Film Review: Jailangkung (2017)

Nama Rizal Mantovani dan Jose Poernomo selamanya tercatat dalam sejarah perfilman Indonesia berkat Jelangkung (2001), sebuah fim horor yang sukses besar justru saat situasi perfilman lokal tengah mati suri dan menjadi salah satu pencetus bergeraknya kembali gelombang film Indonesia baru, bersama dengan Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Kini, 16 tahun kemudian, Mantovani dan Poernomo melakukan reuni dalam sebuah film horor lain yang juga mengangkat mitos sama, Jailangkung.

Continue reading

Film Review: 47 Meters Down (2017)

Musim panas tahun lalu The Shallows, sebuah film thriller karya Jaume-Collet Serra dan dibintangi Blake Lively sukses mencuri perhatian. Kini, tepat setahun kemudian, 47 Meters Down kembali menampilkan aksi karakter perempuan yang terjebak di lautan dan harus melawan ganasnya hiu. Dengan demikian mudah saja menyebutkan jika 47 Meters Down sebagai pengekor The Shallows. Hanya saja, selain ada beberapa perbedaan detil, sebenarnya anggapan tersebut tidak tepat juga.

Continue reading

Film Review: Havenhurst (2016)

Saat sebuah film horor lebih memilih untuk mengikuti pakem secara ajeg alih-alih mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang baru, maka kita akan berhadapan dengan sebuah film yang begitu klise sehingga hanya bisa dinikmati kalau meminggirkan rasa familiaritas guna bisa menikmatinya. Itulah problematika dalam Havenhurst karya Andrew C. Erin (Sam’s Lake).

Continue reading

Film Review: Alien: Covenant (2017)

Di tahun 2012 hadir Prometheus yang merupakan kembalinya Ridley Scott ke ranah fiksi-ilmiah, setelah terakhir adalah Blade Runner (1982). Film tersebut juga menandakan kembalinya Scott pada film yang sukses mengangkat namanya ke permukaan, Alien (1979). Hanya saja, meski diset sebagai prekuel untuk Alien, Scott ingin melebarkan cerita Prometheus tidak hanya terbatas pada aksi teror Xenomorph belaka, namun juga elaborasi pada semesta atau world building-nya, serta mengangkat tema eksistensialisme.

Continue reading

Film Review: Lavender (2016)

Selepas The Last Exorcism Part II (2013), yang naskahnya ditulis bersama dengan Damien Chazelle (Whiplash, La La Land), kurang mendapat sambutan memuaskan dari para kritikus, sutradara asal Kanada, Ed-Gass Donnelly, ternyata tidak mau menyerah begitu saja di genre horor. Kali ini ia datang kembali dengan Lavender. Meski memang bukan horor murni karena dibungkus juga dengan drama dan thriller.

Continue reading

Film Review: The Devil’s Candy (2015)

Sutradara asal Australia, Sean Byrne, sempat mencuri perhatian berkat debutnya, The Loved Ones, di tahun 2009. Beberapa tahun lalu berlalu, ia kembali dengan karya sophomore-nya, The Devil’s Candy. Dengan seting Texas, Amerika, Byrne berpindah dari psycho-thriller ke ranah horor supernatural. Yah, setidaknya sebagian saja, karena The Devil’s Candy ternyata belum begitu melepas aspek psycho-thriller tadi yang membesarkan nama Byrne.

Continue reading

Film Review: Life (2017)

Dirilis hanya selang beberapa bulan sebelum Alien: Covenant, maka sulit bagi Life, karya sutradara asal Swedia Daniel Espinosa (Easy Money, Safe House, Child 44), untuk mengelakkan tudingan dirinya sebagai peniru Alien, yang merupakan karya klasik Ridley Scott. Fiksi-ilmiah berbumbu horor dengan seting berlokasi di luar angkasa dan melibatkan sosok mahluk asing yang meneror bisa menjadi alasan di balik tudingan.

Continue reading

Film Review: Don’t Knock Twice (2017)

Film horor yang mengisahkan hubungan retak antara ibu dan anak sudah cukup banyak beredar. Dan Don’t Knock Twice mencoba untuk kembali mengangkat tema serupa melalui tangan sutradara Caradog W James. Jika konsisten dan disiplin dengan tema yang dipilihnya, Don’t Knock Twice bisa saja menjadi sebuah horor film yang berkesan. Tapi film terlalu banyak maunya, yang menyebabkan potensinya menjadi tidak tergali optimal dan berakhir menjadi film yang relatif menggelikan.

Continue reading

Film Review: Split (2017)

Semenjak mengemuka lewat The Sixth Sense (1999), nama M. Night Shyamalan identik dengan twist. Film demi film yang dirilisnya setelah itu mempertegas kesan tersebut. Sayangnya secara kualitas film-film Shyamalan kemudian mengalami penurunan. Puncaknya saat ia memutuskan banting setir dengan mengarahkan beberapa film blockbuster kaya efek khusus (The Last Airbender, After Earth). Selepas sambutan kurang memuaskan terhadap film-film tersebut, ia seperti menyadari jika “bakatnya” lebih tepat tetap berada di ranah thriller atau horor. Tidak heran kemudian Shyamalan “me-reboot” karirnya dengan menghadirkan film horor mockumentary berjudul The Visit (2015) yang ternyata mendapat sambutan bagus. Kini, ia menyusulnya dengan Split.

Continue reading

Film Review: Morgan (2016) 

Premis Morgan tidak baru. Ilmuan yang bermain sebagai tuhan dengan menciptakan kehidupan artifisial sudah banyak menjadi tema berbagai film. Bahkan semenjak Frankenstein hingga Species, atau Splice, dan mungkin yang paling segar di ingatan, Ex Machina. Lantas apa yang membedakan? Nyaris tidak ada sebenarnya. Namun ini adalah debut penyutradaraan Luke Scott, putra sineas kondang, Ridley Scott, sehingga menarik untuk mengetahui apakah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya?

Continue reading

American Horror Story: My Roanoke Nightmare – Chapter 1

ahs-my-roanoke-nightmare

Setelah semua teaser misterius yang sama sekali tidak memberi petunjuk tentang apa dan bagaimana American Horror Story (AHS) musim ke-enam, akhirnya saat serial melakukan season premierenya Rabu kemarin, terjawablah sudah beberapa pertanyaan. Hanya beberapa memang, karena menilik episode perdana AHS yang diberi sub-judul My Roanoke Nightmare (MRN) ini, masih ada beberapa hal menggantung dan mungkin akan dielaborasi lebih lanjut di episode selanjutnya.

Continue reading