Film Review: Red Sparrow (2018)

Saat populasi film mata-mata didominasi asupan adrenalin berkat berbagai adegan laga seru, seperti seri James Bond atau Jason Bourne, senang tetap terselip “anomali” seperti Red Sparrow. Film dengan karakterisasi sebagai sentra, lebih mementingkan tensi dan suspensi, serta dibalut cerita bernas dan tikungan di setiap sudutnya. Semakin menarik mengingat ia diangkat dari novel berjudul sama karangan mantan agen CIA betulan, Jason Matthews.

Jennifer Lawrence adalah sang Red Sparrow. Bernama asli Dominika Egorova, awalnya ia adalah seorang balerina bermasa depan cerah. Sebuah insiden menyebabkan masa depannya mengubah haluan dan Dominika harus bergabung bersama Sparrow, sebuah sekolah agen rahasia binaan dinas intelijen Rusia, SVR. Dalam asuhan sang Matron (Charlotte Rampling, splendid as usual), Dominika belajar tentang “potensi” barunya.

Selanjutnya ia mendapat tugas dari Ivan Dimitrevich Egorov (Matthias Schoenaerts), salah satu petinggi SVR sekaligus pamannya, untuk mendekati seorang agen CIA bernama Nate Nash (Joel Edgerton) guna mendapatkan nama mata-mata Amerika yang disusupkan di intelijen Rusia. Sebagaimana diduga, permainan akal-akalan antara Dominika dan Nash berbuah pada rasa romansa.

Secara permukaan sebenarnya tidak ada tawaran baru dalam Red Sparrow. Bagi yang kerap menyaksikan film-film sejenis, twist-and-turn di dalamnya sudah cukup sering dibahas. Apalagi bagi penggemar karya-karya John le Carré. Meski begitu, tetap saja Red Sparrow adalah sebuah suguhan mendebarkan, memikat dan mengikat.

Sebelum Francis Lawrence didapuk sebagai sutadara, Darren Aronofsky dan David Fincher sempat berminat untuk menggarap Red Sparrow. Tidak tahu bagaimana hasilnya di tangan sutradara disebut pertama, namun sepertinya jika diolah Fincher maka Red Sparrow akan menjadi sebuah thriller psikologis prestisius dan tak terlupakan.

Bukannya versi Lawrence tidak berkualitas atau gampang terlupakan, hanya saja tidak dinafikan kalau sang sutradara ini memang lebih kerap mementingkan gaya ketimbang substansi. Hal tersebut masih teraba dalam film. Biarpun begitu, harus diakui pula jika Lawrence mampu membungkus Red Sparrow sebagai sebuah tontonan ala “popcorn” yang berkelas dan tidak dangkal.

Kabarnya materi novel Matthews sangat kaya dan kompleks, sehingga akan agak sulit untuk diterjemahkan dalam ventuk narasi visual. Naskah tulisan Justin Haythe (Revolutionary Road, A Cure for Wellness) disebutkan sedapat mungkin setia dengan versi aslinya. Jadi, walau mungkin tidak sekompleks aslinya, Red Sparrow versi film bukanlah sekedar oversimplifikasi karena kita dapat merasakan tekstur plot penuh lapisannya dieksekusi cukup mulus dan lancar.

Durasinya cukup panjang, 140 menit, tetapi Red Sparrow tidak pernah melelahkan atau membosankan. Padahal durasi lebih banyak dihabiskan dalam dialog ketimbang aksi. Selain kredit harus diberikan pada pengarahan Lawrence, tentunya juga kepada Jennifer Lawrence. Film reuninya bersama sutradara The Hunger Games seri 2 sampai 4 ini berhasil karena komitmen Jennifer akan tugasnya sebagai penggerak alur.

Oleh Jennifer Dominika Egorova tidak pernah menjadi karikatur kendati ada tendensi laten untuk itu. Jennifer meniupkan ruh untuk Dominika sehingga terasa hidup dan manusiawi.  Secara jeli Dominika Egorova dihadirkan Jennifer sebagai femme fatale yang selain cerdas juga memanfaatkan feminitas sebagai kekuatan ketimbang mengandalkan keuletan fisik belaka. Berkat Jennifer, kita tersedot setiap tindak-tanduk Dominika.

Dan Red Sparrow disangga pula oleh barisan aktor pendukung tak kalah brilian. Mulai dari Edgerton, Schoenaerts, Rampling hingga Ciaran Hinds dan Jeremy Irons memberi nuansa untuk karakter-karakter mereka. Sebagaimana Jennifer, mereka memberi kesan membumi untuk setiap figur yang bisa jatuh kepada arketipe dua dimensi untuk film sejenis ini.

Selain tema tentang ambiguitas, Red Sparrow lebih berpusat pada Dominika dan setiap pilihan yang diambilnya. Ia bukan sekedar alat untuk eksploitasi gerak-gerik spektakuler. Menyegarkan memang saat karakter utama perempuan dalam sebuah film espionase tidak harus terlihat “berdaya” melalui mimikri rekannya, agen rahasia laki-laki (Salt dan Atomic Blonde contohnya). Bukannya karakter peranan Jennifer absen dalam aksi, hanya saja film lebih peduli untuk menampilkan dirinya sebagai manusia beserta segala keterbatasan, kelemahan juga kekuatannya.

Pada beberapa bagian Red Sparrow sekilas terlihat seksis bahkan misoginistik. Hanya saja, jika dicermati lebih teliti, ia justru memberi kecaman untuk perlakukan sistem patriarki pada kaum perempuan. Dengan lihai sekaligus subtil Red Sparrow kemudian memperlihatkan bagaimana posisi perempuan sebagai objek justru dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk memutar balik keadaan. Inilah yang membuat Red Sparrow mencorong, terlepas beberapa kelemahannya.

Bukan kebetulan jika Lawrence agak terpengaruh bangunan suspensi ala Hitchcock dalam Red Sparrow (termasuk musik latar James Newton Howard yang mengingatkan akan Bernard Herrmann). Sehingga, walau berseting kontemporer, film memberi impresi klasik. Mirip film-film spion berlatar Perang Dingin. Mungkin ini berlebihan, tetapi boleh jadi Red Sparrow memberi peringatan, meski Perang Dingin sudah berdake-dekade lamanya usai, namun lewat iklim politik Amerika-Rusia yang kembali menghangat akhir-akhir ini, kita tidaklah benar-benar keluar dari ketegangan para negara adidaya tersebut. Menarik!

Red Sparrow
★★★★☆
Advertisements