Film Review: B&B (2017)

Setahun lalu pasangan kekasih Marc (Tom Bateman, Murder on the Orient Express) dan Fred (Sean Teale, The Gifted) memenangkan kasus melawan pemilik penginapan bed-and-breakfast yang berlaku diskriminatif kepada mereka, Josh (Paul McGann, Alien 3). Kini Marc dan Fred telah menikah dan memutuskan untuk kembali ke penginapan yang sama. Mungkin mereka hanya ingin bernostalgia. Bisa juga ingin memamerkan kemenangan mereka kepada Josh. Terutamanya Marc yang sinikal.

Yang mungkin Marc dan Fred tidak sadari, tidak selamanya kemenangan membuat mereka di atas angin. Apalagi saat putra Josh, seorang remaja gay yang masih merahasiakan statusnya pada sang ayah, Paul (Callum Woodhouse, ) sepertinya terlibat dengan seorang tamu lain, seorang turis asal Rusia, Alexie (James Tratas), yang dicurigai Fred memiliki niat tidak baik kepada kaum gay.

Wajar Fred merasa peduli, karena sang remaja sempat mencurahkan perasaan pada dirinya. Sementara itu Marc cenderung mengacuhkan anggapan Fred dan disibukkan dengan “perdebatannya” dengan Josh yang seolah tak berkesudahan. Sampai kemudian mereka menemukan sesuatu yang mengarahkan kecurigaan Fred pada kebenaran.

Demikian premis B&B, sebuah film yang menandakan debut film bagi sutradara veteran televisi Inggris, Joe Ahearne (Dr. Who, Apparitions, Ultraviolet). Mengingat Ahearne sebenarnya sudah memiliki jam terbang tinggi, tidak mengherankan jika B&B begitu terpoles sebagai sebuah film perdana. Tidak ada kesan amatir canggung memenuhi film. Alur berjalan dengan presisi rapi, terjaga dan sangat melibatkan emosi penonton.

Bahkan semenjak adegan pertama B&B sudah mengikat, baik melalui cerita maupun karakter-karakternya. Padahal tempo sebenarnya bergerak dengan cukup perlahan, terutama di paruh awal, namun tidak pernah merasa membosankan. Lokasi terbatas ala chamber drama sama sekali tidak mengungkung. Malah memberi penekanan pada aspek claustrophobic yang ingin dibangun.

Sebagai thriller, Ahearne tidak ingin penonton segera disodorkan adegan aksi dengan begitu saja, sehingga alur sengaja merambat di awal. Dinamika di antara karakter membangun rima ketegangan dalam alur.  Dengan cermat Ahearne mengeksplorasi antisipasi dan ekspektasi yang sukses dieksekusinya nyaris di sepanjang durasi film.

Intensitas sebuah thriller akan terasa semakin nyata jika karakter-karakternya membumi dan lekat dengan realitas. Demikian yang tergali dalam B&B. Ditambah pula setiap karakter tidak dihadirkan secara satu dimensi atau hitam-putih, sehingga kemudian batasan antara protagonis dan antagonis menjadi kabur. Film memilih untuk tidak memihak dengan setiap kubu diberi kesempatan untuk memaparkan argumentasi mereka.

Jelas Ahearne bersandarkan pada pakem klasik Hitchcock dalam B&B. Dengan plot berkelok-kelok tanpa diduga dan mengutamakan paranaoia sebagai adonan kisahnya, ia dengan efektif mengaduk-aduk emosi. Bukan tanpa klise di genre thriller juga, tapi tidak terlalu menyolok atau menyita perhatian.

Kekuatan utama B&B tidak hanya dalam sisi suspensinya saja. Sebagai drama ia pun tak kalah gemilang. Dengan premis yang sebenarnya relatif sederhana, B&B sanggup berbicara secara bernas tentang permasalahan sosial yang faktual dan penting.

Praduga, prejudice dan stereotipe menjadi polemik penting dalam B&B. Setiap karakter dalam film, tanpa pengecualian, bermain dengan perspektif. Dan sebagaimana umumnya perspektif, cenderung subjektif bahkan sempit. Saat kebenaran kemudian terungkap, biasanya sudah terlambat untuk melakukan yang semestinya.

B&B adalah sebuah film kecil yang ternyata memuaskan. Sebuah thriller ia menegangkan. Sebagai studi karakter ia mencerahkan. Sebagai komentar sosial ia membuka mata. Sebagai drama keluarga ia menohok. Pada akhirnya akting menawan para pemain hanya menjadi bonus, saat substansi yang ingin disampaikan berhasil dieksekusi dengan brilian.

Sayang untuk dilewatkan!

B&B
★★★★☆
Advertisements