Film Review: Dunkirk (2017)

Mungkin Dunkirk adalah salah satu peristiwa historis era Perang Dunia II paling dikenang warga Inggris. Ada 200.000 tentara mereka harus terdampar di tepi pantai di kota utara Prancis tersebut. Nasib pun tak menentu, menunggu kejelasan apakah akan terselamatkan atau tidak. Saat Christopher Nolan mengungkap dirinya akan mengangkat peristiwa Dunkirk untuk film terbarunya, maka bisa jadi banyak orang mengira ia akan mengambil jejak sama hal seperti film-film sejenis. Saving Private Ryan karya Steven Spielberg misalnya.

Tapi, jika harus mengulang pendekatan sama, maka Dunkirk, demikian judul filmnya, tidak ada bedanya dengan film perang pendahulunya. Oleh karena itu Nolan menawarkan pendekatan baru dalam sebuah kisah berlatar perang ataupun penyelamatan. Ia mengemas Dunkirk lebih mendekati kepada film bencana ketimbang film perang itu sendiri.

Dunkirk dialurkan dalam tiga sudut pandang, darat, laut dan udara, dengan masing-masing segmen diberi judul The Mole (darat, 1 minggu), The Sea  (laut, 1 hari) dan The Air (udara, 1 jam). Ketiga segmen memiliki cerita berbeda, meski menjelang akhir mereka pun menyatu dalam sebuah persinggungan.

Dalam The Mole, seorang tentara muda bernama Tommy (Fionn Whitehead, walau sepanjang film namanya sama sekali tidak disebutkan) harus bertahan hidup dan mencari transportasi untuk bisa mengembalikannya ke kampung halaman. Dalam usahanya, ia berteman dengan Gibson (Aneurin Barnard) dan Alex (Harry Styles). Segmen ini juga menyoroti Bolton (Kenneth Branagh), seorang komandan, dan subordinatnya, Kolonel Winnant (James D’Arcy) dalam mengkoordinasi penyelamatan kepada para tentara.

The Sea berkisah pada seorang pria paruh baya bernama Mr. Dawson (Mark Rylance) dan putranya, Peter (Tom Glynn-Carney) yang secara sukarela menjawab panggilan minta tolong Angkatan Laut kepada kapal-kapal sipil untuk menyelamatkan para tentara di Dunkirk. Turut bersama mereka adalah remaja lain, George (Barry Keoghan). Di tengah perjalanan, mereka menyelamatkan seorang tentara (Cillian Murphy), yang panik saat mengetahui para penyelamatnya menuju Dunkrik, wilayah yang baru saja ia tinggalkan beberapa waktu lalu.

Sementara itu The Air memberi fokus pada dua pilot pesawat tempur, Farrier (Tom Hardy, lagi-lagi harus rela wajahnya tertutup nyaris di sepanjang film) dan Collins (Jack Lowden), dalam tugas mereka untuk menahan bombardiran pesawat tempur Jerman kepada barisan kapal penyelamat ataupun tentara di Dunkirk itu sendiri.

Pada awalnya ketiga cerita ini berjalan dengan sejajar secara rapat dan intens, terlepas dari bingkai waktu berbeda. Sampai kemudian sudut pandang mereka mulai saling berkelindan ala Rashomon-nya Akira Kurosawa dan tentunya berakhir dalam sebuah titik persinggungan.

Editing film dengan sengaja melakukan pengacakan untuk jukstaposisi atmosfir dan tone, sehingga terlihat tak seragam antara ketiga plotnya. Jadi, saat salah satu segmen terasa intens, adegan berikutnya berpindah ke segmen yang cenderung lebih low-key. Mungkin melelahkan bagi penonton dengan kebiasaan mengikuti alur lebih konvensional, meski pendekatan ini memberi penekanan pada perbedaan rasa urgensi untuk tiap segmen.

