Film Review: Loving Vincent (2017)

Bahkan orang awam dan bukan pecinta lukisan sekalipun mungkin tahu siapa itu Vincent van Gogh; sosok terkenal dan berpengaruh di seni rupa berkat karya-karya cat minyak indah beraliran pasca-impresionis miliknya. Tentunya setelah pria asal Belanda ini meninggal pada tanggal 29 Juli 1989 di usia 37 tahun, barulah ia mencapai status tersebut. Karena sebagaimana klise “tortured artist”, Vincent awalnya dianggap sebagai seniman gagal. Mengalami gangguan mental dan delusi pula. Lengkap sudah.

Continue reading “Film Review: Loving Vincent (2017)”

Film Review: Spirited Away (2001)

Bagi penggemar animasi, atau mungkin penggemar film secara umum, pasti mengenal maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, dan rumah produksi miliknya yang legendaris, Studio Ghibli. Kini, untuk pertama kalinya beberapa film animasi karya Miyazaki – 5 film tepattnya – bisa disaksikan secara umum karena tayang di berbagai bioskop Indonesia dalam agenda World of Ghibli Jakarta. Untuk sajian bulan pertama adalah salah satu masterpiece Miyazaki dan Studio Ghibli, Spirited Away (千と千尋の神隠し – Sen to Chihiro no Kamikakushi).

Continue reading “Film Review: Spirited Away (2001)”

Zootopia

Zootopia

‘Zootopia’ adalah sebuah paket lengkap. Sebagai film animasi Disney, ia menawarkan warna-warni ceria dengan sentuhan komedi dan drama hangat yang pas disimak untuk seluruh keluarga, sementara juga menyajikan berbagai adegan aksi seru dan mendebarkan. Senangnya, film garapan trio Byron Howard, Rich Moore, dan  Jared Bush ini menyajikan menunya dengan porsi yang cukup pas.

Continue reading “Zootopia”

Hayao Miyazaki’s Top 5

Hayao Miyazaki
Hayao Miyazaki

Baru-baru ini terbetik kabar jika maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki (宮崎 駿) memutuskan untuk pensiun dari menyutradarai.  Tentu saja sebagai salah satu pendiri studio animasi populer Ghibli, ia mungkin akan tetap berkarya sebagai produser. Namun, as one of the most celebrated director, tentu saja kabar ini menyesakkan dada yang berarti kita tidak akan menyaksikan lagi film-film beliau.

Continue reading “Hayao Miyazaki’s Top 5”

Film Review: L’Illusionnist (2010)

Mengambil arah yang sedikit berbeda dari ‘Les Triplettes de Belleville’ (2003) yang komedik dengan segala keabsurditasannya, dalam ‘L’Illusionnist’, Sylvain Chomet menghadirkan jenis animasi yang lebih sederhana, dipenuhi dengan gambar-gambar indah yang menawan, melantunkan puitis tentang kisah mengharukan seorang pesulap paruh baya dengan sosok gadis muda bernama Alice. Diangkat dari karya artis legendaris Perancis, Jacques Tati, yang tidak pernah terealisasi menjadi sebuah film, Chomet pun berupaya menjadikan ‘L’Illusionnist’ sebagai film yang masih bertutur dalam atmosfir yang menjadi ciri khasnya, namun sekaligus sebagai homage terhadap Tati itu sendiri.

Continue reading “Film Review: L’Illusionnist (2010)”

Toy Story 3

Sebelum menulis review ini, saya menyempatkan untuk menyimak kembali ‘Toy Story 2’ (1999). Bukan apa-apa, saat menyaksikan bagian ketiga yang rilis setelah 11 tahun sesudahnya ini, saya kerap merasa ‘Toy Story 3’ mengingatkan “sesuatu” di sekuel pertamanya tersebut. Dan saya benar. ‘Toy Story 3’ meresonansikan apa yang terjadi pada bagian kisah ‘Toy Story 2’.

Masih ingat dengan kisah duka Jessie (Joan Cussack) yang ditelantarkan oleh Emily, pemiliknya, karena perlahan tumbuh dewasa dan tidak membutuhkan Jessie lagi? Di iringi dengan sangat efektif oleh vokal Sarah McLachlan pada lagu ‘When She Loved Me’, adegan tersebut terasa sangat menyayat hati. Beruntung Jessie bertemu dengan Woody (Tom Hanks) dan akhirnya bersama mereka menjadi mainan kesayangan Andy (John Morris).

