Film Review: REUNI Z (2018)

“Daripada lo datang ke reunian gak jelas itu, mendingan lo ambil job emsi aja,” kata manajer aktor spesialias film murahan (setidaknya menurut sinopsis resmi fim), Juhana (Soleh Solihun), kepada dirinya. Mungkin Juhana sebaiknya mendengarkan sang manajer, sehingga kita tidak harus mengalami mimpi buruk bernama REUNI Z.

Ini adalah upaya kedua komika Soleh Solihun sebagai sutradara selepas Mau Jadi Apa? (2017). Aksi komika merambah posisi jabatan sutradara ini sepertinya memang sedang nge-trend. Hanya saja sebaiknya dihindari karena terbukti sebagian besar dari mereka sama sekali tidak berbakat di belakang layar. Terutama untuk para komika dengan track-record materi lawakan tidak terlalu lucu seperti Soleh.

Komedi adalah film dengan tingkat kesulitan lumayan tinggi. Begitu juga horor. Memang dua genre ini biasanya bersandar pada masalah selera (berbeda-beda untuk setiap orang, tentu saja), namun tetap saja harus memenuhi paramater tertentu agar setidaknya bisa masuk kategori lumayan.

Untuk komedi, lawakan harus organis/natural tanpa terlalu mengandalkan gag menghina intelegensi dan pastinya memiliki comedic timing pas agar tidak terkesan canggung. Horor sendiri utamanya adalah bangunan atmosfer untuk menghadirkan kesan seram secara efektif, rasa antisipasi, juga menghindari jump scares murahan.

Meski begitu, entah mengapa selalu dianggap paling mudah dikerjakan, sehingga populasinya (terutama di skena film Indonesia) begitu meluber walau sebagian besar tidak memiliki kualitas memuaskan. Dengan tantangan tersebut, harus diakui kolaborasi kedua Soleh dengan sutradara dengan jam terbang tinggi, Monty Tiwa, cukup berani menyajikan perpaduan horor-komedi dalam kolaborasi kedua mereka ini.

Ceritanya Juhana menghadiri reuni SMA Zenith setelah 20 tahun menjadi alumni. Kembali ia bertemu dengan rekan-rekannya semasa nge-band di masa bersekolah, Jeffri (Tora Sudiro) dan Lulu (Ayushita Nugraha) yang kini sudah berstatus suami-istri dan Mansyur yang telah bertransformasi menjadi Marina (Dinda Kanya Dewi). Friksi menyebabkan hubungan di antara mereka menjadi renggang. Tentunya sebuah reuni adalah wacana tepat untuk rekonsiliasi. Apalagi ada ancaman rombongan mayat hidup alias zombie, sehingga mereka harus mengesampingkan perbedaan dan bersatu untuk bertahan hidup.

Ada tambahan beberapa karakter sampingan, seperti yang diperankan Fanny Fabriana, Surya Saputra, Dian Nitami, Anjasmara Prasetya atau pasangan remaja Cassandra Lee dan Kenny Austin. Tapi naskah tulisan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi tidak mau repot menghadirkan mereka lebih hanya sebagai plot device dengan dimensi seperti boneka kertas, terlepas ada upaya memberikan latar untuk masing-masing karakter sampingan ini.

Alur sederhana dan tertebak sebenarnya bukan masalah besar, seandainya di dalamnya ada dinamika dan ritme intens, sesuatu yang tidak dipunyai REUNI Z. Secara garis besar alur REUNI Z bisa dipaparkan menjadi dikejar zombie, lari-larian, sembunyi, ngobrol-ngobrol sedikit, dikejar zombie lagi, lari-larian lagi, ngobrol lagi dan begitu seterusnya.

Sedang sisi komedi REUNI Z sudah menjadi masalah saat sosok paling berkilau dalam melucu justru Dinda Kanya Dewi ketimbang Soleh Solihun (atau para komika sebagai cameo). Belum lagi pertautannya dengan sisi horor tidak meyakinkan dan kurang inspiratif.

Paham REUNI Z utamanya dimaksudkan sebagai komedi. Meski begitu, bukan berarti formulasi horor-nya dibuat sesuka hatinya saja dengan aturan-aturan lemah yang kemudian dilanggar sesuka hati. Sebagai misal, ada yang baru digigit tiba-tiba langsung berubah menjadi zombie, ada juga perlu waktu beberapa lama. Ditambah inkonsistensi penyebab agar para zombie bisa semaput. Semakin berantakan dengan bertaburnya cacat logika di sepanjang durasi (Apa gunanya gadget, medsos dan sebagainya kalau alpa digunakan? Oh ya, nanti filmnya usai sebelum waktunya).

Padahal REUNI Z bisa memiliki potensi menarik, mengingat film bertema zombie jarang ada di perfilman Indonesia. Sayangnya, Soleh dan Monty tidak tahu bagaimana mengemas film secara proporsional. Bahkan mencapai titik standar saja sulit. Oleh karena itu, REUNI Z dipenuhi dengan candaan kering yang asyik sendiri, horor mentah, serta drama dengan kadar emosional seartifisial pemanis buatan.

Sebenarnya ada Shaun of The Dead (2004) karya Edgar Wright sebagai salah satu contoh bagaimana mengeksekusi sebuah komedi-horor yang baik. Tidak harus mengimitasi plek tentu saja, namun bolehlah menjadi referensi Soleh dan Monty, sehingga bisa menghindari REUNI Z dari resiko menjadi serba tanggung dan terlihat seperti film berkualitas Z.

Setelah Mau Jadi Apa? dan REUNI Z, mungkin sudah saatnya Soleh Solihun mengevaluasi lebih lanjut niatnya untuk menjadi seorang sutradara.

Reuni Z
★☆☆☆☆
Advertisements