memuaskan dari The Amazing Spider-Man 2 (2014) ternyata membuat Sony kembali berniat untuk me-reboot kembali franchise-nya. Hanya saja, tentu harus ada yang membedakan jika kisah sang laba-laba merah “diperkenalkan” kembali di layar lebar.

Tentu saja cara yang paling efektif adalah dengan menjadikan Spider-Man sebagai bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU) milik Marvel Studios yang saat ini telah menggurita menjadi franchise yang sangat besar.  Ini adalah solusi yang bisa dikatakan menyenangkan semua pihak; yaitu Marvel Studios yang bisa menambah daftar karakter untuk film superhero MCU mereka; Sony yang tetap bisa mempertahankan hak Spider-Man di genggaman; dan pastinya yang merasa mimpi mereka menjadi nyata dengan resminya bergabung Spidey ke dalam MCU.

Aktor muda asal Inggris, Tom Holland, kini melanjutkan estafet dari Tobey Maguire dan Andrew Garfield untuk berperan sebagai Peter Parker alias Spider-Man. Dalam versi Holland, ia adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang mencoba menyeimbangkan kehidupannya sebagai siswa SMA dan aktivitasnya sebagai pahlawan bertopeng pemberantas kejahatan, Spider-Man.

Homecoming bukanlah debut Holland sebagai Spider-Man, karena sebelumnya ia telah sukses mencuri perhatian saat tampil sekilas dalam Captain America: Civil War. Sebuah perkenalan yang cukup efektif sehingga antusiasme pun menjadi besar untuk melongok aksinya secara solo. Sutradara muda Jon Watts (Clown, Cop Car) pun didapuk  menjadi sutradara.

Sebagai “reinkarnasi” layar lebar terbaru dari Spider-Man, Homecoming tentunya tidak lagi menceritakan asal muasal kekuatan super Spidey. Namun lebih bagaimana ia berusaha menemukan tempatnya, baik sebagai remaja usia sekolah ataupun pahlawan super dengan beban relatif besar di pundaknya, serta keinginan untuk diakui menjadi salah satu dari tim Avangers.

Dinamika inilah yang seharusnya membedakan Homecoming dengan dua pendahulunya. Sebagaimana tradisi film-film solo MCU, Spider-Man bukan satu-satunya pahlawan super di dalamnya, sehingga hadir Robert Downey Jr. muncul kembali sebagai Tony Stark alias Iron Man, yang bertugas sebagai mentor bagi Parker.

Meski nama Downey Jr. dan Iron Man tercetak cukup jelas di berbagai materi promosi film, untungnya Homecoming tidak lantas menjadi Iron Man 4, karena Stark cenderung menjadi karakter sampingan dan hadir sesekali. Homecoming masih menjadi wahana utama bagi Spider-Man dalam beraksi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah Homecoming layak menjadi penyusul dari Spider-Man dan The Amazing Spider-Man? Sejujurnya tidak.

Dengan beberapa amusini adegan aksi  laga dan komedi, film masih lumayan menghibur. Hanya saja secara kualitas mereka tidak terlalu istimewa. Terlalu bersandar pada efek khusus untuk sisi laga atau klise dan tertebak untuk drama dan komedinya, maka dengan durasi 133 menit, Homecoming terasa melelahkan. Repetisi dalam plot digunakan untuk mengisi kekosongan substansi dalam naskah yang ditulis secara keroyokan oleh Watts bersama dengan Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Christopher Ford, Chris McKenna dan Erik Sommers.

Populasi karakter dalam film cukup padat, tapi tidak ada yang benar-benar impresif atau berkesan, karena naskah tidak mengizinkan mereka untuk berkembang. Jangankan untuk karakter seperti Michelle (yang diperankan mantan bintang Disney, Zendaya, secara marginal ketimbang integratif dalam plot , meski nantinya diharapkan akan berperan lebih dalam film berikutnya),  bahkan sang villain-nya sendiri, Vulture atau Adrian Toomes pun terasa kurang bernas, entah dari karakterisasi atau motifnya. Padahal ada aktor sekelas Michael Keaton, sang Batman, yang memerankannya.

Bisa jadi ini terjadi karena disebabkan Homecoming lebih condong bertugas sebagai pengantar tingkat lanjut untuk Spider-Man, ataupun karakter-karakter pendukungnya, ketimbang film mandiri yang utuh. Homecoming disiapkan hanya menjadi landasan bagi Spider-Man untuk nantinya menjadi sosok pahlawan yang lebih utuh di berbagai film berikutnya, seperti The Avengers terbaru, atau Homecoming 2.

Ibarat sebuah album musik, maka Homecoming adalah track berjenis filler. Lagu yang dalam istilah sederhananya adalah “memenuhi kuota track sebuah album yang didengar boleh, dilewatkan juga tak mengapa”.

Homecoming terasa kurang organis, tidak sebagaimana pendahulunya, yang terlepas dari kekurangan untuk beberapa judulnya, sangat menghormati sosok Spider-Man tersebut sebagai pahlawan ikonik, bukan komedian dengan masalah “sepele”, yang seorang Tony Stark pun tak berminat untuk mengurusi (yang pastinya film akan selesai dalam durasi kurang lebih setengah jam saja jika Iron Man yang turun tangan).

Resiko dan tantangan yang ditawarkan konflik film terasa trivial jika dibandingkan film-film solo pahlawan-pahlawan Marvel lain, bahkan dibandingkan Ant-Man (2015) atau Doctor Strange (2016) yang berasal dari materi relatif lebih obscure, sehingga Homecoming terkesan memposisikan Spider-Man sebagai “anak bawang”.

Holland cukup baik berperan sebagai Peter Parker/Spider-Man, meski belum begitu semengesankan Maguire, bahkan Garfield. Mungkin nanti. Lagi pula ia punya banyak kesempatan untuk membuktikan dirinya sebagai Spider-Man yang tak kalah mencorong. Untuk sementara, kita  cicipi saja dulu film tanggung yang bingung antara mau menjadi coming-of-age atau aksi fantastis ala MCU ini.

Spider-Man: Homecoming

★★½☆☆☆

Advertisements