Film Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)

Selepas adaptasi Hollywood yang kurang begitu memuaskan (meski sebenarnya cukup menghibur) di tahun 1998, Godzilla kembali disambangi dengan versi 2014 garapan Gareth Edwards yang dianggap lebih berhasil secara kualitas. Meski tetap saja banyak keluhan dilayangkan kepada film tersebut, yang utamanya menyebutkan jika sang Raja Monster itu seperti latar untuk filmnya sendiri.

Continue reading “Film Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)”

Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Bermula dari film laga “kecil” tentang seorang mantan pembunuh bayaran yang membalas dendam kematian anjing kesayangannya di tahun 2014, John Wick (Keanu Reevers) telah mengembangkan semestanya dengan melibatkan sebuah organisasi rahasia yang pelik dan penuh intrik dalam John Wick: Chapter 2 (2017). Kini, melengkapi kisahnya, menyusul pula John Wick: Chapter 3 – Parabellum.

Continue reading “Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)”

Film Review: The Predator (2018)

Awalnya The Predator diniatkan sebagai reboot untuk franchise Predator. Tapi sang sutradara, Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guy), yang sempat terlibat sebagai pemain dalam film orisinal rilisan 1997, memutuskan untuk melanjutkan saja kisahnya. Jadilah The Predator tidak hanya sebagai film keempat Predator, tapi juga sebuah film seorang Shane Black, yang sebagaimana kita ketahui, selalu kental dengan nuansa komedi gelap.
Continue reading “Film Review: The Predator (2018)”

Film Review: Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018)

Sebagaimana umumnya kawasan Asia lainnya, kisah-kisah silat memang jamak menjadi konsumsi masyarakat Indonesia. Semenjak dulu kala cersil alias cerita silat, baik dalam bentuk novel berseri ataupun serial komik, selalu digandrungi. Kisahnya bahkan menyebrang dalam bentuk film, termasuk Wiro Sableng, karya Bastian Tito.

Continue reading “Film Review: Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018)”

Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Continue reading “Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)”

Film Review: Black Panther (2018)

Black Panther, film ke-18 dalam semesta sinematik Marvel, dinantikan dengan antusias karena dianggap sebagai film superhero berkulit hitam utama dalam skala masif, sebagaimana tahun lalu ada Wonder Woman sebagai representasi untuk superhero perempuan. Anggapan yang tidak benar-benar tepat (sudah ada Blade, Spawn atau Hancock misalnya), tapi kita mengerti maksudnya apa.

Continue reading “Film Review: Black Panther (2018)”

Film Review: Blade Runner 2049 (2017)

Meski saat dirilis di tahun 1982, Blade Runner tidak mendapatkan penerimaan yang begitu menggembirakan, baik dari tanggapan kritikus maupun perolehan hasil box office, namun dengan berjalannya waktu, film karya Ridley Scott ini kemudian meraih aklamasi sebagai salah satu film fiksi-ilmiah terbaik sepanjang masa. Terlepas dari eksistensi berbagai versi film yang kemudian hadir. Lompat 35 tahun kemudian, kini hadirlah sebuah sekuel (yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang), Blade Runner 2049, di bawah kendali sutradara Dennis Villaneuve.

2049 (seterusnya kita sebut begitu saja) datang untuk menyusul kesuksesan Villeneuve dengan drama fiksi-limiah pertamanya, Arrival. Oleh karena itu, kombinasi antara Villeneuve, nama Blade Runner itu sendiri dan tentunya kembalinya Harrison Ford memerankan salah satu karakter ikoniknya, Rick Deckard, sang blade runner pemburu replicant, atau manusia yang dikreasi secara rekayasa ilmiah, jelas menambah semangat untuk menunggu hasilnya.

Continue reading “Film Review: Blade Runner 2049 (2017)”

Film Review: Atomic Blonde (2017)

Stuntman/stunt coordinator, David Leitch, bersama dengan rekannya, Chad Stahelski, sukses terangkat namanya sebagai sutradara berkat proyek kolaboratif mereka, John Wick (2014), yang dianggap sebagai salah satu film aksi terbaik dekade ini. Stahelksi kemudian menggarap secara mandiri sekuelnya, John Wick: Chapter 2 (2017), dan berhasil membuktikan jika karya pertamanya bukan hasil kemujuran semata, melainkan bukti jika ia memang memilki potensi sebagai sutradara andalan. Lantas bagaimana dengan Leitch? Ia punya Atomic Blonde sebagai debutnya sebagai sutradara solo.

Continue reading “Film Review: Atomic Blonde (2017)”