Dan kini, Andi juga telah menuju dewasa. Ia akan segera memasuki bangku kuliah. Tidak lagi memerlukan Woody, Jessie, Buzz Lightyear (Tim Allen), Mr./Mrs. Potato Head (Don Rickles/Estelle Harris), Rex (Wallace Shawn), Hamm (John Ratzenberger), Slinky Dog (Blake Clark), Bullseye juga trio Alien. Andy tidak menelantarkan mereka begitu saja, karena ia memilih tetap menyimpan mereka di gudang. Terkecuali Woody, yang tetap akan dibawanya.

Karena suatu kesilapan, bersama dengan Barbie (Jodie Benson), boneka milik adik Andy, kawanan ini malah terkirim ke tempat penitipan anak bernama Sunnyside untuk disumbangkan.

Woody yang mengetahui kejadian sebenarnya mencoba membujuk teman-temannya untuk kembali ke rumah Andy. Namun, dikarenakan kesalahpaman tadi, mereka menolak dengan keras, terutama Jessie. Apalagi sambutan dari mainan lain penghuni tempat penitipan anak tersebut cukup hangat. Bahkan boneka beruang bijak sebagai yang dituakan disitu, Lots-o’-Huggin’ Bear atau Lotso (Ned Beatty) memberi kesan yang sangat baik.

Woody pun dengan gontai mencoba kembali kerumah Andy. Alih-alih ia malah terbawa oleh Bonnie (Emily Hahn) salah satu gadis cilik yang dititipkan di tempat penitipan anak tersebut. Dari Chuckles the Clown (Bud Luckey), salah satu boneka Bonnie, Woody pun mengetahui kejadian buruk yang dialami oleh boneka-boneka di tempat tersebut. Oleh karenanya Woody memutuskan untuk kembali ke Sunnyside dan mencoba menyelamatkan teman-temannya.

Jarak 15 tahun dengan ‘Toy Story’ jilid pertamanya ternyata tidak mengendurkan antusiasisme animasi mutakhir dari Pixar/Disney ini untuk kembali menampilkan kisah petualangan seru, renyah, penuh warna, imajinatif dan dramatis, dari kawanan mainan yang bisa berbicara ini. Dan bagi mayoritas penonton yang tumbuh besar bersama seri ini, jelas akan mengalami keterikatan emosi pada karakter-karakter serta jalinan ceritanya.

Jika memang diniatkan sebagai akhir dari sebuah trilogi, maka ‘Toy Story 3’ adalah penutup yang sempurna untuk itu. Adegan klimaksnya sendiri terasa sangat menyentuh dan mungkin secara personal akan menggedor perasaan sebagian besar penontonnya. Bagi yang tidak begitu mengikuti seri film ini, maka ‘Toy Story 3’ tetap menjadi pengalaman sinema animasi yang sangat menghibur.

Patut dipuji kerja Lee Unkrich (co-director untuk ‘Finding Nemo’, ‘Monster Inc.’ dan ‘Toy Story 2’) yang mengeksekusi adegan-adegan kinetis dan enerjetik juga mewujudkan skrip olahan Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton dan Lee Unkrich menjadi sebuah plot yang dinamis, dengan eskalasi intensitas yang fluktuatif dalam menyedot emosi penonton.

Meski film ini terkesan kekanak-kanakan, namun kerjasama mereka mampu menghasilkan animasi yang bisa dicerna oleh berbagai kalangan usia, karena tetap membawa kedalaman tertentu.

‘Toy Story’ sendiri adalah pilar utama keberhasilan Pixar pada awalnya. Selanjutnya, dari tahun ketahun mereka mempersembahkan karya-karya animasi yang sangat bernas. Secara pribadi, ‘Wall-E’ (2008) masih menjadi animasi Pixar favorit saya, karena berhasil membawa muatan pesan yang universal dan ditangani dengan pendekatan yang sangat humanis serta sinematis.

‘Toy Story 3’ sendiri juga secara solid membawa muatan pesan yang universal serta dengan kualitas sinematis mengagumkan. Akan tetapi, bagi saya film ini tidak membawa perbedaan yang cukup signifikan dengan dua seri sebelumnya. Mungkin saja karena film ingin mempertahankan atmosfir yang sudah dibangun sebelumnya, apalagi jika ia memang diniatkan sebagai penutup yang sempurna.

Terlepas dari itu, ‘Toy Story 3’ adalah penanda jika Pixar masih kokoh berdiri sebagai studio animasi terbaik di ranah Hollywood sana. Oh ya, jangan sampai luput mendengarkan vokal yang diisi oleh bintang-bintang tenar seperti Michael Keaton (Ken), R. Lee Ermey (Sarge), Timothy Dalton (Mr. Pricklepants), Bonnie Hunt (Dolly) dan Whoopi Goldberg (Stretch) didalamnya.