Film Review: Lady Bird (2017)

Keras kepala, suka menentang, namun rapuh, merupakan klise untuk “teenage angst” dalam film-film remaja. Lady Bird, debut penyutradaraan Greta Gerwig secara solo, masih menghadirkan pendekatan sama untuk karakter utamanya, Christine McPherson (Saoirise Ronan), seorang gadis berusia 17 tahun yang bersikeras untuk dipanggil dengan Lady Bird.

Lady Bird adalah anak kedua dari pasangan Marion dan Larry McPherson (Laurie Metcalf dan Tracy Letts). Jika hubungannya dengan sang ayah relatif harmonis, maka Marion cenderung kerap bersitegang dengan ibunya. Hubungan penuh aral antara ibu dan anak inilah yang mendominasi narasi Lady Bird.

Sementara itu film juga mengeksplorasi kehidupan sosok Catherine sebagai remaja, termasuk hubungannya bersama sang sahabat, Julie (Beanie Feldstein) dan dua remaja laki-laki, Danny (Lucas Hedges) dan Kyle (Timothée Chalamet).

Menurut Gerwig, sebenarnya ia sudah mengerjakan naskah setebal 350 halaman dan menampilkan banyak karakter pendukung lain dalam Lady Bird. Mungkin menarik jika Lady Bird diniatkan sebagai mini seri misalnya, tapi Gerwig rupanya cukup bijaksana untuk memangkas sebagian besar sub-plot karena film akhirnya memiliki fokus lebih solid.

Mengaku terinspirasi dari kehidupannya semasa remaja, Gerwig memang masih mengandalkan formula coming-of-age familiar dalam Lady Bird. Baik plot hubungan Christine bersama sang bunda maupun rekan-rekannya sesama remaja memiliki dinamika tertebak. Aspek tematisnya sudah pernah dibahas di berbagai film-film sebelumnya. Menjadi pembeda saat Gerwig memutuskan untuk menghindari sensasionalitas dalam ceritanya dan lebih memilih mengadopsi alur lebih membumi.

Tidak heran jika membuat kita merasa sangat lekat dengan film saat menyaksikannya. Oleh karenanya, Lady Bird tampak menonjol ketimbang rekan-rekannya mengingat betapa lekatnya dengan keseharian kisah serta karakter dalam film.

Berseting sekitar tahun 2002 hingga 2003, Lady Bird merasa kampung halamannya, Sacramento, sangat membosankan. Ia berangan-angan bisa berkuliah di kawasan East Coast sembari membayangkan kehidupan dewasanya sebagai penulis di kota New York. Marion bukannya tidak suka dengan cita-cita anaknya. Hanya saja ia mencoba bersikap realistis, mengingat kurang mendukungnya kondisi perekonomian mereka. Harus diakui juga kalau ada sisi pesimis Marion akan idealisme Lady Bird.

Fluktuasi dramatik inilah kemudian secara cermat dikomposisikan Gerwig. Dan sungguh sebuah kematangan yang diperlihatkan Gerwig sebagai sutradara, meskipun Lady Bird adalah debutnya dalam penyutradaraan secara mandiri (ia sebelumnya menjabat sebagai co-director untuk Nights and Weekends, 2008). Mungkin karena jam terbangnya sudah cukup tinggi di dunia akting, serta kerapnya berada di bawah arahan sutradara kaliber seperti Noah Baumbach, membuat Gerwig mampu menyerap ilmu pengarahan film dengan baik.

Keterlibatan Gerwig dengan gerakan Mumblecore di pertengahan 2000-an tampaknya juga memberi pengaruh dalam gaya sinematisnya. Dengan demikian Gerwig bisa menghindari Lady Bird jatuh ke ranah film remaja penuh sentimentalitas murahan. Dengan pendekatan emosional tertahan serta jukstaposisi adegan relatif sederhana, Lady Bird justru terasa segar dan mengesankan.

Gerwig tepat memilih Ronan untuk mewujudkan Lady Bird menjadi sosok manusia utuh. Kedalaman, bobot dan dimensi didedikasikan Ronan secara prima, sehingga Christine McPherson alias Lady Bird begitu hidup, bukan lagi sebuah karakter dalam film. Sebagaimana Gerwig, meski berusia muda belia, jam terbang Ronan juga sudah cukup tinggi dan dengan kualitas akting sudah terbukti. Dua nominasi Academy Awards sudah diraihnya (Atonement, Brooklyn), sehingga tidak heran Ronan menyabet nominasi ketiganya berkat Lady Bird.

Sedang Metcalf sendiri adalah aktor dengan pengalaman 4 dekade dalam berakting, baik di film, televisi maupun panggung teater, sehingga memiliki stamina prima sebagai “lawan tanding” bagi Ronan.

Secara bersama Ronan dan Metcalf kemudian mempersembahkan tandem akting brilian. Interaksi mereka saat terjebak friksi atau saat rukun begitu dinamis dan renyah. Lady Bird dan Marion bukanlah karakter heroik atau mudah untuk disukai, melainkan berada dalam wilayah dengan arsiran hitam-putih. Kadang kita mencintai mereka, sementara di saat lain membuat kita gusar.

Dengan kesederhanaan menjadi kekuatan, Greta Gerwig mempersembahkan sebuah debut penyutradaraan memuaskan melalui Lady Bird. Didukung akting kaliber dan penceritaan lugas, Lady Bird adalah sebuah film cerdas sekaligus sangat menyenangkan untuk disimak. Bahkan untuk berkali-kali lagi.

Lady Bird
★★★★☆
Advertisements