Film Review: After Earth (2013)

After Earth

Kalau tidak ada kerjaan, seru juga menghitung berapa banyak plot hole di dalam film After Earth,  karya terbaru  auteur Amerika yang dulu dikenal dengan film-film misterinya, M. Night Shyamalan.  Akan tetapi kalau saya sih lebih memilih untuk sit tight and enjoy the film. Let’s not forget to low our expectation and voila, it’s a very enjoyable sci-fi adventure ride with some moving moments.

Continue reading

Film Review: Now You See Me (2013)

Now You See Me

Sama halnya dengan trik-trik sulap yang ditampilkan dalam Now You See Me, film arahan Louis Leterrier (The Transporter, The Incredible Hulk dan salah satu film Jet Li favorit saya, Unleashed aka Danny The Dog) ini sebenarnya berisi banyak pengalihan guna menutupi kisah sebenarnya. Terlalu banyak lapisan yang menyelubunginya mungkin akan membingungkan, akan tetapi pengarahan yang mengalir dari Leterrier membuat filmnya sangat renyah untuk dinikmati. Menggabungkan antara heist-thriller, con-artist feature, drama, romansa dan laga, sayangnya, its like Jake of all trades, master of few. Tidak semuanya berhasil.

Continue reading

Film Review: The Bourne Legacy (2012)


Mungkin blunder yang dilakukan oleh The Bourne Legacy adalah dengan memakai embel-embel kata Bourne di judulnya sementara dari segi pendekatan ia memiliki corak yang agak berbeda, sehingga mau tidak mau banyak penonton, yang kemudian mengaosiasikan film ini dengan tiga film sebelumnya yang dibintangi oleh Matt Damon itu, merasa kecewa dengan hasil akhir film ini. Dan mereka tidak bisa disalahkan juga, karena disamping film besutan Tony Gilroy ini masih meminjam banyak elemen dari “prekuel”-nya, film juga seolah tak rela melepaskan The Bourne Legacy dari story arc yang sudah dibangun sebelumnya. Namun, film sebenarnya tidak sepenuhnya sebuah kegagalan saja.

Continue reading

Film Review: The Expendables 2 (2012)


Di tahun 2010 yang lalu, Sylvester Stallone sukses mengajak barisan bintang laga ternama untuk bersama-sama membintangi sebuah film yang berjudul The Expendables. Jet Li, Jason Statham, Dolph Lundgren, Terry Crews, Randy Couture dan Mickey Rourke pun akhirnya berbagi layar untuk memberi kita sebuah asupan laga penuh testosterone yang pasti memuaskan hasrat para penggemar mereka atau pun penikmat film laga secara umum. Kesuksesan film tersebut sudah dapat ditebak kemudian diekori oleh sebuah sekuel. Dua tahun kemudian, dalam The Expendables 2, kumpulan yang sama kembali beraksi yang kini ditemani nama-nama baru.

Continue reading

Film Review: The Four (2012)


Gordan Chan dulu mungkin dikenal karena ketrampilannya dalam menata aksi laga yang organis dalam film-film seperti Fist of Legend (Jet Li) atau Thunderbolt (Jacky Chan). Namun akhir-akhir ini ia tampaknya lebih tertarik untuk mengarahkan film-film bercorak fantasi dengan arsiran CGI yang kental. Sebut saja Painted Skin (2006) atau Mural (2011). Kini, dalam The Four ( 四大名捕) , lagi-lagi Chan hadir dengan gaya setipe. Namun alih-alih mengambil materi cerita dari kisah klasik Tiongkok, kali ini ia mengarahkan sebuah adaptasi dari novel silat karya Wen Ruian yang berjudul The Four Detective Guards.

Continue reading

Film Review: Total Recall (2012)

Probably contain some spoilers

Total Recall diangkat dari cerita pendek buah pena Phiilip K. Dick, We Can Remember It for You Wholesale, dan seperti kebanyakan kisah-kisah karya Dick, berkisah tentang paranoia dan bias ganda dari sebuah realita. Saat di tahun 1990 yang lalu Paul Verhoeven (Basic Instinct, Starship Troopers) bersama duo penulis skrip Ronald Shusett – Dan O’Bannon (Alien) bersama Gary Goldman mengangkat cerpen tersebut dalam bentuk film, maka hadirlah sebuah aksi laga penuh adrenalin dengan mega bintang Arnold Schwarzenegger sebagai pemegang tampuk pemeran utama. Dan loncat ke masa 20 tahun kemudian, di tengah era reka-ulang yang mewabah, film tersebut hadir lagi dengan teknologi efek khusus yang sudah di-upgrade dan sedikit pembelokan cerita, namun tak benar-benar jauh melenceng dari pakem film yang sekarang sudah bisa dianggap klasik tersebut.

