July Talk – Self Titled

July Talk

Meski sering dipandang remeh, tapi skena musik Kanada sebenarnya memiliki banyak nama yang kini populer di industri musik dunia. Meski mungkin akan lama menyusul kesuksesan Arcade Fire misalnya, tapi band pendatang baru July Talk tampaknya siap menambah nama dalam daftar musisi Kanada yang merambah ranah global. Mereka hadir dalam album debut mereka, sebuah album self-titled yang menawarkan kekuatan musikalitas mereka di genre rock.

Continue reading “July Talk – Self Titled”

Sigur Rós – Kveikur

Sigur Rós - Kveikur

Hanya setahun berselang dari Valtari, band pengusung post-rock asal Islandia, Sigur Rós, sudah menghadirkan Kveikur sebagai album ke-11 mereka. Berbeda dengan Valtari yang lebih banyak mengedepankan unsur-unsur elektronika, dalam Kveikur Sigur Rós kembali lagi ke akar bermusik mereka. Limpahan vokal menghanyutkan dari Jonsi hingga lantunan melodi yang mengawang-awang, mengajak memasuki ranah antah berantah yang magis dan surreal.

Bukan lantas Sigur Rós menghilangkan elektronika begitu saja. Yfirborð merupakan contoh tepat dimana ambient yang kuat kemudian dilimpahi oleh semangat trance yang kental, meski secara umum lagu ini adalah pancaran sebuah nyanyian meditatif ala Sigur Rós yang menari-nari di benak, ketimbang melakukannya secara aktif dalam bentuk fisik.

Mendengarkan Sigur Rós memang terkadang seperti menyimak sebuah konsep metafisika. Ia terasa jauh, mengawang dan bekerja di luar sensor fisik. Musiknya menginvasi ruang otak dan kemudian mengendap, mememarkan sebuah keindahan yang suram tapi sulit untuk ditolak pesonanya.

Simak saja Ísjaki, yang adalah bahasa Islandia untuk menyebut iceberg atau gunung es. Setelah Brennisteinn yang terdengar sangat kompleks, maka dalam Ísjaki aransemen yang dikerjakan oleh Sigur Rós terdengar lebih sederhana, melodius dan harmonis. Bebunyian eklektik masih hadir disudut-sudutnya untuk memberi aksen sementara ambient yang menjadi ciri khas Sigur Rós masih tebal mendominasi.

Stormur terdengar seperti panggilan untuk merayakan sebuah keriuhan, dengan rock yang lebih intens menjadi corongnya. Sementara Hrafntinna seperti mantra manis yang meliuk-liuk dan kemudian membalut pendengaran dalam nuansa mistisnya. Nomor penutup, Var, adalah sebuah “balada” yang dengan semerta-merta membuat kita seperti terjatuh dalam vorteks kesenduan yang tebal.

Kveikur, yang juga menjadi judul album, merupakan contoh tepat untuk menyimak gerungan post-rock yang menjadi kekuatan utama Sigur Rós. Kekuatan mereka dalam lagu yang meski terdengar “aneh” tapi tetap terasa lekat, terutama di benak. Kveikur tidak hanya mengejar sound-sound kelam dengan musikalitas yang eklektis, namun juga mampu menghadirkan melodi-melodi plastis yang gampang untuk direlasikan. Asal mengerti triknya, tentu.

Mendengarkan Kveikur adalah seperti pengalaman batin yang suram. Tapi di balik kesuramannya ia mampu menyebar jaring yang mengikat perasaan dalam perasaan megah dan anthemis. Di balik kesuramannya kita seolah menyimak keindahan yang menggedor-gedor dan kemudian menarik kita dalam sebuah alur sungai yang kadang beriak, namun juga terkadang tenang menghanyutkan. Sebuah pengalaman meditatif.

Sekali lagi Sigur Rós membuktikan tidak perlu halangan bahasa untuk dapat mengerti sebuah komposisi musik. Yang paling utama itu adalah hadirnya “hati” dalam mengerjakan musiknya. Membuka “hati” juga merupakan salah satu syarat agar Kveikur mampu mengajak kita untuk memasuki relung-relung petualangan musikal yang menghanyutkan. Mendengarkan Kveikur bukan hanya mendengarkan musik. Ia juga kontemplasi dari sebuah meditasi yang personal.

