Film Review: Negeri di Bawah Kabut (2011)

Negeri di Bawah Kabut

Melalui kehidupan sehari-hari dua keluarga petani, Negeri di Bawah Kabut mengajak kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.”

Saat ini saya merasa beruntung sekali berdomisili di Medan, kota yang biasanya menjadi anak tiri untuk penayangan film-film non-mainstream,  namun syukurlah mendapat jatah pemutaran untuk salah satu film karya anak negeri yang berprestasi, Negeri di Bawah Kabut atau The Land Beneath the Fog. Film ini hadir sebagai bagian pemutaran keliling film dokumenter karya Shalahuddin Siregar yang menoreh catatan khusus dengan meraih Special Jury Prize’ di The 8th Dubai International Film Festival 2011 yang lalu.

Continue reading “Film Review: Negeri di Bawah Kabut (2011)”

Film Review: Hugo (2011)

I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason.” (Hugo Cabret)

Bagi yang mengaku sebagai penggemar film, akan selalu ada kenangan tersendiri dengan pengalamannya terhadap film, terutama saat pertama kali ia bersentuhan dengan media gambar bergerak tersebut. Bagi Hugo Cabret (Asa Butterfield), ayahnya-lah (Jude Law) yang memperkenalkan dirinya dengan film. Sayang, sang ayah telah tiada dan kini Hugo terkatung-katung di sebuah stasiun kereta api di kota Paris yang bernama Gare Montparnasse, menemani pamannya Claude (Ray Winstone) yang pemabukan dan bertugas sebagai mekanik jam di stasiun tersebut. Hugo terobsesi dengan peninggalan ayahnya, sebuah otomaton rusak yang tampaknya sulit untuk diperbaiki. Namun, pertemuannya dengan seorang pria tua bernama Georges Méliès (Ben Kingsley) mungkin akan membantu dirinya.

Continue reading “Film Review: Hugo (2011)”

Film Review: The Artist (2011)

Mary Pickford (1892-1979), salah satu aktris kenamaan di era film bisu, pernah meremehkan keberadaan film berbicara (talkies) yang mulai dipilih oleh banyak studio saat itu. “Adding sound to movies would be like putting lipstick on the Venus de Milo,” demikian cemoohnya. Sayangnya, talkies  justru semakin bersinar sedangkan bintang Pickford yang bersikeras bertahan dengan film bisu mulai meredup. Demikian pula halnya dengan George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor populer rekaan Michel Hazanavicius dalam The Artist, yang sangat percaya dengan kekuatan film bisu. Baginya talkies hanya keisengan semata-mata dan akan segera berlalu. Berkat prilaku keras kepalanya, karirnya malah semakin merosot dan bahaya depresi pun mulai membayangi-bayangi kehidupannya.

Continue reading “Film Review: The Artist (2011)”

2011: A Great Year of Cinema – 10 Best Films

2011

Bagi saya, tahun 2011 adalah tahun yang cukup luar biasa untuk dunia perfilman, karena begitu banyak film bagus yang bisa saya simak dan ternyata sebagian besar tampil dengan sangat memuaskan. Oleh karenanya, saat harus mengurutkan film-film dianggap sebagai yang terbaik untuk periode ini, saya menemukan sedikit kesulitan. Sementara itu, dari pengamatan saya, film-film yang berasal dari luar ranah produksi Hollywood, justru mampu tampil dengan sangat menonjol. Meski begitu, untuk tahun 2011, industri perfilman Amerika juga memiliki banyak judul yang tampil mengkilap dan mengasyikkan untuk di tonton, termasuk untuk tradisi film-film musim panas yang kali ini relatif lebih baik secara kualitas daripada tahun 2010. Terlepas dari itu, dengan kehadiran film-film yang memiliki mutu baik ini, kita sebagai penonton tidak hanya melulu mendapat tontonan yang menarik namun juga diperkaya secara intelektual melalui film-film yang dapat menjadi sebuah refleksi kritis bagi diri kita sendiri. Tanpa panjang lebar lagi, berikut 10 Film Terbaik 2011:

Continue reading “2011: A Great Year of Cinema – 10 Best Films”

Best 40 Album of 2011 – Part4 (10-01)

2011 Albums

Akhirnya kita tiba juga di bagian akhir daftar album yang saya anggap terbaik untuk tahun 2011 yang lalu. Tentu saja sebuah penyusunan daftar seperti ini sifatnya tidak terlepas dari subjektifitas dan bias tertentu, sehingga tidak bisa mewakilkan selera tertentu atau perspektif secara jeneral. Sebelum melengkah lebih jauh, tidak ada salahnya saya menyebutkan jika 2011 termasuk tahun yang menggembirakan untuk industri musik karena cukup banyak dirilis album-album yang berkualitas dan sangat menarik perhatian. Oleh karenanya saya menemui sedikit kesulitan untuk memasukan 40 album untuk menjadi yang terbaik menurut saya. Setelah mengalami beberapa kali perombakan, akhirnya daftar ini pun sudah bisa mendapatkan judul-judul yang akan mengisinya.

