Film Review: Polaroid (2019)

Setelah nasibnya sempat terkatung-katung (awalnya diniatkan dirilis di tahun 2017), akhirnya film horor adaptasi Lars Klevberg untuk film pendeknya yang berjudul Polaroid, bisa disaksikan. Tapi, sebagaimana biasanya film yang terus menerus mengalami pengunduran tanggal tayang, momentumnya telah lewat. Semakin tidak membantu karena ia ternyata adalah film berkualitas semenjana dan mudah terlupakan.
Continue reading “Film Review: Polaroid (2019)”

Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Bermula dari film laga “kecil” tentang seorang mantan pembunuh bayaran yang membalas dendam kematian anjing kesayangannya di tahun 2014, John Wick (Keanu Reevers) telah mengembangkan semestanya dengan melibatkan sebuah organisasi rahasia yang pelik dan penuh intrik dalam John Wick: Chapter 2 (2017). Kini, melengkapi kisahnya, menyusul pula John Wick: Chapter 3 – Parabellum.

Continue reading “Film Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)”

Film Review: Brightburn (2019)

Sebelum ia dikenal sebagai sutradara film superhero seperti seri Guardians of the Galaxy (dan berikutnya adalah The Suicide Squad), James Gunn dikenal berkat film horor yang menjadi debut penyutradaraannya, Slither (2006), setelah sebelumnya mengerjakan naskah untuk remake Dawn of the Dead (2004) milik Zack Synder. Kini ia kembali ke ranah horor dengan Brightburn, meski Gunn hanya menjabat sebagai produser, karena bangku sutradara diduduki oleh David Yarovesky.
Continue reading “Film Review: Brightburn (2019)”

Film Review: The Predator (2018)

Awalnya The Predator diniatkan sebagai reboot untuk franchise Predator. Tapi sang sutradara, Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guy), yang sempat terlibat sebagai pemain dalam film orisinal rilisan 1997, memutuskan untuk melanjutkan saja kisahnya. Jadilah The Predator tidak hanya sebagai film keempat Predator, tapi juga sebuah film seorang Shane Black, yang sebagaimana kita ketahui, selalu kental dengan nuansa komedi gelap.
Continue reading “Film Review: The Predator (2018)”

Film Review: Tully (2018)

Semenjak debut film panjangnya, Thank You For Smoking (2005), Jason Reitman mengemuka sebagai salah satu sutradara dengan ciri khas tertentu untuk film-filmnya. Drama quirky yang tak jarang memberi rasa hangat selepas menyaksikannya. Juno, Up In The Air atau Young Adult adalah buktinya. Sayang, performa Reitman terlihat menurun dengan dua film terakhirnya, Labor Day dan Men, Women and Children. Syukurlah ia kembali prima dengan reuninya bersama aktris Charlize Theron (Young Adult) dan penulis Diablo Cody (Juno) dalam Tully.

Continue reading “Film Review: Tully (2018)”

Film Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Siapapun tak akan menafikan jika Han Solo (diperankan Harrison Ford) merupakan salah satu karakter paling ikonik di saga space opera, Star Wars. Oleh karena itu, sudah bisa diduga jika Lucasfilm memilih asal-usul Han Solo sebagai materi untuk film kedua di seri “A Star Wars Story”, menyusul Rogue One di tahun 2016 lalu. Setelah sempat heboh dengan pergantian sutradara dari duo Phil Lord dan Christopher Miller menjadi Ron Howard, kita boleh merasa tenang, karena Solo: A Star Wars Story dihadirkan dengan memikat.

Continue reading “Film Review: Solo: A Star Wars Story (2018)”

Film Review: A Quiet Place (2018)

Dalam A Quiet Place, pasutri dunia nyata, John Krasinski dan Emily Blunt, berperan sebagai pasutri fiktif dengan beberapa anak yang menghadapi ancaman teror sosok-sosok sensitif terhadap suara di sebuah pedesaan. Mereka harus bertahan hidup dengan meminimalisir volume ucapan dan mengandalkan bahasa isyarat. Jelas premis menarik untuk sebuah film horor. Lebih menarik lagi, film merupakan debut penyutradaraan Krasinski yang kerap bermain dalam film komedi.
Continue reading “Film Review: A Quiet Place (2018)”