Continue reading

Film Review: The Dark Knight Rises (2012)

You think this can last? There’s a storm coming, Mr. Wayne. You and your friends better batten down the hatches, because when it hits, you’re all gonna wonder how you ever thought you could live so large and leave so little for the rest of us. (Selina Kyle)

The Dark Knight Rises (TDKR) is one of the most anticipated film for this year. Tidak hanya dia berperan menjadi penutup dari seri Batman di dekade 2000-an, namun juga sebagai film terbaru dari Christopher Nolan yang telah dinanti-nantikan. Semenjak kesuksesan The Dark Knight (2008) dan disusul oleh Inception (2010), nama Nolan memang seolah telah menjadi jaminan sebuah film mainstream yang “tidak biasa”. Betapa tidak, saat kecendrungan trend film-film yang mengangkat pahlawan komik hadir untuk mengejar sensasi keseruan dalam level extravaganza yang tinggi, he dare to take a different route to his journey. A risky one. But it made his films are more memorable and never be a Sunday morning matinee popcorn flick.

Continue reading

Film Review: The Dark Knight (2008)

Saya pada awalnya ingin mengklaim jika The Dark Knight adalah film tentang superhero terbaik yang pernah saya tonton. Tapi saya menimbang ulang perspektif tersebut, karena setelah saya fikir-fikir tidak ada yang super tentang Batman. Dia hanya seorang manusia tangkas yang cerdas, ulet dan dibantu dengan kekayaan yang luar biasa untuk menciptakan gadget yang mampu mengakomodir kebutuhan kegiatan ‘malam’-nya. Lantas kalau bukan film tentang superhero, ini film tentang apa ya?

Continue reading

Film Review: Batman Begins (2005)

Secara pribadi, saya menggilai Batman dan Batman Forever, buah karya Tim Burton sebagai apresiasi komik dalam bentuk film terbaik yang pernah ada, bahkan beyond Superman The Movie! Sayangnya film-film Batman selanjutnya berubah menjadi film yang kekanak-kanakan dan kehilangan unsur misteriusnya yang merupakan ciri kuat dari karakter Batman itu sendiri. Rasa kecewa saya sedikit terobati dengan adanya film-film seperti X-Men atau Spider-Man yang berhasil menjadi sebuah tontonan yang jenial sekaligus entertaining. Tapi saya tetap merindukan Batman di dalam layar lebar, karena saya sedari kecil memang tergila-gila pada si manusia kelelawar!

Continue reading

Film Review: The Amazing Spider-Man (2012)

Entah mengapa, rasanya terlalu cepat untuk melakukan reboot atau remake atau apalah namanya, dari sebuah film yang tayang kurang lebih sepuluh tahun lalu. Disamping kesan film terdahulu yang masih kuat melekat, apa sih urgensinya sehingga perlu untuk dibuat ulang? Sam Raimi sukses besar dengan film adaptasi komik Marvel, Spider-Man di tahun 2002 yang lalu dan berlanjut hingga dua sekuel, dimana yang terakhir beredar di tahun 2007. Lima tahun kemudian, alih-alih mendapatkan kisah kelanjutan film tersebut, kita malah disuguhi penceritaan kembali petualangan si manusia laba-laba dengan pendekatan yang sedikit berbeda dalam The Amazing Spider-Man.

Continue reading

Film Review: Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)

Don’t judge a film from its title. Akan tetapi, menilik judul seperti Abraham Lincoln: Vampire Hunter, tentu saja wajar jika memprediksi ini adalah film yang…..yah, konyol. Tentu saja terkadang ada beberapa film yang terdengar silly hanya dari judulnya, namun ternyata mampu hadir dengan sangat menarik dan memuaskan. Maaf, kasus yang sama tidak terjadi untuk film terbaru arahan Timur Bekmambetov (Wanted) ini. Tentu saja kita masih bisa mengharapkan visual yang cantik dan aksi laga yang seru dari seorang Bekmambetov, namun sayang film ini adalah pencerita yang buruk.

Continue reading

Film Review: Prometheus (2012)

PROBABLY CONTAINS SOME SPOILERS >>>

Prometheus berakar dari ide Ridley Scott untuk membuat sebuah prekuel dari film fiksi limiah klasik, Alien (1979), yang tak lain merupakan salah satu karya terbaiknya. Namun dalam perkembangannya, konsep film kemudian berkembang menuju area yang berbeda meski tetap memakai konsep  yang ada di dalam Alien. Alih-alih kembali bercerita tentang sepak terjang si ganas xenomorph, Prometheus berkeinginan untuk menggali asal muasal Space Jockey sosok raksasa misterius yang terbaring dalam keadaan tak bernyawa di sebuah pesawat kosong yang tak terurus di planet LV-426. Namun kemudian, dalam perkembangannya, Prometheus bergerak ke arah yang lain, sesuatu yang mungkin telah menjadi bahan pemikiran kita selama bertahun-tahun. Well, at least for me.

Continue reading