(4.5/5)

Her

Her

“If I was an insecure hipster, I probably would love Her.” That was my first response of the film after I saw it. Apparently some people thought that I was slyly “cooked up the term” (probably) to justify my (weak) (and judgmental) comment. They referred me to Merriam-Webster definition of, you know, hipster. I couldn’t help but laughed and I’m glad they got a very resourceful reference. I wonder though, if they have checked the more elaborate terminology on Urban Dictionary or probably the (just) Dictionary. We’ll come to that. Let’s chat about the film first.

Her lagi-lagi sebuah fantasi Hollywood tentang “cinta sejati” yang tak lain merupakan variasi kesekian dari Pygmalion. Dengan adanya nama Spike Jonze melekat sebagai sutradara, harapan akan film yang quirky pun sulit dihindarkan.

Of course Her got a peculiar character like Theodore (Joaquin Phoenix) who deeply in love with his OS, Samantha (disulih suara oleh Scarlett Johansson). Kisah cinta mereka dibangun dengan cukup masuk akal dan meyakinkan. Kita percaya jika Theodore mampu mencintai sebuah mahluk artifisial. Tapi Theodore terlupa jika sehumanis apapun Samantha, ia tetap sebuah produk.

Film patut dipuji karena berani menunjukkan kelemahan ini. Sayang Jonze sebagai penulis naskah kembali terjebak pada konsep Antropomorfisme yang seringkali memerangkap film-film Hollywood. Samantha bukan manusia. Tapi demi kenyamanan film ia harus terlihat, atau terdengar, seperti manusia utuh. Ini membuat romantisme klise sulit dihindarkan.

Theodore, and most people in the film, depicted as have a particularly (kinda) strong sense of alienation from most established social activities and relationships. Dan itu merupakan definisi hipster menurut kamus lho? Haha. Memang, menurut Dictionary, istilah ini lebih jamak untuk dekade 1950-an. Mungkin akan terlihat seperti sebuah oversimplifikasi. Namun film juga melakukan oversimplifikasi dalam kritisinya terhadap teori alienasi. Jadi, mengapa tidak?

Her bisa saja bermaksud baik dengan menggambarkan bagaimana manusia sudah begitu terikat dengan perangkat canggih mereka sehingga meminggirkan tawaran hubungan yang lebih organis dengan sesama manusia. Mungkin karena Theodore juga digambarkan sebagai sosok yang mengalami krisis rasa nyaman sehingga ada mantan istrinya, Catherine (Rooney Mara) yang merasa tersiakan. Bahkan mungkin ia melewatkan kesempatan untuk membina hubungan yang lebih lekat dengan sahabatnya, Amy (Amy Adams).

Does it a heartbreaking or heartfelt film? Bisa jadi. Tapi sulit juga mengusir kesan jika secara penceritaan, Spike Jonze terasa manipulatif terhadap emosinya. Ia punya semua pakem melodramatis agar kita merasa suka kepadanya. Jika itu memang disengaja, mungkin ini memang film yang luar biasa. Mungkin. But I’m not buy it.

(3/5)

Oldboy

Oldboy

Plot Oldboy versi Spike Lee mempunyai lubang menganga yang mungkin saja sebuah truk gandeng bisa muat di dalamnya. Lubang yang pada Oldeuboi, film kreasi Park Chan-wook di tahun 2003, dapat dihindarkan berkat pemilihan detil yang tepat.

Sebagaimana umumnya sebuah remake, Oldboy terkini ini mencoba untuk tampil lebih baik, memoles versi asli dengan substitusi yang (dirasa) lebih bagus, tapi tetap saja kehilangan nyawa grittiness dan sinisme juga tekstur cerita yang kaya lapisan, sebagaimana milik Chan-wook. Ini yang membuat Oldboy 2013 pada beberapa titik terasa kering dengan atmosfir dan “lurus”.

Bukan berarti Spike Lee tidak menjalankan tugasnya dengan kredibel. Oldboy memiliki pace yang cukup terjaga. Dan sebagai thriller, suspensi dan intensitas juga dibangun dengan konsisten. Masalah terbesar terletak pada pergerakan plot yang terkadang terlihat konyol dan dangkal.

Tentu saja plot tentang seorang pria yang disekap selama 20 tahun dan tiba-tiba dibebaskan terasa komikal. Sumber asli memang berawal dari manga karya Garon Tsuchiya dan Nobuaki Minegishi. Tapi ia juga seharusnya sebuah thriller psikologis yang gelap dan menohok. Oldboy dalam perspektif Lee adalah sebuah matinee thriller yang gampang dilupakan.

