Film Review: Dunkirk (2017)

Mungkin Dunkirk adalah salah satu peristiwa historis era Perang Dunia II paling dikenang warga Inggris. Ada 200.000 tentara mereka harus terdampar di tepi pantai di kota utara Prancis tersebut. Nasib pun tak menentu, menunggu kejelasan apakah akan terselamatkan atau tidak. Saat Christopher Nolan mengungkap dirinya akan mengangkat peristiwa Dunkirk untuk film terbarunya, maka bisa jadi banyak orang mengira ia akan mengambil jejak sama hal seperti film-film sejenis. Saving Private Ryan karya Steven Spielberg misalnya.

Continue reading

Film Review: Spirited Away (2001)

Bagi penggemar animasi, atau mungkin penggemar film secara umum, pasti mengenal maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, dan rumah produksi miliknya yang legendaris, Studio Ghibli. Kini, untuk pertama kalinya beberapa film animasi karya Miyazaki – 5 film tepattnya – bisa disaksikan secara umum karena tayang di berbagai bioskop Indonesia dalam agenda World of Ghibli Jakarta. Untuk sajian bulan pertama adalah salah satu masterpiece Miyazaki dan Studio Ghibli, Spirited Away (千と千尋の神隠し – Sen to Chihiro no Kamikakushi).

Continue reading

The Grand Budapest Hotel’s How To Make a Courtesan au Chocolat

Video viral saat ini sudah jamak dilakukan sebagai bagian dari promosi sebuah film. Bisa berbentuk teaser, bisa juga film pendek, seperti yang diluncurkan oleh Wes Anderson dalam rangka mempromosikan film terbarunya, The Grand Budapest Hotel.

Film pendek tersebut berjudul How To Make a Courtesan au Chocolat. Berdurasi 3 menitan, kita akan melihat bagaimana salah satu karakter dalam film, Agatha (Saoirse Ronan) membuat sebuah kue bernama, tentu saja, Courtesan au Chocolat.

Secara umum, film pendek ini mirip video tutorial “how to” atau acara masak-memasak. Tapi, sebagai film Wes Anderson, of course it needs to be quirky or awkward. Tanpa perlu berpanjang-lebar, simak filmnya di bawah ini:

Film Review: The Dark Knight Rises (2012)

You think this can last? There’s a storm coming, Mr. Wayne. You and your friends better batten down the hatches, because when it hits, you’re all gonna wonder how you ever thought you could live so large and leave so little for the rest of us. (Selina Kyle)

The Dark Knight Rises (TDKR) is one of the most anticipated film for this year. Tidak hanya dia berperan menjadi penutup dari seri Batman di dekade 2000-an, namun juga sebagai film terbaru dari Christopher Nolan yang telah dinanti-nantikan. Semenjak kesuksesan The Dark Knight (2008) dan disusul oleh Inception (2010), nama Nolan memang seolah telah menjadi jaminan sebuah film mainstream yang “tidak biasa”. Betapa tidak, saat kecendrungan trend film-film yang mengangkat pahlawan komik hadir untuk mengejar sensasi keseruan dalam level extravaganza yang tinggi, he dare to take a different route to his journey. A risky one. But it made his films are more memorable and never be a Sunday morning matinee popcorn flick.

Continue reading

Film Review: The Dark Knight (2008)

Saya pada awalnya ingin mengklaim jika The Dark Knight adalah film tentang superhero terbaik yang pernah saya tonton. Tapi saya menimbang ulang perspektif tersebut, karena setelah saya fikir-fikir tidak ada yang super tentang Batman. Dia hanya seorang manusia tangkas yang cerdas, ulet dan dibantu dengan kekayaan yang luar biasa untuk menciptakan gadget yang mampu mengakomodir kebutuhan kegiatan ‘malam’-nya. Lantas kalau bukan film tentang superhero, ini film tentang apa ya?

