Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Continue reading “Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)”

Film Review: Black Panther (2018)

Black Panther, film ke-18 dalam semesta sinematik Marvel, dinantikan dengan antusias karena dianggap sebagai film superhero berkulit hitam utama dalam skala masif, sebagaimana tahun lalu ada Wonder Woman sebagai representasi untuk superhero perempuan. Anggapan yang tidak benar-benar tepat (sudah ada Blade, Spawn atau Hancock misalnya), tapi kita mengerti maksudnya apa.

Continue reading “Film Review: Black Panther (2018)”

Film Review: Blade Runner 2049 (2017)

Meski saat dirilis di tahun 1982, Blade Runner tidak mendapatkan penerimaan yang begitu menggembirakan, baik dari tanggapan kritikus maupun perolehan hasil box office, namun dengan berjalannya waktu, film karya Ridley Scott ini kemudian meraih aklamasi sebagai salah satu film fiksi-ilmiah terbaik sepanjang masa. Terlepas dari eksistensi berbagai versi film yang kemudian hadir. Lompat 35 tahun kemudian, kini hadirlah sebuah sekuel (yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang), Blade Runner 2049, di bawah kendali sutradara Dennis Villaneuve.

2049 (seterusnya kita sebut begitu saja) datang untuk menyusul kesuksesan Villeneuve dengan drama fiksi-limiah pertamanya, Arrival. Oleh karena itu, kombinasi antara Villeneuve, nama Blade Runner itu sendiri dan tentunya kembalinya Harrison Ford memerankan salah satu karakter ikoniknya, Rick Deckard, sang blade runner pemburu replicant, atau manusia yang dikreasi secara rekayasa ilmiah, jelas menambah semangat untuk menunggu hasilnya.

Continue reading “Film Review: Blade Runner 2049 (2017)”

Film Review: Atomic Blonde (2017)

Stuntman/stunt coordinator, David Leitch, bersama dengan rekannya, Chad Stahelski, sukses terangkat namanya sebagai sutradara berkat proyek kolaboratif mereka, John Wick (2014), yang dianggap sebagai salah satu film aksi terbaik dekade ini. Stahelksi kemudian menggarap secara mandiri sekuelnya, John Wick: Chapter 2 (2017), dan berhasil membuktikan jika karya pertamanya bukan hasil kemujuran semata, melainkan bukti jika ia memang memilki potensi sebagai sutradara andalan. Lantas bagaimana dengan Leitch? Ia punya Atomic Blonde sebagai debutnya sebagai sutradara solo.

Continue reading “Film Review: Atomic Blonde (2017)”

Film Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Semenjak Sam Raimi menghadirkan Spider-Man (2002), sementara  ini telah ada 5 buah film versi mutakhir yang berangkat dari karakter komik Marvel kreasi Stan Lee dan Steve Ditko. Dan dalam lebih dari satu dekade kemudian, franchise gawangan Sony ini bahkan telah mengalami reboot dengan The Amazing Spider-Man (2012). Performa yang kurang memuaskan dari The Amazing Spider-Man 2 (2014) ternyata membuat Sony kembali berniat untuk me-reboot kembali franchise-nya. Hanya saja, tentu harus ada yang membedakan jika kisah sang laba-laba merah “diperkenalkan” kembali di layar lebar.

Continue reading “Film Review: Spider-Man: Homecoming (2017)”

Film Review: Wonder Woman (2017)

Setelah sempat sangat mencuri perhatian saat untuk pertama kalinya dalam 70 tahun sejarahnya muncul di layar lebar melalui Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), akhirnya Wonder Woman (Gal Gadot) tampil dalam film solonya yang merupakan bagian ke-4 dari seting DC Extended Universe. Dan melaluinya, sah sudah jika pesona Wonder Woman bukanlah sekedar one hit wonder.

Continue reading “Film Review: Wonder Woman (2017)”

Film Review: Ghost In The Shell (2017)

Sebagai salah satu anime ikonik di era 90-an, tidak mengherankan jika Ghost in the Shell (1995), karya Mamoru Oshii yang diangkat dari manga kreasi Masamune Shirow, sukses dilirik Hollywood untuk diulang buat. Bagaimanapun Ghost in the Shell dianggap sebagai salah satu anime terbaik dan berperan besar dalam perkembangan sub-genre cyberpunk. Termasuk oleh Wachowski bersaudara saat mengerjakan The Matrix (1999).

Continue reading “Film Review: Ghost In The Shell (2017)”

Film Review: Shin Godzilla (2016)

Dengan kesuksesan Godzilla versi Amerika yang dirilis di tahun 2014, tidak heran jika Toho pun melakukan reboot untuk Godzilla versi domestik. Berjudul Shin Godzilla atau Godzilla Resurgence, film merupakan reboot ketiga kalinya dan merupakan produksi ke-29 dalam franchise ini bagi Toho, setelah terakhir Godzilla: The Final Wars (2004). Duduk di bangku sutradara adalah duo  Hideaki Anno (Neon Genesis Evangelion) dan Shinji Higuchi (Attack on Titan), dengan Anno juga bertugas menulis naskah, sedangkan Higuchi menangani efek khusus.

Continue reading “Film Review: Shin Godzilla (2016)”

Film Review: Kong: Skull Island (2017)

Sebagai salah satu ikon sinema terbesar, sebenarnya patut dipertanyakan apa perlunya untuk meremake/reboot lagi King Kong. Apalagi masih cukup segar di ingatan King Kong karya Peter Jacksson (2005) yang hadir dengan kualitas terhitung baik, terlepas dari durasinya yang agak kepanjangan.Meski begitu, selepas remake/reboot Godzilla (2014), Legendary Pictures berniat untuk menghadirkan seri MonsterVerse mereka. Dan itu termasuk “menghidupkan kembali King Kong, yang kemudian hadir dalam Kong: Skull Island.

Continue reading “Film Review: Kong: Skull Island (2017)”