Trio Josh Brolin, Elizabeth Olsen dan Sharlto Copley mungkin penyelamat terbesar dari blunder yang dilakukan oleh Oldboy. Dan oh, mugkin juga pilihan Lee untuk mengimbuhi filmnya dengan semangat Hitchcock, lengkap dengan skoring Bernard Herrmann-esque. Dengan ini setidaknya Oldboy adalah thriller yang masih cukup enak buat disantap.

(3/5)

Ilo Ilo

Ilo Ilo

Menyaksikan film-film pendek Anthony Chen, sulit untuk menafikan kesan jika ia memilih untuk menghadirkan tema-tema kekeluargaan dalam filmnya. Dan begitu juga dengan film panjang pertamanya, Ilo Ilo (爸妈不在家 / Ba Ma Bu Zai Jia), yang memenangkan Camera d’Or di Cannes 2013 lalu.

Kekuatan Chen dalam menghadirkan kisah sederhana yang mengikat, diuji dalam durasi yang lebih panjang. Syukurlah ia melaluinya dengan cukup mulus. Berseting Singapura pada saat krisis ekonomi di akhir 90-an, Ilo Ilo tidak hanya mengungkap tentang hubungan tulus yang terjadi dalam sebuah keluarga kelas menengah, tapi juga menjembatani perbedaan sikap dan pandangan antara sosok-sosok yang berasal dari kultur yang berbeda.

Pada suatu titik, Ilo Ilo terlihat mencoba menjadi sebuah analisa sosial tentang fenomena buruh migran dari negara berkembang di negara yang lebih signifikan tingkat perekonomiannya. Sayang, kesan jika film hanya mencuplik wacana tersebut dalam tingkat permukaan saja juga sulit untuk diindahkan.

Baiknya, hal tersebut tidak begitu mengganggu tema utama dari Ilo Ilo. Kehadiran Terry (Angeli Bayani ) asal Filipina di tengah kehidupan seorang bocah berama Jiale (Koh Jia Ler) bukannya tanpa friksi. Alih-alih melodramatis, pilihan Chen untuk mengeksekusinya dengan lembut, akrab, kadang menggelitik, kadang getir, dan tidak tergesa, sukses untuk menarik tidak hanya perhatian, namun juga menguras emosi.

(4/5)

Nebraska

Nebraska

Hal yang patut dikagumi dari Alexander Payne adalah konsistensinya dalam mengerjakan film-film yang mengangkat isu-isu keluarga. Mungkin di permukaan karakter-karakternya terlihat kacau, tapi jalan cerita selalu mempunyai tikungan yang mengarahkan sentimentalia menjadi subtilitas yang pekat. Nebraska bukan pengecualian.

David (Will Forte) terpaksa menemani ayahnya, Woody (yang diperankan dengan sangat gemilang oleh Bruce Dern), yang sangat kokoh dengan keinginannya untuk mengutip hadiah lotere $1 juta, melakukan perjalanan dari tempat mereka tinggal, Montana, menuju Nebraska. Perjalanan ini, seperti yang diduga, mengevaluasi hubungan antar keduanya.

Film sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Pesan moral tentang hubungan keluarga dalam konteks sosiologis Amerika pun sudah cukup sering kita simak. Yang menjadi pembeda terletak pada pendekatan low-key yang dipilih oleh Payne. Film pun menjadi terasa akrab dan personal, karena emosi dibangun dengan lebih perlahan dan santai, ketimbang meledak-ledak.

Pemilihan warna hitam-putih mungkin tidak akan menjadi favorit banyak orang, tapi tampilan monokrom mempertegas buramnya konteks yang diangkat oleh Nebraska. Terasa pas dengan humor offbeat yang menghiasi film bercorak road movie ini. Sedikit kekurangan mungkin terdapat pada beberapa karakter pendukung yang terasa karikatural, dibanding David dan Woody yang sangat membumi.

Memang perlu waktu dan kesabaran untuk mengetahui kemana film mengarah. Namun, dengan cita rasa yang memadukan antara Bogdanovich dan Fellini serta segala familiaritasnya, Nebraska justru merupakan film komedi melankolis yang hangat juga menyentuh.

