Film Review: Love For Sale (2018)

Amy Dunne, tokoh rekaan Gillian Flynn dalam Gone Girl, menyebutkan jika laki-laki suka dengan “cool girl”. Cewek keren. Cewek yang tidak pernah marah pada pacarnya. Cewek yang selalu bertingkah manis, penurut dan murah senyum. Dan kemudian membuka mulutnya untuk disetubuhi. Cewek yang suka dengan apa saja kesukaan pacarnya. Impian semua laki-laki, bukankah begitu? Tapi di mana mencarinya? Tenang, karena dalam Love For Sale, film terbaru Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Mata Dewa), aplikasi kencan Love.Inc akan mewujudkannya. Dengan modal beberapa juta rupiah saja dan cewek keren tadi bisa kamu miliki.

Love.Inc adalah solusi terbaik bagi Richard Ahmad Widjaja (Gading Marten), pria lajang 41 tahun berwatak keras pemilik sebuah usaha percetakan. Tantangan dari teman-teman nongkrongnya membuat Richard berusaha keras mendapat pasangan. Tuhan menjawab doanya dengan memberikan solusi, Love.Inc. Maka muncullah Arini (Della Dartyan), sang cewek keren.

Awalnya untuk kepentingan semalam, Arini kemudian sukses membujuk Richard untuk menyelesaikan “kontrak” 45 hari mereka. Walhasil, siang-malam bersama Arini, sisi getir Richard akan cinta perlahan terkikis. Arini memang mengerti dirinya. Memanjakan. Penuh kasih sayang. Perhatian. Pintar. Suka sepak bola pula. Sempurna! Sampai kemudian Arini menghilang.

Ann Coulter pernah menegaskan anggapan umum kalau kaum perempuan adalah sebuah pengaruh beradab kepada laki-laki. Oleh karena itu, tidak heran Love For Sale punya premis familiar: pria keras hati yang melembut karena bertemu sosok perempuan tertentu. Perempuan yang mampu melemahkan perasaanya. Dalam Love For Sale, perempuan itu adalah Arini. Kelembutan dan sifat pengertiannya makbul dalam menguak sisi humanis Richard. Bolehlah dikatakan bersama Arini, Richard telah menemukan kehidupan terbaiknya.

Sebagai pendatang baru, Della Dartyan efektif memerankan arketipe cewek keren tadi. Siapa tidak luluh hatinya oleh Della sebagai Arini? Ketulusannya terasa jujur. Della cukup cerdas dalam tugasnya untuk senantiasa membalur Arini dengan ambiguitas: apakah benar jujur atau sejatinya artifisial?

Gading Marten pun tak kalah baik dalam menghadirkan pria kebanyakan dengan segala catatan plus-minusnya. Transisinya dari pria kasar menjadi lembut cukup mulus dan meyakinkan. Ikatan kimianya bersama Della pun tebal dan menguar kuat sehingga penonton bisa merasakan sensasi jatuh cinta tersebut.

Saking jatuh cintanya Richard sehingga menafikan fakta kalau Arini sebenarnya dibayar untuk bersama dirinya. Membutakan, sehingga Richard tidak ingat sebenarnya Arini berasal dari Pacitan, Kediri, Tulungagung atau Ngawi? Bisa jadi sebenarnya Richard memang sadar akan kaburnya detil kehidupan Arini, namun menolak tegas masuk dalam benaknya, karena terpenting bagi dirinya adalah Arini senantiasa ada bersamanya. Lagi-lagi ambiguitas.

Bermain-main dengan ambiguitas menyebabkan Love For Sale menjadi sebuah drama-komedi-roman berbeda dari kebanyakan. Tidak sekedar bermanis-manis romantis, tapi juga mengusung tentang getir atau patah hati, baik terhadap cinta atau hidup itu sendiri. Yusuf juga cukup baik dalam menghadirkan keintiman yang tampak begitu lekat, membumi dan humanis. Terasa nyata dan alami, baik di saat bahagia atau duka.

Richard sudah terlalu lama sendiri. Tak satupun perempuan yang ditemuinya sebelum Arini memenuhi seleranya. Arini adalah katalis untuk keinginannya. Hanya saja, jangan-jangan ia sebenarnya cinta akan ide dirinya hidup bersama perempuan idaman ketimbang mencintai perempuan tersebut secara tulus? Benarkah Love For Sale dalah kisah cinta antara Richard dan Arini atau Richard dengan dirinya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan menarik. Namun begitu, Love For Sale tidak tertarik untuk begitu membahasnya secara tuntas. Walhasil ambiguitas di dalam film cenderung teraba sebagai kebingungan tentang apa sebenarnya hendak diangkat. Ada misteri sebenarnya, walau kurang tergali karena bangunan suspensinya nyaris absen, mengingat film lebih memilih untuk berputar-putar pada romansa Richard dan Arini. Oleh karenanya, pemilihan film untuk menghadirkan semangat anti-klimaks terasa setengah matang alias tanggung, ketimbang koheren secara substansi.

Kisah cinta Richard dan Arini memang manis romantis. Tidak heran kita sebagai penonton akan merasa berbunga-bunga menyaksikan kemesraan mereka, meski kemudian menafikan fakta jika sebagaimana Richard, kita tidak mengenal siapa itu Arini sebenarnya. Perwatakannya hanya di permukaan. Film tidak memberikan kesempatan bagi Arini untuk menjadi karakter utuh, hidup dan berjiwa, selain sebagai sebuah prototipe “cewek keren”. Arini ekedar pelengkap untuk kisah seorang Richard. Sederhananya, sebuah alat untuk plot.

Disayangkan memang, karena sebagai drama dewasa Love For Sale cukup menarik. Meski paruh pertama terasa agak bertele dan bagian terakhir terasa tergesa, namun rima dan ritme film berjalan cukup renyah. Kadang menggelitik. Kadang juga emosional. Aspek dramatiknya pun tidak terlalu dramatis-sentimentalis.

Menilisik pernyataan Ammy Dunne di atas, seorang laki-laki merasa “bahagia” jika menemukan pasangan dengan sifat-sifat lebih inferior dibanding dirinya. Disengaja atau tidak, Love For Sale menegaskan asumsi tersebut. Pada akhirnya Love For Sale lebih seperti penegasan akan sauvinisme kaum pria yang nyaris misoginistik.

Perempuan hanya objek, entah sebagai pemuas nafsu, obsesi, atau semacamnya, serta tidak diizinkan sebagai manusia dengan ide, benak atau visi singular. Problematika ini tidak hanya diidap oleh Arini namun juga nyaris sebagaian besar karakter perempuan lain dalam film. Dengan demikian, terlepas dari kemasannya yang mengkilap, Love For Sale tidak lebih dari sebuah kisah tentang berdamai dengan diri sendiri yang dangkal dan dihadirkan melalui elaborasi dengan kecendrungan narsisistik.

Love For Sale
★★★☆☆
Advertisements