Film Review: Pai Kau (2018)

Setelah wara-wiri sebagai sinematografer dan mengerjakan beberapa film pendek, akhirnya Sidi Saleh mempersembahkan film panjang pertamanya. Dan dalam Pai Kau, demikian judulnya, Sidi cukup berani dalam mengambil ide cerita diangkat dari salah satu komunitas etnis Indonesia yang biasanya jarang diangkat ke layar lebar, Tionghoa.

Ada sisi menarik menarik lain pula dengan pilihan Sidi di film panjangnya ini. Dikenal sebagai penata kamera untuk film-film artistik karya Edwin seperti Babi Buta Yang Ingin Terbang hingga Kebun Binatang dan film-film pendek bercita-rasa setipe (Maryam, Fitri), Sidi justru menggunakan pendekatan lebih komersil dan bertujuan sebagai hiburan dalam Pai Kau. Tidak ada salahnya tentu saja.

Film berkisah tentang seorang perempuan muda Siska (Ineke Valentina) yang gelisah mendengar kabar pernikahan Edy (Anthony Xie) bersama Lucy (Irina Chu). Ia mencoba segala cara untuk bisa menghadiri prosesi pernikahan Edy dan Lucy. Sementara itu Edy, pemuda tampan berwatak playboy, harus siap menghadapi fakta bahwa sang calon mertua, Koh Liem (Tjie Jan Tan), selain pengusaha juga terlibat dalam aktivitas dunia hitam.

Bukan tidak ada, namun film dengan sudut pandang datang dari kalangan Tionghoa memang jarang diangkat di perfilman Indonesia. Yang cukup berkesan mungkin adalah Ca-bau-kan (2002) karya Nia Dinata. Ada juga film horor Karma (2008) atau drama berlatar 1998, May (2008). Bahkan drama Silent Hero(es) (2015) memakai dialog dengan mayoritas bahasa Mandarin. Bicara tersukses, beberapa komedi karya Ernest Prakasa, Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2016), terlintas di benak.

Beberapa film ini bolehlah menjadi perwakilan dalam memberi gambaran sosio-kultural etnis Tionghoa dan segala problematikanya di Indonesia. Bagaimana dengan Pai Kau? Mengusung konsep gado-gado (drama keluarga, suspens dan thriller-mafia), Pai Kau pun mencoba mencuplik sepotong kisah dari sosok-sosok berasal dari kalangan keturunan Tionghoa.

Selain embel-embel penggunaan bahasa Mandarin dan beberapa penggambaran adat-budaya, sayangnya potongan kisah sajian Pai Kau kerap terjebak pada streotipe dan tidak memberikan hal baru. Terlepas dari pernyataan Irina Chu, menjabat juga sebagai produser, dengan menyebutkan Pai Kau sebagai perpaduan unsur-unsur yang belum pernah dipakai di Indonesia sebelumnya, yaitu cerita suspens dengan latar belakang Tionghoa-Indonesia (bisnis.com, 21 Desember 2017), tetap saja filmnya memaparkan klise-klise dengan santer.

Keluarga Tionghoa bergelimang harta dengan kekayaan didapat dari aktivitas ilegal jamak menjadi anggapan umum di kalangan masyarakat Indonesia. Film terkesan hadir hanya untuk menegaskan hal tersebut meski mungkin validitasnya bisa jadi diragukan mengingat pendekatan Pai Kau lebih mengingatkan film-film gangster Hong Kong era 80-an dengan segala sensasionalitasnya.

Apalagi sepertinya Sidi masih gamang menentukan gaya bertutur lebih pas untuk film sejenis ini. Dari awal hingga pertengahan ia terlihat gagap dalam bertutur. Ritme film terpatah-patah dan berlarat sehingga terasa agak membosankan. Belum lagi dialog terdengar seperti barisan kalimat yang hanya diucapkan karakter dalam film ketimbang organis layaknya keseharian. Tidak heran jika karakter-karakternya terasa karikatural alih-alih riil.

Sebagai suspens, ia tidak memiliki bangunan cerita kuat. Film lebih memberi penekanan pada melodrama ketimbang memberi pengantar atau latar untuk suspensi yang nantinya akan dihadirkan. Beberapa adegan mungkin tidak diniatkan sebagai komedi, tapi kegagapan Sidi dalam mengeksekusi justru mencetuskan tawa.

Memasuki pertengahan, barulah film bertutur dengan lebih baik. Editing menjadi lebih rapi sehingga alur bisa lebih lancar. Akting yang awalnya terasa kaku mulai mencair sehingga film relatif lebih enak untuk dinikmati.

Meski begitu secara narasi tetap tidak ada dinamika istimewa dalam Pai Kau. Kejutannya terlalu tertebak. Masalah cacat logika juga masih mendera film. Belum lagi plot yang mengulur-ulur ketimbang padat dan rapat. Tidak heran dengan durasi “hanya” 86 menit, film justru terasa sangat panjang dan terkadang melelahkan.

Pai Kau bukannya tanpa hal menarik untuk dipetik. Karakter keturunan Tionghoa yang biasanya hanya menjadi pendamping kini menjadi pusat dan utama. Filosofi Pai Kau, yang diambil dari permainan semacam domino disampirkan cukup pas dengan unsur tematik film. Menarik juga bagaimana film mencoba menggambarkan ketercerabutan generasi muda Tionghoa dengan akar budaya mereka, meski hanya sebatas penggunaan bahasa Mandarin antara kalangan tua dan bahasa Indonesia untuk generasi muda.

Konflik dan nilai-nilai intrinsik film cenderung bersifat masih terlalu umum dan bisa berlaku di kelompok apa saja. Hasilnya perspektif kultural film hanya di permukaan tanpa ada upaya penggalian secara mendalam. Tidak harus sosiologis apalagi antropologis juga, tapi setidaknya khas dan khusus agar Pai Kau berbeda dengan film lain dengan usungan tema sama.

Pada akhirnya Pai Kau menjadi film tanggung. Tidak begitu jelas maunya apa. Sebagai drama polanya tertebak. Sebagai thriller intensitasnya nyaris datar. Sebagai film dengan kandungan etnosentris ia dangkal. Kalau memang ingin melongok kehidupan komuitas Tionghoa-Indonesia, judul-judul tersebut di atas boleh menjadi pilihan ketimbang Pai Kau, sebuah film dengan modal untuk menjadi film berkesan, namun kemudian hanyalah sebuah kisah semenjana dan gampang terlupakan.

Pai Kau
★★½☆☆☆
Advertisements