White Night

White Night

White Night (백야 – Baek Ya) awalnya diniatkan Leesong Hee-il sebagai bagian dari trilogi film pendek bersama dengan Suddenly, Last Summer dan Going South. Akan tetapi, khusus untuk White Night, wacana berkembang menjadi sebuah film panjang, yang ternyata tidak begitu panjang juga. Tapi, dengan durasi 75 menit, film cukup efektif bertugas sebagai sebuah drama roman sekaligus komentar sosial.

Sebagai sutradara yang secara terbuka mengaku gay, Leesong Hee-il tidak melulu menjual dirinya. No Regret (2006) membuktikan jika ia patut untuk diperhitungkan. Terbukti dalam White Night ia meningkatkan kualitas teknis dan juga kemapanan dalam bercerita.

Memang, terkadang ia masih terasa meledak-ledak yang menunjukkan kekurang matangandari segi emosionil. Tapi White Night cukup sukses dalam memberikan kita film yang padat secara tutur dan juga menyentuh secara esensi.

Secara tematis, agak mengingatkan akan Weekend (2011) karya Andrew Haigh. Dan White Night juga mencuplik kisah sepasang pria asing yang mulanya hanya ingin melakukan one night stand, namun berkembang menjadi semacam proses dialogis yang membuka diri mereka masing-masing.

Dua sosok yang berbeda secara karakter (diperankan oleh Won Tae-hee dan Lee I-kyeong) menjadi sentra; satu dingin, terkesan angkuh dan menjaga jarak, sedang satu lagi hangat, akrab dan terbuka. Pada awalnya rendezvous mereka tidak berjalan dengan baik. Keterpaksaan lantas menjadi landasan kebersamaan. Tapi seperti diduga, perlahan afeksi mulai timbul dan mungkin menentukan masa depan mereka.

Plot film dibuka seperti mengupas bawang. Penuh lapisan yang harus dipreteli satu persatu. Tapi proses pengupasan ini untungnya tidak mengundang air mata, karena Leesong Hee-il menjaga filmnya agar tidak terlalu melodmaratis, sementara pemberi penekanan yang cukup tajam pada isu sosial yang terjadi pada kalangan homoseksual Korea Selatan. Hanya saja perlu ekstra perhatian agar kita, penonton, tidak mengelupas lapisan yang salah.

White Night menunjukkan kelas Leesong Hee-il sebagai sutradara. Tradisi penjelasan verbal digantinya dengan bahasa visual penuh makna dan juga pengandalan pada gestur karakter-karakternya. Hal ini mengizinkan penonton untuk menganalisa situasi secara personal.

Perlu ketelatenan memang, but if we succeed, we will know that White Night is really a captivating film. Kompleks sekaligus sederhana. Riuh tapi juga sunyi. Romantis namun getir.

(4/5)

Film Review: Out In The Dark (2012)

Out In The Dark

Out In The Dark memberikan bukan hanya kisah cinta, namun juga tentang harapan serta ketidakpastian yang kerap mengambang seperti satelit disekitarnya.

Seorang mahasiswa bernama Nimr (Nicholas Jacob) jatuh cinta dengan Roy (Michael Aloni), seorang pengacara. Namun, hubungan sejenis bukan hanya satu-satunya masalah mereka. Sebagai seorang laki-laki Palestina, Nimr tentunya menyimpan rapat-rapat identitas dirinya dari hadapan keluarga. Sedang Roy yang asal Israel, menjalani hubungan mereka dengan lebih santai.

Latar belakang mereka yang jauh berbeda perlahan menjadi bom waktu dan dengan latar konflik Palestina dan Israel yang tak kunjung selesai, film kemudian berganti rupa menjadi thriller saat memasuki paruh akhir.

Sebelumnya memang sudah ada The Bubble (2006) karya Eytan Fox yang mengambil pendekatan serupa, akan tetapi Out in the Dark memiliki plot yang lebih padat dan berkesan.

Out In The Dark merupakan debut dari Michael Mayer (bukan Michael yang itu, ya). Sebagai debutan, ia cukup mulus mengeksekusi filmnya, meski di beberapa titik skrip terasa sedikit lemah. Akan tetapi patut dipuji ia tidak terlalu terjebak pada sentimental cengeng yang berlebihan.

Tensi dibanggun dengan cukup baik melalui suspensi yang cukup terjaga. Film cukup sukses membuat kita sulit menebak ke mana film akan mengarah atau akan diakhiri.

