Book Review: The Bone Ritual [Julian Lees]

Saat ini, ranah crime-fiction (kontemporer) biasanya berseting entah di kawasan Amerika, Inggris atau Skandinavia. Nama-nama seperti Peter James, Robert Galbraith (aka J.K. Rowling), Jo Nesbø, atau John Connoly adalah sebagian kecil pengarang terkenal dengan detektif rekaan mereka yang tak kalah beken. Oleh karenanya, menarik saat Julian Lees memindahkan seting ke wilayah Asia, atau Indonesia lebih tepatnya, dengan The Bone Ritual, pertama dari seri dengan Inspektur Polisi Ruud Pujasumarta sebagai karakter utama.
Continue reading “Book Review: The Bone Ritual [Julian Lees]”

Film Review: Havenhurst (2016)

Saat sebuah film horor lebih memilih untuk mengikuti pakem secara ajeg alih-alih mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang baru, maka kita akan berhadapan dengan sebuah film yang begitu klise sehingga hanya bisa dinikmati kalau meminggirkan rasa familiaritas guna bisa menikmatinya. Itulah problematika dalam Havenhurst karya Andrew C. Erin (Sam’s Lake).

Continue reading “Film Review: Havenhurst (2016)”

Film Review: Lavender (2016)

Selepas The Last Exorcism Part II (2013), yang naskahnya ditulis bersama dengan Damien Chazelle (Whiplash, La La Land), kurang mendapat sambutan memuaskan dari para kritikus, sutradara asal Kanada, Ed-Gass Donnelly, ternyata tidak mau menyerah begitu saja di genre horor. Kali ini ia datang kembali dengan Lavender. Meski memang bukan horor murni karena dibungkus juga dengan drama dan thriller.

Continue reading “Film Review: Lavender (2016)”

Film Review: Miss Sloane (2016)

Siapapun yang melihat, sadar jika Miss Elizabeth Sloane (Jessica Chastain) adalah sosok menarik, cerdas, lagi kharismatis. Tapi ada sesuatu yang angkuh di pembawaannya. Bisa jadi disebabkan karena ia adalah seorang pelobi politik handal. Dengan prinsip Machiavellian yang sepertinya dipegang teguh, ada pertanyaan akan validitas kode etik Miss Sloane dalam menunaikan tugasnya.

Continue reading “Film Review: Miss Sloane (2016)”

Book Review: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi [Yusi Avianto Pareanom]

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sensasi terbaru di dunia literer Indonesia. Debut dari Yusi Avianto Pareanom ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Meski sebuah debut, Pareanom memaparkan ceritanya dengan gaya tutur di atas rata-rata. Selain mengalir, mengikat, serta pemiliham diksi yang cukup kaya agar tidak menjemukan dan monoton, tulisannya terasa matang dan tajam.

Continue reading “Book Review: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi [Yusi Avianto Pareanom]”

Film Review: Sword Master (2016)

Ssebelum ia mencatatkan namanya sebagai salah satu sutradara terkemuka Hong Kong, Derek Yee (Erl Tungsen) lebih dulu dikenal sebagai aktor film-film silat Shaw Brothers  era 70 hingga awal 80-an. Namanya terangkat ke permukaan berkat film berjudul Death Duel (1977) arahan Chu Yuan yang diangkat dari salah satu novel Ku Lung. Kini, 4 dekade kemudian dan bekerjasama dengan salah satu maestro sinema Hong Kong lain, Tsui Hark, ia kemudian mengulang buat  film yang membesarkan namanya tersebut dengan Sword Master ( 三少爺的劍).

Continue reading “Film Review: Sword Master (2016)”

Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)

Selamat datang di “La La Land”, dunia di mana mimpi dan cita-cita dirayakan dengan penuh cinta dalam warna-warni musikal penuh gaya. Sebuah film yang memadukan antara realita dan eskapisme musikal yang dulunya riuh mengisi layar lebar di era 40 hingga 60-an. Kini dalam “La La Land”, jiwa musikal yang sinematik tersebut dihadirkan kembali dengan penuh kejayaan oleh sutradara pemenang Golden Globe, Damien Chazelle (“Whiplash”) dengan Justin Hurwitz (“Whiplash”) sebagai komposer, serta duo Benj Pasek dan Justin Paul (“Smash”) sebagai penulis lirik lagu. Tentunya ada Ryan Gosling dan Emma Stone yang menghadirkan vokal mereka untuk membawakan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh “La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)“.

Continue reading “Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)”

Film Review: La La Land (2016)

Damien Chazelle berusia relatif muda, 31 tahun. Meski begitu, sungguh ia pantas diirikan. Selepas Whiplash (2014) mengangkat namanya ke permukaan, ia menyusulnya dengan sebuah karya tak kalah gemilang, La La Land. Masih menghadirkan musik (jazz) sebagai dasar penceritaan, kini Chazelle justru mengusung nuansa musikal tersebut dengan lebih penuh. Dengan La La Land, ia sukses mengembalikan romantisme tari dan nyanyian sebagai pengantar bercerita. In the glorious Technicolor, breathtaking CinemaScope and stereophonic sound!

Continue reading “Film Review: La La Land (2016)”