Continue reading “Best 40 Album of 2011 – Part4 (10-01)”

Best 40 Album of 2011 – Part3 (20-11)

20. Portamento (The Drums)

Berselang satu tahun dari debut mereka, trio Jonathan Pierce (vokal, drum), Jacob Graham (synthesizers) dan Connor Hanwick (guitar) yang tergabung dalam The Drums sudah meluncurkan album kedua mereka,  Portamento. Masih mengusung rock-alternatif minimalis yang mengandalkan, tentu saja, drum. Imbuhan new-wave dan post punk pun mempercantik lagu-lagu yang mereka bawakan. Vokal yang sedikit terpengaruh oleh unsur lo-fi tak pula mengurangi keasyikan untuk mendengarkan sentuhan rockabilitas mereka. Memang, mungkin terdengar terlalu tipikal dan standar, namun percayalah, The Drums selalu bisa mengajak kita untuk terjebak dalam lagu-lagu mereka yang sangat mudah untuk dicerna.

Continue reading “Best 40 Album of 2011 – Part3 (20-11)”

Film Review: The Flying Swords of Dragon Gate 3D (2011)

Setelah kesuksesan Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame di tahun 2010 lalu, tampaknya Tsui Hark sudah kembali ke fitrahnya, WuXia. Kini, dalam The Flying Swords of Dragon Gate (Lóng Mén Fēi Jiǎ – 龍門飛甲) ia kembali mengajak kita untuk masuk dalam dinamika dunia persilatan yang dipenuhi oleh kelebatan golok dan pedang. Lebih serunya lagi, petualangan di ranah Tiongkok klasik ini ditampilkan dalam efek kontemporer yang sangat ini tengah menjamur, yaitu sinema tiga dimensi. Sesuatu yang baru untuk industri perfilman Asia. Jadi, bersiaplah untuk melihat pisau-pisau yang melayang keluar dari layar, seolah-olah ditujukan kepada kita, sang penonton.

Continue reading “Film Review: The Flying Swords of Dragon Gate 3D (2011)”

Film Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)

Dalam Ghost Protocol, judul keempat dalam seri film Mission: Impossible, Tom Cruise seolah tak ada matinya. Dengan melakoni berbagai adegan berbahaya, yang kabarnya dilakukan tanpa pemeran pengganti, ia seolah-olah menegaskan jika dirinya masih seorang mega-bintang yang solid. Nyaris dalam sepanjang durasinya, kita akan menyimak Ethan Hunt, agen rahasia IMF yang diperankan oleh Cruise, berjibaku dengan situasi yang mengharuskan dirinya melakukan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Bergayutan di gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai, bukan satu-satunya. Film semarak dengan ledakan, tembakan, adu jotos, kejar-kejaran, adu taktik, adu kecanggihan teknologi dan semacamnya. Lantas apa kelebihan film ini dibandingkan para pendahulunya?

Continue reading “Film Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)”

Film Review: Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Seperti yang tersebutkan di review Sherlock Holmes (2009) lalu, saya sangat menanti-nanti kehadiran sekuel filmnya karena akan hadirnya archenemy sang detektif kondang, Prof. James Moriarty sebagai lawan tangguhnya. Dan dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows, Guy Ritchie menepati janjinya, meski tidak ada Brad Pitt di sini seperti yang dirumorkan. Namun pilihan memakai salah satu aktor watak Inggris, Jared Harris, ternyata tidak sepenuhnya blunder, karena Harris mampu memberikan kedalaman yang cukup untuk karakternya, agar tidak jatuh menjadi villain satu dimensi ala film-film James Bond, meski untuk adegan-adegan yang membutuhkan ketangguhan fisik, harus diakui ia tampil dengan kurang meyakinkan.

Continue reading “Film Review: Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)”