Album Review: Various Artists – Beauty and the Beast: Original Motion Picture Soundtrack (2017)

Tale as old as time, tapi “Beauty and the Beast” akan selalu di hati. Terutama film animasi Disney yang dirilis di tahun 1991 lalu. Kini, 16 tahun kemudian, film animasi tersebut di”hidupkan” kembali dalam sebuah film live-action, di mana jebolan Harry Potter, Emma Watson, berperan sebagai Beauty, alias Belle, dan aktor serial “Downton Abbey” dan “Legion”, Dan Stevens, didapuk sebagai sang Beast. Sebagaimana film animasinya, maka adaptasi live-action ini pun digubah dalam sebuah film musikal. Lengkap dengan lagu-lagu dari film animasinya, “Beauty and the Beast” dilengkapi dengan barisan lagu baru pula, yang bisa disimak dalam “Beauty and the Beast: Original Motion Picture Soundtrack“.

Continue reading

Advertisements

Album Review: Ed Sheeran – Divide (2017)

Saat ini siapa penikmat musik pop yang tak mengenal Ed Sheeran. Penyanyi asal Suffolk, Inggris, 26 tahun lalu ini telah menuai kesuksesan berkat dua albumnya, “+” (2011) dan “×” (2014). Kini, setelah sempat memvakumkan diri selama beberapa tahun dengan niat untuk menjalani kehidupan yang lebih “normal”, Sheeran kembali dengan album ketiganya, yang masih meminjam istilah perhitungan sebagai judul, “÷” atau “Devide”.

Continue reading

Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)

Selamat datang di “La La Land”, dunia di mana mimpi dan cita-cita dirayakan dengan penuh cinta dalam warna-warni musikal penuh gaya. Sebuah film yang memadukan antara realita dan eskapisme musikal yang dulunya riuh mengisi layar lebar di era 40 hingga 60-an. Kini dalam “La La Land”, jiwa musikal yang sinematik tersebut dihadirkan kembali dengan penuh kejayaan oleh sutradara pemenang Golden Globe, Damien Chazelle (“Whiplash”) dengan Justin Hurwitz (“Whiplash”) sebagai komposer, serta duo Benj Pasek dan Justin Paul (“Smash”) sebagai penulis lirik lagu. Tentunya ada Ryan Gosling dan Emma Stone yang menghadirkan vokal mereka untuk membawakan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh “La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)“.

Continue reading

Album Review: Various Artists – Moana (Original Motion Picture Soundtrack) (2016)

Siapa yang sudah menyaksikan “Moana“? Film animasi Walt Disney kedua yang dirilis di tahun 2016 lalu setelah “Zootopia” (di luar “Finding Dory” yang sejatinya adalah produksi Pixar)? Banyak yang menyebutkan dengan dua film Disney kembali sukses dalam menghadirkan sebuah film animasi yang tidak hanya menghibur dan bisa ditonton, namun juga memiliki kedalaman serta pesan sosial yang cukup bermakna di dalam ceritanya. Namun, berbeda dengan “zootopia”, maka dalam “Moana” Disney kembali ke narasi tradional mereka, yaitu penggabungan drama dengan musikal. Oleh karenanya tidak heran jika filmnya dihiasi oleh banyak lagu-lagu yang selain bisa dinikmati saat menonton filmnya, namun juga bisa disimak kapan saja dalam sebuah album soundtrack.

Continue reading

Lana Del Rey – Honeymoon

Lana Del Rey - Honeymoon

The one and only Lana Del Rey is return. Dan tak lama setelah ia merilis “Ultraviolence” tahun lalu. Dalam “Honeymoon“, album studio label besar ketiganya, Del Rey menyebutkan ia mencoba kembali pada pendekatan yang dilakukannya dalam “Born To Die” dan juga EP “Paradise”, yaitu retro dream-pop yang kental dengan nuansa sadcore atmosferik. Mungkin ini memang benar. Hanya saja “Honeymoon” tidak secerah atau se-pop “Born To Die”. Ia bahkan jauh lebih kelam daripada “Ultraviolence”.

Continue reading

The Weeknd – Beauty Behind The Madness

The Weeknd – Beauty Behind The Madness

Dengan mega sukses ‘Can’t Feel My Face’, jelas nama The Weeknd, melesat ke puncak popularitas. Single pop-dance tersebut memang adiktif, dengan ketukan drum yang menggoda dan melodi radio frendly serta hook yang kuat pada chorus. Tidak sia-sia penyanyi berusia 25 tahun asal Kanada yang bernama asli Abel Tesfaye ini mengajak nama-nama besar di ranah pop, Max Martin, Ali Payami Peter Svensson, dan Savan Kotecha untuk membantunya di track ini.

Continue reading

Years & Years – Communion

Years & Years - Communion

Di bulan Januari 2015, Years & Years yang terdiri atas Olly Alexander (vokal, kibor), Mikey Goldsworthy (bass), dan Emre Türkmen (synth), terpilih sebagai pemenang BBC Sound of 2015. Bukan tidak ada alasan mengapa mereka bisa terpilih. Jauh sebelum album debut mereka, “Communion” dirilis, mereka sudah mengumpulkan perhatian yang cukup masif berkat single dan EP yang mereka rilis semenjak Years & Years mulai aktif di tahun 2010, terutama saat bergabung bersama Kitsuné Records. Geliat Years & Years melirik label besar seperti Polydor untuk mengajak bergabung di tahun 2014 dan memutuskan untuk memperkenalkan trio ini ke pangsa pasar yang lebih besar.