Yang lebih penting, Out In The Dark merupakan film yang tidak hanya sukses bertugas sebagai romansa mengharu-biru, tapi juga sebuah studi sosiologis yang cukup subtil dan drama humanis dengan emosi yang cukup tergali.

PS. I love Nicholas and Michael’s chemistry. Tremendously well build. They make a believable pair. Awesome job, especially for Nicholas who also a debutante.

(4/5)

Film Review: 9 Summers 10 Autumns (2013)

9 Summers 10Autumns

Sangat menarik sudut pandang yang diajukan dalam 9 Summers 10 Autumns (9S10A), sebuah film baru karya Ifa Isfansyah (Sang Penari, 2011), yang sedikit bersebrangan dengan film-film sejenis yang juga diangkat dari buku kisah sukses keluar dari kemiskinan seperti Laskar Pelangi (2008) atau Negeri 5 Menara (2012). Jika di film-film tersebut pendidikan merupakan jalan untuk meraih kesuksesan (yang ditandai dengan menyambangi negeri-negeri asing), maka dalam 9S10A, Iwan (Ihsan Tarore, Sang Pencerah, 2010) juga mengandalkan keluarganya yang mendorong dirinya untuk lebih maju. Hijrah ke New York selama kurang lebih 10 mungkin bisa menjadi salah satu indkasi keberhasilannya. Namun, Iwan ternyata lebih memilih negeri tercintanya sendiri ketimbang hidup mapan di luar negeri.

Continue reading “Film Review: 9 Summers 10 Autumns (2013)”

Film Review: 5CM. (2012)

5CM
Trend mengangkat buku sukses menjadi sebuah film di Indonesia berlanjut dengan hadirnya 5CM., berdasarkan karya Donny Dhirgantoro yang sampai Desember ini kabarnya telah dicetak ulang sebanyak 25 kali. Kali ini giliran Rizal Mantovani (Jelangkung, Air Terjun Pengantin) yang mendapat giliran didapuk untuk bertanggung jawab menggubah barisan teks dalam novel menjadi bentuk film.

Continue reading “Film Review: 5CM. (2012)”

Film Review: Life of Pi (2012)

LIfe of Pi

Life of Pi adalah sebuah film yang mengagumkan. Ia tidak hanya menampilkan visual yang kaya dan pemanfaatan efek khusus yang cermat dan tepat guna, akan tetapi juga sebuah naratif yang kuat dan kental dengan nilai-nilai filosofis yang mencerahkan. Masalahnya, bagi sebagian besar orang, nilai yang dibawa oleh film ini mungkin terdengar terlalu berlebihan jika tidak mau disebut utopis.  Akan tetapi, satu yang pasti Ang Lee (The Wedding Banquet, Sense and Sensibility), sang sutradara, dengan sangat gemilang berhasil mempersembahakan kepada kita sebuah film dengan pencapaian aspek sinematis yang luar biasa dan merupakan salah satu yang terbaik untuk tahun ini.

Continue reading “Film Review: Life of Pi (2012)”

Film Review: The Girl (2012)

Siapa saja yang menggemari film pasti mengenal siapa itu Alfred Hitchcock. Sutradara legendaris ini terkenal dengan barisan film suspensnya yang menawan. Uniknya, 2012 menandakan hadirnya dua film biopic yang mencoba mengangkat namanya, yaitu Hitchcock, karya Sacha Gervasi yang mengangkat kronika di balik pembuatan Psycho (1960), serta The Girl, sebuah film televisi arahan Julian Jarrold (Kinky Boots) yang disiarkan oleh HBO dan berkisah tentang lika-liku hubungan antara Hitchcock bersama artis orbitannya, Tippi Hedren (The Birds, Marnie).

Continue reading “Film Review: The Girl (2012)”

Film Review: Skyfall (2012)


Terlepas dari pengakuan Sam Mendes (American Beauty, Revolutionary Roads) yang menyebutkan pengarahannya dalam Skyfall terinspirasi oleh The Dark Knight (2008) karya Christopher Nolan, yang pasti ia mengenal dengan baik karakter agen rahasia Inggris populer, James Bond, dan kemudian mengimplementasikan dengan tepat guna dalam filmnya. Skyfall hadir sebagai layaknya sebuah film Bond dan tidak hanya menandakan kali ketiga Daniel Craig menjabat sebagai 007, namun juga menjadi perayaan 50 tahun karakter rekaan Ian Fleming ini memeriahkan layar bioskop, yang sejauh ini hadir dalam sebanyak 23 judul.

Continue reading “Film Review: Skyfall (2012)”