Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Pacific Rim adalah idealisme tersendiri bagi del Toro; sebuah tribut untuk kultur anime/manga, terutama untuk sub-genre robot super berukuran raksasa, mecha, dan kaiju, atau monster (yang tak kalah) raksasa. Sungguhpun bisa dikatakan cukup berhasil dalam memvisualkan nostlagia mecha vs kaiju tadi dalam bentuk live action, tetapi harus diakui Pacific Rim memiliki beberapa masalah, seperti terlalu serius dalam menanggapi dirinya sendiri sehingga terkadang terkesan monoton.

Tidak mengherankan penerimaan pasar lokal untuk film tidak begitu sesuai dengan harapan. Kendati demikian, dengan sukses besar yang didapat film di wilayah internasional, khususnya Tiongkok, menjamin hadirnya sebuah sekuel. Del Toro awalnya berniat untuk tetap membidani langsung Pacific Rim 2. Karena sesuatu dan lain hal (mungkin karena proses pengembangan yang terlalu lama), akhirnya ia urung menjabat sebagai sutradara. Kiranya sungguh sebuah pilihan terbaik bagiPacific Rim jika ingin melanjutkan diri sebagai sebuah franchise.

Del Toro adalah seorang maestro. Siapapun tidak akan menafikan hal tersebut. Hanya saja visi dan estetika sinematik dirinya membatasi Pacific Rim untuk lebih total. Bukannya film berkisah tentang robot raksasa lantas meminggirkan drama humanis atau sisi filosofis begitu saja. Seri Neon Genesis Evangelion bisa menjadi misal. Namun tidak lantas membatasi kesempatan bagi kisahnya untuk menjadi sesuatu yang spektakular. Dengan pengecualian adegan pertempuran dahsyat di Hong Kong, Pacific Rim terasa semenjana dan serba tanggung, baik di sektor drama maupun aksi.

Mungkin belajar dari “pengalaman lalu”, Steven S. DeKnight (Spartacus (TV), Daredevil (TV)) memangkas sisi drama bertele-tele dan memberi fokus pada plot tipis tapi efisien serta barisan adegan laga memukau. Aksi robot raksasa juga bukan hal asing bagi DeKnight karena sebelumnya sudah terlibat dalam franchise Transformers sebagai salah satu anggota tim Writer’s Room-nya.

Berseting tahun 2030, atau 10 tahun setelah film pertamanya, Pacific Rim Uprisingmemilih Jake Pentecost (John Boyega) sebagai karakter sentra. Menilik nama belakangnya, dipastikan jika ia adalah putra dari Jendral Stacker Pentecost (Idris Elba). Sebagaimana yang diproklamirkannya, Jake bukanlah ayahnya. Alih-alih mengabdikan diri pada Pan-Pacific Defence Corps (PPDC) sebagai pilot Jaeger, Jake memilih mencuri dan menjual relik Jaeger rusak di pasar gelap sebagai profesi.

Pertemuannya secara tidak disengaja bersama remaja Amara Namani (Cailee Spaeny) yang mampu membangun Jaeger mini menyebabkan ia kembali masuk dalam PPDC. Atas inisiatif kakak angkatnya, Mako Mori (Rinko Kikuchi), Jake kemudian menjadi pelatih kadet-kadet muda, termasuk Amara, bersama mantan mitra-pilotnya, Nate Lambert (Scott Eastwood).

Sementara itu, eksistensi PPDC terancam. Karena kaiju sudah tidak pernah terlihat lagi, juga karena muncul tawaran program drone milik Shao Liwen (Jing Tian) dari Shao Corporation yang siap menggantikan pilot manual Jaeger. Ada Dr. Newton “Newt” Geiszler (Charlie Day) pula yang mendukung proyek ini. Masalah muncul saat tiba-tiba muncul Jaeger misterius yang mengacau. Dan benarkah para alien yang melepas para kaiju berdiam diri saja tanpa ada rencana serangan susulan?

Naskah Pacific Rim Uprising, yang ditangani juga oleh DeKnight bersama Emily Carmichael, Kira Snyder dan T.S. Nowlin sebenarnya menyederhanakan terlalu banyak hal sehingga menyisakan pertanyaan ketimbang jawaban. Terlebih-lebih berkat beberapa lubang dan masalah logika di dalamnya. Plot juga berjalan dalam mode auto sehingga alurnya amat-sangat tertebak. Sedangkan karakterisasi nyaris satu dimensi dan beberapa cenderung karikatural.

Berbeda dengan pendekatan personal Pacific Rim, maka Pacific Rim Uprisingadalah sebaliknya. Jadi, meski beberapa karakter sentral sebenarnya memiliki latar relatif kompleks, naskah lebih memilih untuk mendangkalkan mereka. Tidak ada urgensi yang benar-benar bernuansa dalam motif mereka. Tidak menjadi masalah besar juga, karena setiap karakter utama memiliki relevansi dalam pengembangan alur. Substansial dan tidak ada yang mubazir.

Setiap aktor pun menjalankan tugas mereka secara proporsional. Setidaknya cukup untuk membuat kita sebagai penonton merasa tertarik dan terikat dengan karakter yang mereka perankan. Dan tidak salah tim Star Wars memilih dirinya, karena Boyega memang memiliki kharisma untuk menggerakkan jenis film dalam skala seperti ini.

Tidak hanya efisiensi dalam soal alur atau karakterisasi, porsi laga dalam film juga dihadirkan dengan pas. Tidak berlebihan dan terlalu bombastis sehingga malah menjemukan karena seolah tidak berkesudahan sebagaimana kebanyakan adegan laga di film-film seri Transformers.

Bukannya Pacific Rim Uprising di beberapa bagian tidak mengingatkanTransformers; terkadang terlalu artifisial akibat terlalu meriahnya efek visual. Tetapi DeKnight ternyata mampu mengoperasionalkan para robot CGI ini menjadi sosok hidup.

Adegan-adegan laganya juga jelas (siang sebagai latar ketimbang malam dan hujan-hujanan seperti film pertama menjadi kontras yang layak disambut hangat) dengan koreografi menarik dan tertata rapi. Paling esensial dan terpenting, ada bobot dan intensitas dalam setiap adegan aksi berbasis efek visual dalam Pacific Rim Uprising, sehingga terlihat meyakinkan dan pastinya seru mendebarkan.

Pacific Rim Uprising menegaskan dirinya sebagai film komik dan tidak memiliki pretensi lebih dari itu. Di tengah trend blockbuster beratmosfer serba gelap dan penuh pesan politis, ia memilih untuk bersenang-senang daripada dibebani tendensi tersebut. Ia menawarkan hiburan, maka hiburanlah hidangannya. Tidak bergizi tinggi mungkin, tapi mengenyangkan. Itulah yang membuat dirinya menjadi memuaskan untuk disimak.

Pacific Rim Uprising
★★★½☆☆
Advertisements