Continue reading

Film Review: Batman Begins (2005)

Secara pribadi, saya menggilai Batman dan Batman Forever, buah karya Tim Burton sebagai apresiasi komik dalam bentuk film terbaik yang pernah ada, bahkan beyond Superman The Movie! Sayangnya film-film Batman selanjutnya berubah menjadi film yang kekanak-kanakan dan kehilangan unsur misteriusnya yang merupakan ciri kuat dari karakter Batman itu sendiri. Rasa kecewa saya sedikit terobati dengan adanya film-film seperti X-Men atau Spider-Man yang berhasil menjadi sebuah tontonan yang jenial sekaligus entertaining. Tapi saya tetap merindukan Batman di dalam layar lebar, karena saya sedari kecil memang tergila-gila pada si manusia kelelawar!

Continue reading

Film Review: The Skin I Live In (2011)

Premis The Skin I Live In (La Piel Que Habito) mengingatkan akan film-film horor-fiksi-ilmiah kelas B yang biasa kita kenal; seorang ilmuan jenius/ekstentrik/gila melakukan percobaan rahasia yang menentang hukum alam dan ada sosok korban dalam bentuk seorang perempuan lemah tak berdaya yang harus keluar dari mimpi buruk yang menimpanya. Namun bukan Pedro Almodovar namanya jika dia tidak merancang sebuah skema yang penuh dengan lika-liku namun juga dibalut dalam sebuah komposisi emosionil yang subtil.

Continue reading

Film Review: Eat Drink Man Woman (1994)

Eat Drink Man Woman‘Eat Drink Man Woman‘ (Yin shi nan nu – 饮食男女) mempunyai banyak kesamaan dengan film Ang Lee sebelumnya, ‘The Wedding Banquet’ (1993). Tidak hanya sebagai ajang reuni Lung Sihung, Gua Ah Lei dan Winston Chao dan keberhasilan dalam mendapatkan nominasi sebagai film berbahasa asing terbaik di anugerah Oscar dan Golden Globe, akan tetapi juga persamaan dalam tema dan juga pendekatan film terhadap narasi yang dirangkainya. Sebuah komedi satir yang dimulai seolah-olah sebuah drama serius yang melodramatis, namun berkembang menjadi serangakain tawa lirih yang menyindir sikap dan prilaku manusia, yang kadang memang sulit tertebak.

Continue reading

[Tafsir Mimpi] Inception (2010) – Film Review

Tulisan ini dalam paradoks tertentu adalah SPOILER.

Saya pernah menonton sebuah film (yang katanya) horor berjudul Soul Survivors. Film yang dibintangi oleh Cassey Affleck, Wes Bentley dan Eliza Dhusku itu mencoba memanipulasi penonton tentang apa itu batas realitas sebenarnya. Penuh dengan potensi, sayang eksekusinya buruk. Namun, film tersebut mampu membuat saya berfikir, apa itu parameter kenyataan?

Atau apakah kita sebenarnya adalah seorang Truman Burbank, yang mengira telah hidup dengan penuh, akan tetapi sebenarnya menempati ruang hidup yang sempit? Tapi Truman itu sendiri pun kemudian mulai mencurigai batas realitas kehidupannya sendiri.

Continue reading

Film Review: Mukhsin (2007)

Semua orang pastilah pernah mengalami cinta pertama. Demikian premis yang diurai Yasmin Ahmad dalam ‘Mukhsin’ (2007), bagian ketiga dari trilogi Orkednya setelah ‘Sepet’ dan ‘Gubra’. Dalam bagian ini, kisah Orked bagai sebuah lingkaran, cerita kembali ke awal, saat dia masih gadis cilik berusia 10 tahun dan tinggal di sebuah kampung. Sekinchan, Sabak Bernam lebih tepatnya.

Continue reading

Film Review: Tôkyô Sonata (2008)

Kenji (Inowaki Kai) meminta maaf kepada gurunya, Kobayashi Sensei (Kazuya Kojima) karena telah mengumumkan di depan kelas jika si guru pernah membaca manga porno. Si guru memaafkan. Namun Kenji bergeming. Dia meminta Kobayashi juga meminta maaf karena menghukum dirinya atas perbuatan yang tidak dilakukannya, menyelundupkan manga saat kelas berlangsung. Kobayashi menolak. Yang terjadi, biarkan terjadi, acuhnya. Kobayashi tampaknya tidak ingin martabat dan wibawanya luntur jika ia meminta maaf kepada seorang murid.

Continue reading