Film Review: The Commuter (2018)

Dalam revival karirnya dengan menjelma menjadi bintang laga, kolaborasi Liam Neeson bersama sutradara Jaume Collet-Serra mungkin adalah paling berkesan. Hingga tidak heran jika mereka telah bekerja sama dalam 3 buah film sukses (Unknown, Non-Stop, Run All Night). Kini bertambah lagi dengan termutakhir, The Commuter.

Sebenarnya premis The Commuter familiar dengan Non-Stop, di mana karakter diperankan Neeson kembali harus terjebak dalam sebuah konspirasi yang terjadi di alat transportasi umum. Neeson tentunya harus membersihkan namanya sekaligus menemukan pelaku sebenarnya dan apa motivasinya.

Meski begitu, selepas The Shallows (2016), Collet-Serra semakin memantapkan statusnya sebagai sutradara dengan seting terbatas dan penggalian sisi menegangkan secara prima, terlepas dari plot sedikit konyol kalau tidak mau disebut mengada-ada. Oleh karenanya, kemiripan The Commuter dan Non-Stop mampu termaafkan, karena Collet-Serra berhasil mengeksekusi thriller menegangkan sekaligus enak dinikmati.

Neeson adalah Michael MacCauley, 60 tahun, telah menjadi seorang pelaju selama 10 tahun terakhir. Pada suatu hari, tepat di saat ia dipecat dari pekerjaannya sebagai sales asuransi, dalam perjalan kereta menuju pulang ke rumahnya, seorang perempuan misterius bernama Joanna (Vera Farmiga) meminta Michael mencari seseorang dengan sebutan Prynne dengan imbalan sejumlah uang.

Michael kebetulan sedang terdesak masalah finansial sehingga kemudian melakukan permintaan Joanna. Namun, saat ia kemudian hendak membatalkan, Joanna memastikan Michael tidak bisa menolak dengan ancaman dilayangkan pada keselamatan istri Michael, Karen (Elizabeth McGovern) dan putra remaja mereka, Danny (Dean-Charles Chapman).

Untungnya, sebagai mantan polisi Michael masih memiliki teman di departemen tersebut, yaitu Detektif Alex Murphy (Patrick Wilson). Selepas menjelaskan situasi pada Alex melalui ponsel, Joanna kemudian memastikan Michael untuk tidak melakukan “kesalahan” sama dan memaksanya untuk meneruskan “misi” yang telah ditugaskan padanya sampai tuntas.

Bagi yang sudah menyaksikan Non-Stop, maka The Commuter memakai alur setipe; memadukan kisah bencana alat transportasi dengan thriller paranoia ala Alfred Hitchcock dan misteri seperti Agatha Christie. Hanya saja dengan seting kereta api, maka film terlihat seperti perpaduan antara Strangers on a Train (1951), salah satu karya klasik Hitchcock, dengan Murder on the Orient Express milik Christie yang baru saja dihadirkan kembali dalam bentuk film oleh Kenneth Branagh. Divariasikan pula dengan Lifeboat dan North by Northwest, yang juga bagian karya-karya terbaik Hitchcock.

Seperti biasa, thriller psikologis ala Collet-Serra lebih lekat ke ranah aksi ketimbang drama subtil, sehingga dipastikan The Commuter akan dipenuhi oleh banyak adegan laga menegangkan, sementara kedalaman cerita dan karakterisasi agak dipinggirkan. Tapi film patut dipuji karena memutuskan untuk menyimpan amunisi laganya di paruh akhir film, karena paruh awal dengan telaten digunakan untuk membangun kerangka plot dan juga atmosfer.

Menariknya lagi, meski berstatus sebagai film popcorn ringan, naskah tulisan Byron Willinger, Philip de Blasi dan Ryan Engle menyempatkan untuk menyisipkan berbagai komentar sosial bernas. Padahal ia dibungkus dalam kemasan pop, namun beberapa catatan, seperti tentang kondisi perekonomian (Amerika Serikat) terkini atau korupsi di badan pemerintahan, dihadirkan secara mulus. Selain tentunya membuat alur tipisnya menjadi lebih berdinamika.

Cerita tipis adalah kelemahan terbesar The Commuter. Meski diusahakan berliku-liku, dengan twist dan red herring sebagai imbuhan, ia gampang tertebak. Meski begitu, penggarapan efisien Collet-Serra membuat film senantiasa renyah disimak. Tampaknya kolaborasi bersama Neeson sudah menemukan ritmenya, sehingga padu dan kompak. Neeson sendiri masih cakap diandalkan sebagai action hero.

Barisan pendukungnya juga hadir dengan meyakinkan. Vera Farmiga, yang reuni dengan Collet-Serra selepas Orphan di tahun 2009, sudah tak usah diragukan lagi kualitas aktingnya. Dan mungkin sebenarnya adalah sebuah kesengajaan Patrick Wilson, rekan Varmiga dalam franchise The Conjuring, turut disertakan pula di sini.

Menyaksikan The Commuter memang tidak akan membuat kita lantas merasa takut untuk menaiki kereta api, sebagaimana Jaws membuat takut pergi ke pantai atau Twister membuat ngeri akan tornado misalnya. Cekaman teror The Commuter tidak seefektif itu. Namun, sebagai sebuah film thriller hiburan, tetap saja tawaran ketegangannya sanggup memberi impresi lebih, sehingga boleh jadi menambah daftar film aksi berkesan (dan bahkan klasik)  dari seorang Liam Neeson.

The Commuter
★★★½☆☆
Advertisements