Film Review: The Predator (2018)

Awalnya The Predator diniatkan sebagai reboot untuk franchise Predator. Tapi sang sutradara, Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guy), yang sempat terlibat sebagai pemain dalam film orisinal rilisan 1997, memutuskan untuk melanjutkan saja kisahnya. Jadilah The Predator tidak hanya sebagai film keempat Predator, tapi juga sebuah film seorang Shane Black, yang sebagaimana kita ketahui, selalu kental dengan nuansa komedi gelap.
Continue reading “Film Review: The Predator (2018)”

Film Review: A Quiet Place (2018)

Dalam A Quiet Place, pasutri dunia nyata, John Krasinski dan Emily Blunt, berperan sebagai pasutri fiktif dengan beberapa anak yang menghadapi ancaman teror sosok-sosok sensitif terhadap suara di sebuah pedesaan. Mereka harus bertahan hidup dengan meminimalisir volume ucapan dan mengandalkan bahasa isyarat. Jelas premis menarik untuk sebuah film horor. Lebih menarik lagi, film merupakan debut penyutradaraan Krasinski yang kerap bermain dalam film komedi.
Continue reading “Film Review: A Quiet Place (2018)”

Film Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)

Film-film Yorgos Lanthimos dikenali karena drama sajiannya kerap mengandung unsur horor juga komedi (gelap) pekat. Demikian halnya dengan The Killing of a Sacred Deer, yang menandakan kali kedua kerja samanya bersama aktor Collin Farrell selepas The Lobster (2015), dan film berbahasa Inggris kedua sutradara asal Yunani ini. Dengan The Killing of a Sacred Deer, Lanthimos menegaskan dirinya sebagai auteur dengan sense of story telling khas yang pastinya sangat layak disaksikan.

Continue reading “Film Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)”

Film Review: B&B (2017)

Setahun lalu pasangan kekasih Marc (Tom Bateman, Murder on the Orient Express) dan Fred (Sean Teale, The Gifted) memenangkan kasus melawan pemilik penginapan bed-and-breakfast yang berlaku diskriminatif kepada mereka, Josh (Paul McGann, Alien 3). Kini Marc dan Fred telah menikah dan memutuskan untuk kembali ke penginapan yang sama. Mungkin mereka hanya ingin bernostalgia. Bisa juga ingin memamerkan kemenangan mereka kepada Josh. Terutamanya Marc yang sinikal.

Continue reading “Film Review: B&B (2017)”

Film Review: Pengabdi Setan (2017)

S
etelah berikhtiar sekian lama, akhirnya salah satu sineas terkemuka perfilman Indonesia, Joko Anwar, berhasil mewujudkan impiannya untuk menggarap salah satu film favoritnya semenjak kanak-kanak, Pengabdi Setan (1980), karya klasik maestro horor Indonesia, Sisworo Gautama Putra. Hanya saja, sebagai remake Joko rupanya tidak ingin bulat-bulat mereka-ulang kisah dalam versi orisinalnya, namun menghadirkan tafsiran baru yang diharapkan bisa memberi nuansa dan dimensi atas tema yang diusung.

Continue reading “Film Review: Pengabdi Setan (2017)”

Film Review: Jailangkung (2017)

Nama Rizal Mantovani dan Jose Poernomo selamanya tercatat dalam sejarah perfilman Indonesia berkat Jelangkung (2001), sebuah fim horor yang sukses besar justru saat situasi perfilman lokal tengah mati suri dan menjadi salah satu pencetus bergeraknya kembali gelombang film Indonesia baru, bersama dengan Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Kini, 16 tahun kemudian, Mantovani dan Poernomo melakukan reuni dalam sebuah film horor lain yang juga mengangkat mitos sama, Jailangkung.

Continue reading “Film Review: Jailangkung (2017)”