Film Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)

Selepas adaptasi Hollywood yang kurang begitu memuaskan (meski sebenarnya cukup menghibur) di tahun 1998, Godzilla kembali disambangi dengan versi 2014 garapan Gareth Edwards yang dianggap lebih berhasil secara kualitas. Meski tetap saja banyak keluhan dilayangkan kepada film tersebut, yang utamanya menyebutkan jika sang Raja Monster itu seperti latar untuk filmnya sendiri.

Continue reading “Film Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)”

Film Review: Aladdin (2019)

Trend adaptasi film animasi klasik Disney berlanjut dengan Aladdin. Sineas andal asal Inggris, Guy Ritchie (King Arthur: Legend of the Sword) diberi tanggung jawab untuk menggarap adaptasi animasi-musikal Aladdin yang dirilis di tahun 1992 lalu. Ini jelas beban tersendiri bagi Ritchie, mengingat Aladdin telah begitu membekas di benak banyak penikmat film sebagai salah satu animasi terbaik.

Continue reading “Film Review: Aladdin (2019)”

Film Review: Polaroid (2019)

Setelah nasibnya sempat terkatung-katung (awalnya diniatkan dirilis di tahun 2017), akhirnya film horor adaptasi Lars Klevberg untuk film pendeknya yang berjudul Polaroid, bisa disaksikan. Tapi, sebagaimana biasanya film yang terus menerus mengalami pengunduran tanggal tayang, momentumnya telah lewat. Semakin tidak membantu karena ia ternyata adalah film berkualitas semenjana dan mudah terlupakan.
Continue reading “Film Review: Polaroid (2019)”

Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Bermula dari film laga “kecil” tentang seorang mantan pembunuh bayaran yang membalas dendam kematian anjing kesayangannya di tahun 2014, John Wick (Keanu Reevers) telah mengembangkan semestanya dengan melibatkan sebuah organisasi rahasia yang pelik dan penuh intrik dalam John Wick: Chapter 2 (2017). Kini, melengkapi kisahnya, menyusul pula John Wick: Chapter 3 – Parabellum.

Continue reading “Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)”

Film Review: Brightburn (2019)

Sebelum ia dikenal sebagai sutradara film superhero seperti seri Guardians of the Galaxy (dan berikutnya adalah The Suicide Squad), James Gunn dikenal berkat film horor yang menjadi debut penyutradaraannya, Slither (2006), setelah sebelumnya mengerjakan naskah untuk remake Dawn of the Dead (2004) milik Zack Synder. Kini ia kembali ke ranah horor dengan Brightburn, meski Gunn hanya menjabat sebagai produser, karena bangku sutradara diduduki oleh David Yarovesky.
Continue reading “Film Review: Brightburn (2019)”

Film Review: DreadOut (2019)

Di sepanjang sejarah perfilman, adaptasi video game biasanya berkualitas tidak memuaskan, bahkan buruk jika kita merujuk pada film-film kreasi Uwe Boll. Meski begitu rupanya produser dan sineas tidak gentar untuk terus menerus mengangkat video game populer ke layar lebar. Kini, giliran perfilman Indonesia yang mencoba menjamah ranah tersebut melalui DreadOut, yang diangkat dari game lokal yang dikembangkan oleh Digital Happiness.

Continue reading “Film Review: DreadOut (2019)”

Film Review: Milly & Mamet (2018)

Meski hanya berstatus sebagai karakter pendukung, tapi Milly (Sissy Priscillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) merupakan salah dua karakter ikonik dari Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Tidak heran saat dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) disebutkan keduanya telah menikah, kita tidak benar-benar kaget. Sekali lagi Milly dan Mamet mencuri perhatian penonton setelah 14 tahun, sehingga muncul penasaran bagaimana kisah romansa Milly dan Mamet bisa terjalin.

Continue reading “Film Review: Milly & Mamet (2018)”

Film Review: One Cut of the Dead (2018)

Zombie. Semenjak era Night of the Living Dead hingga yang paling baru, Overlord, seolah tak ada habisnya disajikan sebagai fiksi visual. Bagaimana dengan komedi zombie? Rasa-rasanya hanya Shaun of the Dead yang berkesan di benak di dekade terakhir ini. Tapi tunggu dulu. Kini ada One Cut Of The Dead yang boleh jadi akan menambah daftar pendek film komedi berbumbu zombie bernas yang pernah ada dalam sejarah sinema.

Continue reading “Film Review: One Cut of the Dead (2018)”