Film Review: Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

Diangkat dari novel sukses tulisan Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta (2008) tercatat sebagai salah satu film terlaris di box office Indonesia (dengan lebih dari 3 juta penonton). Terlepas dari kekurangannya, kisah melodrama haru-biru dalam Ayat-Ayat Cinta sudah memiliki epilog bulat dan tidak perlu dilanjutkan lagi. Namun sebuah film sukses biasanya memiliki ekor sekuel. Oleh karena itu, nyaris satu dekade kemudian hadirlah Ayat-Ayat Cinta 2.

Materi cerita masih diangkat dari novel El Shirazy, dengan Fedi Nuril melanjutkan perannya sebagai Fahri Abdullah, pria santun, cerdas yang begitu dicintai banyak orang. Sayang ia harus berpisah dengan sang istri tercinta, karena Maria hilang di jalur Gaza.

Walau resah, Fahri tetap melanjutkan hidup, termasuk menjadi pengajar di sebuah universitas di kota Edinburgh, Skotlandia. Ia tinggal bersama asistennya, Hulusi (Pandji Pragiwaksono), serta temannya Misbah (Arie Untung) di sebuah rumah mewah yang berada di tengah lingkungan dengan latar cukup beragam.

Seperti diduga, kehidupan Fahri tidak terlepas dari belitan banyak perempuan dan memberi warna dalam hidupnya, meski utamanya adalah Hulya (Tatjana Saphira) yang ceria, Keira (Chelsea Islan) yang tampak sangat membencinya, Brenda (Nur Fazura) yang terbuka, juga Sabina (Dewi Sandra) yang misterius.

Ada pula sub-plot tentang Fahri menolong seorang nenek berdarah Yahudi, Catarina (Dewi Irawan), dari rongrongan anak tirinya, Baruch (Bront Palarae).

Berbicara tentang sub-plot, bisa dikatakan paruh pertama film berdurasi 125 menit ini dipenuhi dengannya. Naskah tulisan Alim Sudio bersama Ifan Ismail seperti terdiri atas rangkaian fragmen ketimbang menghadirkan plot utuh. Sudah jauh film berjalan, tapi masih belum diketahui ia hendak berbicara tentang apa. Komentar sosialkah? Atau romansa? Atau glorifikasi sosok Fahri? Terjadi pergesekan di antara mereka tanpa ada yang benar-benar menonjol atau berkesan.

Ini menjadikan Ayat-Ayat Cinta 2 terasa mengambang dan kehilangan arah. Setidaknya pengarahan dari Guntur Soeharjanto sebagai sutradara masih mampu menjaga atensi untuk tetap terjaga. Ritme film mengalir renyah dan relatif dinamis, meski sebenarnya materi ceritanya tipis. Beruntung juga Soeharjanto didukung Yudi Datau sebagai sinematografer. Oleh karenanya, secara visual film terlihat sinematik dan menawan, dengan lanskap eksotis Edinburgh ditangkap Datau dengan efisien serta fungsional, tanpa harus terjebak dalam atmosfer turistik.

Memasuki paruh kedua barulah Ayat-Ayat Cinta 2 mulai menunjukkan rupa sebenarnya: melodrama. Tentunya, sebagaimana umumnya sebuah melodrama, film mengandalkan eskalasi emosional melalui paparan narasi berliku-liku. Kadang memang sukses membangun rasa haru. Tapi ternyata juga sering membuat kita memutar bola mata karena absurd dan konyolnya logika cerita. Tunggu sampai adegan klimaks yang membuat film mendadak menjadi fiksi-ilmiah twisted, seolah mau bersaing dengan The Skin I Live In karya Pedro Almodovar.

Inkoherensi dalam Ayat-Ayat Cinta 2 memang fatal. Namun dia relatif tidak membosankan. Tentu saja glorifikasi Fahri masih menegaskan fantasi maskulinitas ideal versi El Shirazy sebagai pereka cerita. Formulasinya masih menyebabkan karakternya berjarak dan tidak membumi. Setidaknya bangunan cerita kini tidak terlalu misoginistik atau mengagungkan patriarki seperti pendahulunya.

Didukung barisan pemain dengan performa akting cukup baik, penyutradaraan atraktif, visual memanjakan mata, serta tata musik proporsional, berbagai kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2 masih bisa ditoleransi. Hanya saja, hasil akhir film memvalidasi asumsi awal: eksistensinya sama sekali tidak diperlukan.

Ayat-Ayat Cinta 2
★★½☆☆☆
Advertisements