Film Review: Tully (2018)

Semenjak debut film panjangnya, Thank You For Smoking (2005), Jason Reitman mengemuka sebagai salah satu sutradara dengan ciri khas tertentu untuk film-filmnya. Drama quirky yang tak jarang memberi rasa hangat selepas menyaksikannya. Juno, Up In The Air atau Young Adult adalah buktinya. Sayang, performa Reitman terlihat menurun dengan dua film terakhirnya, Labor Day dan Men, Women and Children. Syukurlah ia kembali prima dengan reuninya bersama aktris Charlize Theron (Young Adult) dan penulis Diablo Cody (Juno) dalam Tully.

Tully berkisah tentang seorang ibu bernama Marlo (Theron). Dengan suami yang sibuk (diperankan Ron Livingston), dua anak dengan tuntutan masing-masing, dan kehamilan yang sebenarnya tidak diharapkan, kita diajak Reitman untuk mengikuti pergulatan Marlo dalam menyikapi kesehariannya.

Saat sang bayi yang diberi nama Mia lahir, Marlo seolah tidak tahu lagi bagaimana mengurus hidupnya dengan lebih baik. Sampai datang Tully (Mackenzie Davis), seorang perempuan usia 20 tahunan yang kemudian bertugas sebagai “night nanny” dan mengurus keluarga Marlo. Kehidupannya semakin membaik, tapi sampai kapan Tully akan terus hadir membantu Marlo?

Dengan plot yang sederhana saja, bahkan nyaris minim konflik sampai masuk babak akhir, Tully ternyata sangat menyenangkan untuk disimak. Ia dengan telaten mengupas keseharian seorang ibu beranak kecil yang merasa lelah dengan kehidupannya, namun tetap berdedikasi untuk keluarga. Krisis eksistensi. Kurang lebih seperti itu.

Sebagai film yang berbicara tentang krisis eksistensi, tentu ada katalis untuk konflik yang didera oleh sang protagonis. Tully yang belia, enerjik dan penuh harapan dihadirkan sebagai cermin reflektif untuk Marlo. Interaksi yang terjadi antara Marlo dan Tully berjalan dengan ritme yang mengalir, sehingga meski absen konflik besar ala melodrama misalnya, namun tetap memberi impresi di benak dan emosi penonton.

Plus, Theron dan Davis bermain tandem dengan sangat menawan. Interaksi di antara mereka tidak akan berhasil jika saja kedua aktor ini tidak memiliki chemistry kuat di antara mereka. Soal pendalaman karakter atau pengungkapan sisi emosional secara subtil jelas tidak usah diragukan, karena baik Theron dan Davis bermain apik.

Mungkin eskalasi konflik Tully yang relatif datar bisa menjadi kelemahan tersendiri. Karena dengan demikian Tully tidak benar-benar menonjol. Dibandingkan Juno, Up in the Air, apalagi Young Adult yang mengedepankan aspek dramatis secara lebih kuat, maka Tully cenderung berada di pinggir.

Meski begitu, dengan barisan dialog tajam, akting menawan, serta sisi emosional matang dan tergali baik, Tully adalah sebuah drama-komedi kecil yang tetap saja sulit untuk dilupakan selepas menyaksikannya. Pesan moral film, jika memang bisa disebut pesan moral, hargailah ibu, karena kasihnya tulus tanpa pamrih.

By the way, selamat datang kembali Jason Reitman!

Tully
★★★½☆☆

 

Advertisements