Film Review: A Quiet Place (2018)

Dalam A Quiet Place, pasutri dunia nyata, John Krasinski dan Emily Blunt, berperan sebagai pasutri fiktif dengan beberapa anak yang menghadapi ancaman teror sosok-sosok sensitif terhadap suara di sebuah pedesaan. Mereka harus bertahan hidup dengan meminimalisir volume ucapan dan mengandalkan bahasa isyarat. Jelas premis menarik untuk sebuah film horor. Lebih menarik lagi, film merupakan debut penyutradaraan Krasinski yang kerap bermain dalam film komedi.
Continue reading “Film Review: A Quiet Place (2018)”

Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Continue reading “Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)”

Album Review: Various Artists – Love, Simon (Original Motion Picture Soundtrack) (2018)

Love, Simon adalah sebuah film remaja yang diangkat dari buku laris “Simon vs. the Homo Sapiens Agenda” karangan Becky Albertalli. Dan film lantas disambut gembira, karena ia bukanlah film remaja biasa, karena untuk pertama kalinya, sebuah film remaja yang dirilis studio besar (20th Century Fox) mengangkat cerita remaja dari kalangan LGBTQ sebagai tokoh utama. Film disebut-sebut sebagai pembuka jalan untuk film-film sejenis untuk pasar mainstream. Tapi kita tentunya tidak akan membicarakan filmnya, melainkan album soundtracknya.
Continue reading “Album Review: Various Artists – Love, Simon (Original Motion Picture Soundtrack) (2018)”

Film Review: Red Sparrow (2018)

Saat populasi film mata-mata didominasi asupan adrenalin berkat berbagai adegan laga seru, seperti seri James Bond atau Jason Bourne, senang tetap terselip “anomali” seperti Red Sparrow. Film dengan karakterisasi sebagai sentra, lebih mementingkan tensi dan suspensi, serta dibalut cerita bernas dan tikungan di setiap sudutnya. Semakin menarik mengingat ia diangkat dari novel berjudul sama karangan mantan agen CIA betulan, Jason Matthews.

Continue reading “Film Review: Red Sparrow (2018)”

Film Review: Loving Vincent (2017)

Bahkan orang awam dan bukan pecinta lukisan sekalipun mungkin tahu siapa itu Vincent van Gogh; sosok terkenal dan berpengaruh di seni rupa berkat karya-karya cat minyak indah beraliran pasca-impresionis miliknya. Tentunya setelah pria asal Belanda ini meninggal pada tanggal 29 Juli 1989 di usia 37 tahun, barulah ia mencapai status tersebut. Karena sebagaimana klise “tortured artist”, Vincent awalnya dianggap sebagai seniman gagal. Mengalami gangguan mental dan delusi pula. Lengkap sudah.

Continue reading “Film Review: Loving Vincent (2017)”

Film Review: Black Panther (2018)

Black Panther, film ke-18 dalam semesta sinematik Marvel, dinantikan dengan antusias karena dianggap sebagai film superhero berkulit hitam utama dalam skala masif, sebagaimana tahun lalu ada Wonder Woman sebagai representasi untuk superhero perempuan. Anggapan yang tidak benar-benar tepat (sudah ada Blade, Spawn atau Hancock misalnya), tapi kita mengerti maksudnya apa.

Continue reading “Film Review: Black Panther (2018)”

Album Review: Rich Brian – Amen (2018)

Sungguh sebuah perjalanan yang luar biasa untuk remaja asal Jakarta, Indonesia, Brian Imanuel. Bermula dengan moniker kontroversial, Rich Chigga, dan lagu faux-hip-hop viral, ‘Dat $tick’ (2016), yang bahkan sukses menyabet sertifikasi Gold RIAA. Kini, di usia 18, ia melepas moniker tadi dan memilih “nama panggung” lebih serius, Rich Brian, dan menghadirkan album debutnya, “Amen“.

Continue reading “Album Review: Rich Brian – Amen (2018)”