Film Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Siapapun tak akan menafikan jika Han Solo (diperankan Harrison Ford) merupakan salah satu karakter paling ikonik di saga space opera, Star Wars. Oleh karena itu, sudah bisa diduga jika Lucasfilm memilih asal-usul Han Solo sebagai materi untuk film kedua di seri “A Star Wars Story”, menyusul Rogue One di tahun 2016 lalu. Setelah sempat heboh dengan pergantian sutradara dari duo Phil Lord dan Christopher Miller menjadi Ron Howard, kita boleh merasa tenang, karena Solo: A Star Wars Story dihadirkan dengan memikat.

Aktor muda Alden Ehrenreich didapuk untuk memerankan Solo dengan beban besar untuk menandingi imej yang selama ini lekat kepada Ford. Setelah sempat diragukan, Ehrenreich membuktikan jika ia adalah sosok tepat untuk menginterprestasi Solo di usia mudanya.

Mengingat seting film terjadi sebelum Star Wars: A New Hope (1977), maka kita akan menyimak perjalanan Solo, mulai dari menjadi begajulan di planet Corellia, dikeluarkan dari Imperial Flight Academy, bertemu dengan Chewbacca (Joonas Suotamo), hingga bergabung bersama gerombolan kriminal pimpinan Tobias Beckett (Woody Harrelson).

Meski awalnya Beckett enggan menerima Solo, namun akhirnya ia menjadi semacam mentor untuk sang pemuda dengan cita-cita menjadi pilot andal tersebut. Nasib kemudian mempertemukan kembali Solo dengan Qi’ra (Emila Clarke), alasan mengapa ia bersusah payah menempuh banyak aral. Rupanya Qi’ra pun sudah keluar dari planet Corellia dan kini menjadi bawahan Dryden Vos (Paul Bettany), pimpinan sebuah sindikat. Bergabung bersama pemilik kapal Millennium Falcon, Lando Calrissian (Donald Glover), tim ini kemudian mendapat tugas berbahaya dari Vos.

Secara cerita, Solo sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan dinamikanya cenderung tertebak. Hanya saja pengarahan Howard begitu mengalir dalam memaparkan kisahnya sehingga alur film terasa renyah untuk disimak. Durasi 135 menit tidak terasa panjang, bahkan kurang, karena begitu terpikatnya kita sebagai penonton pada karakter-karakternya.

Karakterisasi kuat, termasuk untuk karakter-karakter minor (nyaris cameo), seperti Val Becket (diperankan Thandie Newton), pembajak misterius Enfys Nest (Erin Kellyman), atau droid L3-37 (disulih suara Phoebe Waller-Bridge) memang menjadi kelebihan tersendiri bagi film. Apalagi mereka diperankan dengan baik oleh para aktor yang terlibat. Chemistry kuat antara Solo dengan Becket, Qi’ra, Calrissian, dan pastinya Chewbacca juga menjadi asupan bergizi dalam memberi nuansa dan dimensi pada cerita.

Jika cita-rasa murung dan fatalistik Rogue One terasa hambar, maka jangan takut untuk mencicipi Solo, karena ia adalah sebuah hidangan sedap dan kaya rasa. Solo hadir dengan cerah dan ceria tanpa terlupa asupan adegan laga mendebarkan yang menjadi syarat utama sebuah film petualangan seru. Perpaduan sisi komedi dan dramanya juga pas. Walau tidak terlalu mengedepankan aspek filosofis, tetap ada esensi dalam memberi ketebalan untuk tipisnya materi naskah.

Singkat cerita, dengan lika-liku sangat bersandar pada pakem film koboi, Solo bagaikan sebuah film western berseting luar angkasa. Tidak heran jika pendekatan seperti ini menjadikan film relatif berbeda dari para pendahulunya. Dalam arti positif tentu saja. Sebuah penyegaran untuk seri Star Wars, yang terus terang saja semakin monoton dalam alur ataupun tema cerita.

Jika parameter keberhasilan sebuah film adalah saat ia mampu membuat penonton merasa peduli dengan karakter-karakternya dan berharap agar nantinya bisa kembali menyimak mereka di kisah berikutnya, maka dipastikan Solo: A Star Wars adalah sebuah keberhasilan yang sayang untuk dilewatkan.

Solo: A Star Wars Story
★★★★☆
Advertisements