Continue reading

Jess Glynne – I Cry When I Laugh

Cover

Tahun lalu mungkin kita hanya mengenal Jess Glynnesebagai bintang tamu dari single-single sukses milik Clean Bandit dan Route 94 (‘Rather Be’ dan ‘My Love’). Namun kini dengan dua single nomor satu dengan mengusung namanya sendiri (‘Hold My Hand’ dan ‘Don’t Be So Hard On Yourself’) serta tambahan satu lagi dari kolaborasinya dengan Tinie Tempah dalam ‘Not Letting Go’, jelas nama Jess Glynne kini menjulang sebagai penyanyi muda asal Inggris yang berada di garda depan. Menyusul 5 single #1 tersebut kini Glynne siap untuk mempersembahkan musikalitas dirinya dalam album debut, “I Cry When I Laugh“.

Continue reading

Various Artists – Paper Town OST

Setelah sukses “The Fault In Our Stars”, lagi-lagi novel karya John Green diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Kali ini giliran “Paper Towns”, yang dibintangi oleh Cara Delevingne dan Nat Wolff. Mengingat ini film tentang remaja, tentunya tak terlepas dari sebuah album soundtrack yang mewakili semangat filmnya. Dan sebagaimana “TFOS”, album “Paper Towns (Music from the Motion Picture)” juga diisi oleh banyak musisi yang menghadirkan lagu-lagu yang menghadirkan nuansa remaja tadi.

Continue reading

Galantis – Pharmacy

Duo asal Swedia, Galantis, mendapat perhatian saat single-single seperti ‘Runaway (U & I)’ dan ‘You’ hadir di tahun 2014 yang lalu. Dengan produksi EDM yang kental berbau pop, tampaknya Galantis memang lebih mengincar pasar yang lebih mainstream. Itu jelas. Tapi yang tidak bisa dinafikan adalah kekuatan mereka dalam mengkomposisikan lagu-lagunya dengan memadukan antara semangat progressive house dan pop dengan takaran yang pas.

Lantas hadirlah album debut ini, “Pharmacy”, yang memaparkan kekuatan mereka. Album ini bisa dibilang istimewa dan cukup pantas dinantikan karena duo terdiri dari sosok-sosok yang cukup punya nama di kancah pop dan EDM. Galantis adalah proyek dari Christian Karlsson, yang merupakan satu dari trio Miike Snow dan duo Bloodshy & Avant, serta Linus Eklöw yang lebih dikenal sebagai Style of Eye, seorang DJ dan produser yang cukup kenamaan.

Sebagai Bloodshy, Karlsson sudah banyak membantu musisi pop seperti Britney Spears, Hilary Duff, Madonna, Katy Perry, J.Lo hingga Girls’ Generation dan banyak lagi. Sedang Eklöw yang tahun lalu merilis album kedua Style of Eye, “Footprints”, juga kerap membidani lagu-lagu musisi lain seperti Lily Allen, Usher, Kylie Minogue atau Zedd. Dengan resume seperti ini tentunya tidak heran jika tidak usah diragukan lagi kualitas produksi “Pharmacy”.

Yang menjadi pertanyaan, apa yang ditawarkan Galantis untuk albumnya? Apakah EDM yang club ready atau mengejar selera pasar? Well, jawabannya sebenarnya cenderung di yang kedua.

Mungkin karena latar mereka sebagai produser untuk banyak lagu pop, sehingga mau tidak mau “Pharmacy” lebih mengedepankan semangat yang sama dalam lagu-lagunya, meski dikemas dalam bentuk progressive house. Album dibuka dengan sebuah nomor dance ‘Forever Tonight’ yang mengusung semangat ceria dan party dengan masif. Sebuah teaser yang mengindikasikan kesan pop tadi dengan kuat memang.

Memasuki track kedua, ‘Gold Dust’, moody dan melankolisme menjadi menu utama lagunya. Bahkan di pertengah pertama bentuk lagu adalah balada dengan musik latar yang atmosferik. Barulah di sekitar menit 1.30 ia menunjukkan rupanya sebagai progressive house, meski melankolisme tetap dikedepankan.

Pendekatan yang sama, melankolisme, juga bisa ditemukan dalam track seperti ‘Dancin’ to the Sound of a Broken Heart’ yang terasa berkesan karena vokalnya yang lembut, nyaris lirih, menyuarakan kesedihan, meski beat di latar terdengar intens dan ‘Water’ yang bertugas sebagai penutup album.

Sisanya, album berisi nomor-nomor EDM riuh dengan penekakan pada kata Dance seperti ‘In My Head’, ‘Louder. Harder, Better’, ‘Call Me If You Need Me’, ‘Firebird’ dan ‘Don’t Care’. Track-track yang dipastikan akan memeriahkan suasana pesta, meski rasa-rasanya mungkin tidak akan masuk dalam setlist seorang DJ yang berniat memancing adrenalin crowd-nya.

Yang patut menjadi highlight mungkin track ‘Kill ‘Em with the Love’ yang meminggirkan EDM dan terdengar seperti sebuah track pop-rock dan nomor retro-disco ‘Peanut Butter Jelly’ yang fun dan menunjukkan pengalaman Galantis sebagai produser.

So, jika mengharapkan sebagai sebuah album EDM yang inventif ataupun kaya warna, mungkin bukan pilihan yang tepat. Akan susah pula untuk memuaskan kaum puritan EDM. Tapi, overall “Pharmacy” adalah album pop yang seru untuk disimak. Lagu-lagunya enjoyable, catchy dan easy listening. Siap menjadi teman bersantai.

(3.5/7)