Film Review: Alien: Covenant (2017)

Di tahun 2012 hadir Prometheus yang merupakan kembalinya Ridley Scott ke ranah fiksi-ilmiah, setelah terakhir adalah Blade Runner (1982). Film tersebut juga menandakan kembalinya Scott pada film yang sukses mengangkat namanya ke permukaan, Alien (1979). Hanya saja, meski diset sebagai prekuel untuk Alien, Scott ingin melebarkan cerita Prometheus tidak hanya terbatas pada aksi teror Xenomorph belaka, namun juga elaborasi pada semesta atau world building-nya, serta mengangkat tema eksistensialisme.

Continue reading

Film Review: Lavender (2016)

Selepas The Last Exorcism Part II (2013), yang naskahnya ditulis bersama dengan Damien Chazelle (Whiplash, La La Land), kurang mendapat sambutan memuaskan dari para kritikus, sutradara asal Kanada, Ed-Gass Donnelly, ternyata tidak mau menyerah begitu saja di genre horor. Kali ini ia datang kembali dengan Lavender. Meski memang bukan horor murni karena dibungkus juga dengan drama dan thriller.

Continue reading

Film Review: Miss Sloane (2016)

Siapapun yang melihat, sadar jika Miss Elizabeth Sloane (Jessica Chastain) adalah sosok menarik, cerdas, lagi kharismatis. Tapi ada sesuatu yang angkuh di pembawaannya. Bisa jadi disebabkan karena ia adalah seorang pelobi politik handal. Dengan prinsip Machiavellian yang sepertinya dipegang teguh, ada pertanyaan akan validitas kode etik Miss Sloane dalam menunaikan tugasnya.

Continue reading

Film Review: Spirited Away (2001)

Bagi penggemar animasi, atau mungkin penggemar film secara umum, pasti mengenal maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, dan rumah produksi miliknya yang legendaris, Studio Ghibli. Kini, untuk pertama kalinya beberapa film animasi karya Miyazaki – 5 film tepattnya – bisa disaksikan secara umum karena tayang di berbagai bioskop Indonesia dalam agenda World of Ghibli Jakarta. Untuk sajian bulan pertama adalah salah satu masterpiece Miyazaki dan Studio Ghibli, Spirited Away (千と千尋の神隠し – Sen to Chihiro no Kamikakushi).

Continue reading

Film Review: Ghost In The Shell (2017)

Sebagai salah satu anime ikonik di era 90-an, tidak mengherankan jika Ghost in the Shell (1995), karya Mamoru Oshii yang diangkat dari manga kreasi Masamune Shirow, sukses dilirik Hollywood untuk diulang buat. Bagaimanapun Ghost in the Shell dianggap sebagai salah satu anime terbaik dan berperan besar dalam perkembangan sub-genre cyberpunk. Termasuk oleh Wachowski bersaudara saat mengerjakan The Matrix (1999).

Continue reading

Film Review: Shin Godzilla (2016)

Dengan kesuksesan Godzilla versi Amerika yang dirilis di tahun 2014, tidak heran jika Toho pun melakukan reboot untuk Godzilla versi domestik. Berjudul Shin Godzilla atau Godzilla Resurgence, film merupakan reboot ketiga kalinya dan merupakan produksi ke-29 dalam franchise ini bagi Toho, setelah terakhir Godzilla: The Final Wars (2004). Duduk di bangku sutradara adalah duo  Hideaki Anno (Neon Genesis Evangelion) dan Shinji Higuchi (Attack on Titan), dengan Anno juga bertugas menulis naskah, sedangkan Higuchi menangani efek khusus.

Continue reading

Film Review: The Devil’s Candy (2015)

Sutradara asal Australia, Sean Byrne, sempat mencuri perhatian berkat debutnya, The Loved Ones, di tahun 2009. Beberapa tahun lalu berlalu, ia kembali dengan karya sophomore-nya, The Devil’s Candy. Dengan seting Texas, Amerika, Byrne berpindah dari psycho-thriller ke ranah horor supernatural. Yah, setidaknya sebagian saja, karena The Devil’s Candy ternyata belum begitu melepas aspek psycho-thriller tadi yang membesarkan nama Byrne.

Continue reading

Film Review: Life (2017)

Dirilis hanya selang beberapa bulan sebelum Alien: Covenant, maka sulit bagi Life, karya sutradara asal Swedia Daniel Espinosa (Easy Money, Safe House, Child 44), untuk mengelakkan tudingan dirinya sebagai peniru Alien, yang merupakan karya klasik Ridley Scott. Fiksi-ilmiah berbumbu horor dengan seting berlokasi di luar angkasa dan melibatkan sosok mahluk asing yang meneror bisa menjadi alasan di balik tudingan.

Continue reading

Film Review: Beauty and the Beast (2017)

Karena ia adalah dongeng setua sang masa, maka plot Beauty and the Beast arahan Bill Condon (Gods and Monsters, Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 &2) ini masih sangat familiar. Lagi pula versi animasinya yang dirilis di tahun 1991 masih cukup populer hingga kini. Namun, sebagaimana trend yang menjangkiti Disney akhir-akhir ini, mereka merasa perlu untuk membuat ulang film-film animasi klasik mereka dalam versi live-action. Hanya saja, dibandingkan beberapa film sebelumnya (Maleficent, Cinderella, The Jungle Book) yang mencoba untuk mengalterasi pendekatan ceritanya, maka Beauty and the Beast mutakhir ini setia dengan aslinya.

Continue reading

Film Review: Galih & Ratna (2017)

Sebelum Rangga dan Cinta (Ada Apa Dengan Cinta? 2002) yang hingga kini masih dianggap sebagai ikon sepasang kekasih remaja era millennial, sekitar 38 tahun lalu sudah ada Galih dan Ratna (diperankan Rano Karno dan Yessi Gusman), yang sukses mengharu biru kaum muda pada masanya dalam Gita Cinta Dari SMA (1979), buah karya Arizal dan diangkat dari novel populer tulisan Eddy  D. Iskandar. Saking populernya, film pernah diadaptasi menjadi serial televisi juga drama musikal. Kini, di dekade kedua era 2000-an, hadir pula ulang buatnya, Galih & Ratna.

Continue reading

Film Review: Kong: Skull Island (2017)

Sebagai salah satu ikon sinema terbesar, sebenarnya patut dipertanyakan apa perlunya untuk meremake/reboot lagi King Kong. Apalagi masih cukup segar di ingatan King Kong karya Peter Jacksson (2005) yang hadir dengan kualitas terhitung baik, terlepas dari durasinya yang agak kepanjangan.Meski begitu, selepas remake/reboot Godzilla (2014), Legendary Pictures berniat untuk menghadirkan seri MonsterVerse mereka. Dan itu termasuk “menghidupkan kembali King Kong, yang kemudian hadir dalam Kong: Skull Island.

Continue reading

Film Review: Fabricated City (2017)

Perlu waktu 12 tahun bagi Park Kwang-hyun untuk kembali menghadirkan sebuah film selepas Welcome to Dongmakgol (2005) yang kini sudah bisa dianggap klasik. Tentunya Fabricated City (조작된 도시;  Jojakdoen Doshi), demikian film terbarunya, memancing rasa penasaran, apakah ia akan kembali menghadirkan sebuah petualangan sinema yang istimewa? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung sudut pandang. 

Continue reading