Film Review: Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (2018)

Film-film Indonesia berlatar Tentara Nasional Indonesia biasanya mengambil sudut pandang para perwira itu sendiri, seperti Pasukan Garuda: I Leave My Heart In Lebanon (2016) atau Merah Putih Memanggil (2017). Kini hadir Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara yang mengambil pendekatan bertutur berbeda, yaitu istri sang perwira.

Continue reading “Film Review: Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (2018)”

Film Review: A Quiet Place (2018)

Dalam A Quiet Place, pasutri dunia nyata, John Krasinski dan Emily Blunt, berperan sebagai pasutri fiktif dengan beberapa anak yang menghadapi ancaman teror sosok-sosok sensitif terhadap suara di sebuah pedesaan. Mereka harus bertahan hidup dengan meminimalisir volume ucapan dan mengandalkan bahasa isyarat. Jelas premis menarik untuk sebuah film horor. Lebih menarik lagi, film merupakan debut penyutradaraan Krasinski yang kerap bermain dalam film komedi.
Continue reading “Film Review: A Quiet Place (2018)”

Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising¬†adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Continue reading “Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)”

Film Review: Love For Sale (2018)

Amy Dunne, tokoh rekaan Gillian Flynn dalam Gone Girl, menyebutkan jika laki-laki suka dengan “cool girl”. Cewek keren. Cewek yang tidak pernah marah pada pacarnya. Cewek yang selalu bertingkah manis, penurut dan murah senyum. Dan kemudian membuka mulutnya untuk disetubuhi. Cewek yang suka dengan apa saja kesukaan pacarnya. Impian semua laki-laki, bukankah begitu? Tapi di mana mencarinya? Tenang, karena dalam Love For Sale, film terbaru Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Mata Dewa), aplikasi kencan Love.Inc akan mewujudkannya. Dengan modal beberapa juta rupiah saja dan cewek keren tadi bisa kamu miliki.

Continue reading “Film Review: Love For Sale (2018)”

Film Review: Benyamin Biang Kerok (2018)

Meski tak secerdas satir Si Doel Anak Modern (1976) atau subversif sebagaimana Betty Bencong Slebor (1978), tetap saja Benyamin Biang Kerok (1972) tercatat sebagai salah satu film paling berkesan milik aktor/biduan/komedian/sutradara legendaris berdarah Betawi, Benyamin Sueb. Sukses film karya Nawi Ismail tersebut melahirkan gelombang film dengan judul berembel-embel Benyamin lain, selain sebuah sekuel, Biang Kerok Beruntung (1973).

Continue reading “Film Review: Benyamin Biang Kerok (2018)”

Film Review: Red Sparrow (2018)

Saat populasi film mata-mata didominasi asupan adrenalin berkat berbagai adegan laga seru, seperti seri James Bond atau Jason Bourne, senang tetap terselip “anomali” seperti Red Sparrow. Film dengan karakterisasi sebagai sentra, lebih mementingkan tensi dan suspensi, serta dibalut cerita bernas dan tikungan di setiap sudutnya. Semakin menarik mengingat ia diangkat dari novel berjudul sama karangan mantan agen CIA betulan, Jason Matthews.

Continue reading “Film Review: Red Sparrow (2018)”

Film Review: Loving Vincent (2017)

Bahkan orang awam dan bukan pecinta lukisan sekalipun mungkin tahu siapa itu Vincent van Gogh; sosok terkenal dan berpengaruh di seni rupa berkat karya-karya cat minyak indah beraliran pasca-impresionis miliknya. Tentunya setelah pria asal Belanda ini meninggal pada tanggal 29 Juli 1989 di usia 37 tahun, barulah ia mencapai status tersebut. Karena sebagaimana klise “tortured artist”, Vincent awalnya dianggap sebagai seniman gagal. Mengalami gangguan mental dan delusi pula. Lengkap sudah.

Continue reading “Film Review: Loving Vincent (2017)”