Tapi Dunkirk memang bukan film perang konvensional. Tidak ada karakter dengan penonjolan heroisme berlebihan. Tidak ada latar cerita melodramatis. Tidak ada manipulasi emosi. Tidak ada pidato berapi-api. Tidak ada Winston Churchill. Dunkirk meminggirkan sentimentalia dan mengedepankan sosok-sosok atau situasi random/trivial yang biasanya hanya menjadi latar di berbagai film perang.

Melalui sudut pandang orang-orang biasa ini, yang tak memiliki kepentingan lain selain bertahan hidup (The Mole), menjadi sukarelawan (The Sea), dan menjalankan embanan tugas (The Air), kita diajak untuk terlibat dalam perang itu sendiri, alih-alih menjadi penonton dengan posisi berada jauh di luarnya. Dunkirk bukan ingin memaparkan kisah mengharu-biru. Rasa tegang dan bahaya adalah untuk dialami sendiri guna bisa menghargai betapa mengerikannya terjebak dalam situasi seperti ini.

Untuk itu, Nolan bersama penata kamera Hoyte van Hoytema menyisipkan kamera di sudut-sudut personal karakternya. Kita bisa merasakan vertigo saat Farrier dan Collins bertempur di udara, mabuk laut di atas kapal Mr. Dawson, dan claustrophobic berama Tommy. Berkolaborasi dengan efek suara, musik latar dari Hans Zimmer pun tedengar lebih atmosferik ketimbang bombastis seperti biasanya. Menjadikan Dunkirk sebagai sebuah sinergi antara audio dan visual secara tepat guna.

Ada alasan memang mengapa Nolan menginginkan filmnya disaksikan dalam format 70 mm atau setidaknya IMAX, karena dengan demikian realisme akan lebih terinsepsi di benak penonton Dunkirk (meski jika tidak terlalu beruntung untuk mengakses ke dua format tadi, menyaksikannya di layar lebar yang lebih umum juga masih cukup layak).

Terlepas dari pencapaian aspek teknis mengagumkan, Dunkirk menjadi gemilang karena ia berbicara tentang humanisme dalam bentuk paling mendasarnya, bukan penonjolan subjek tertentu. Oleh karenanya, berlawanan dengan pakem 3 babak tradisional, Nolan membuka film langsung ke bagian konflik dan seolah tak mau berhenti semenjak itu.

Selain segmen The Air, nyaris tidak ada adegan combat di sepanjang film. Bahkan para musuh (Nazi Jerman tentu saja) tidak pernah diperlihatkan, meski eksistensinya tetap mengancam. Dan inilah penyebab Dunkirk terasa lebih dekat kepada film bencana ketimbang perang. Ia berbicara tentang situasi dan bagaimana sosok-sosok terlibat menemukan cara untuk keluar darinya. Bukan tentang pertempuran. Bukan tentang kemenangan. Namun bertahan hidup.

Perpaduan antara pemain-pemain pendatang baru relatif tak dikenal (terkecuali Styles pastinya) dan senior menjadi tawaran pas oleh Dunkirk sebagai penggerak ceritanya. Tiap aktor hadir dengan baik, tanpa harus saling menonjol antara satu sama lain atau tampil berlebihan, mengingat Dunkirk utamanya bukan tentang karakter-karakter itu sendiri.

Dialog minim mempertegas hal tersebut. Dunkirk memang diolah Nolan dalam pengaruh film bisu dan impresionisme. Jadi, ketimbang menjadi talkatif atau penuh eksposisi, penekanan adalah pada pengadeganan sedemikian rupa untuk memberi kedalaman dan dimensi.

Berbekal karakterisasi atau plot sederhana, Dunkirk justru kaya akan lapisan. Penghindaran pada skala cerita besar dan memberi penekanan pada sisi personal, membuat film lebih membumi, intim, dan menguarkan aspek humanisme secara tebal. Isolasi, semangat hidup, rasa marah, rasa takut, rasa putus asa, atau rasa lega, membaur dalam Dunkrik dan menjadi sebuah pengalaman emosional yang sungguh sulit untuk dilupakan.

Dunkirk

★★★★½☆

Advertisements