(4/5)

Hawaii

Hawaii

Menyaksikan film yang mayoritas hanya diisi oleh dua karakter saja bisa jadi menjemukan, jika sang sutradara tidak memiliki materi atau dinamika plot yang kuat ataupun karakter yang menarik. Tidak heran jika jarang sekali kita menemukan film-film seperti itu. Hawaii, karya sineas Argentina, Marco Berger, mencoba pendekatan ini. Dan secara mengejutkan ia sukses dalam menjalankan misinya.

Film berkisah tentang Eugenio (Manuel Vignau) yang memperkerjakan Martin (Mateo Chiarino) di rumah keluarganya di desa selama musim panas. Ternyata mereka teman semasa kecil. Kini kebersamaan antara mereka tidak hanya mengembalikan kenangan lama, juga berkembang menuju arah yang tak terduga.

Dalam durasi 102 menit, film berisi adegan-adegan yang hanya memperlihatkan keseharian Eugenio dan Martin. Tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi. Bahkan dialog kebanyakan diisi oleh hal-hal yang trivial. Fokus lebih menekankan pada ekspresi dan gestur yang ditunjukkan keduanya. Bisakah lantas kita sebut film bekerja pada level psikologis? Rasanya bisa.

Dengan pendekatan simplistiknya, Hawaii sukses mengajak penonton untuk turut dalam ritme hubungan dua pemuda ini. Kita bisa merasakan kegelisahan, penasaran ataupun kebingungan mereka. Terimakasih pada chemistry antara Vignau dan Chiarino yang terjalin demikan baik dan pengarahan Berger yang rapi dan efisien.

Hawaii agak mengingatkan segmen El Primo dalam Sexual Tension: Volatile (2012), yang juga karya Berger. Bahkan beberapa adegan memiliki kemiripan. Tapi Hawaii jelas jauh lebih baik dalam teknik bertuturnya serta memiliki kandungan kedalaman yang jauh lebih tebal.

(4/5)

12 Menit: Kemenangan Untuk Selamanya

12 Menit Kemenangan Untuk Selamanya

Hanny R. Saputra mengembalikan kepercayaan pada dirinya dengan 12 Menit: Kemenangan Untuk Selamanya. Tidak hanya itu, film yang dibintangi oleh Titi Rajobintang sebagai pelatih Marching Band ini mungkin bisa disebutkan sebagai film terbaiknya.

Kisah yang diangkat sebenarnya tidak istimewa. Bahkan sebenarnya sudah pernah dibahas dalam film-film bertema sportifitas lainnya. Tapi kekuatan dari film ini terletak pada ritme cerita yang mengalir lancar, dinamis, serta mengikat.

Alih-alih berbicara tentang proses from zero-to-hero, persaingan ataupun raihan kemenangan, 12 Menit: Kemenangan Untuk Selamanya lebih berkeinginan untuk menggali tentang etos kerja, passion dan juga filosofi tentang kemenangan itu sendiri.

Porsi dramanya tidak istimewa. Bahkan di awal terasa bergerak dengan terlalu cepat. Karakterisasi juga kurang tergali dengan kuat, sehingga kurang memberikan efek lekat yang membekas. Tapi kemudian adegan-adegan mengalir dengan lebih efektif, tepat guna serta menghindari melankolisme yang berlebihan. Sesuatu yang nyaris tidak kita temukan dalam film-film Hanny sebelumnya.

Yang paling penting, semua drama dibayar lunas dengan penampilan finale yang dieksekusi dengan baik. Dengan durasi juga 12 menit, finale ini tidak hanya berhasil sebagai puncak momentum film, tapi juga sebuah akumulasi dari wacana yang didengung-dengungkan di sepanjang film.

(3.5/5)

Favorite Film 2013

FaveFilm2013

Another year has gone by. And seems the compulsory task of doing the top 10 list of whatever is return with glory. Not that I’m complain. I love doing this thing. Tapi, entah mengapa mengerjakan list seperti ini selalu menguras enerji dan emosi. Haha. Okay, back to our topic.

Ada 10 film rilisan 2013 yang masuk dalam daftar favorit saya tahun ini. Mungkin tidak yang terbaik, karena standar kualitas itu selalu objektif dan hukum relatifitas Einstein berlaku di sini.  Yang jelas, bagi saya pribadi tentunya film-film ini saya anggap terbaik, therefore I put them on my list.

Continue reading “Favorite Film 2013”