Film Review: Spirited Away (2001)

Bagi penggemar animasi, atau mungkin penggemar film secara umum, pasti mengenal maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, dan rumah produksi miliknya yang legendaris, Studio Ghibli. Kini, untuk pertama kalinya beberapa film animasi karya Miyazaki – 5 film tepattnya – bisa disaksikan secara umum karena tayang di berbagai bioskop Indonesia dalam agenda World of Ghibli Jakarta. Untuk sajian bulan pertama adalah salah satu masterpiece Miyazaki dan Studio Ghibli, Spirited Away (千と千尋の神隠し – Sen to Chihiro no Kamikakushi).

Continue reading “Film Review: Spirited Away (2001)”

Hayao Miyazaki’s Top 5

Hayao Miyazaki
Hayao Miyazaki

Baru-baru ini terbetik kabar jika maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki (宮崎 駿) memutuskan untuk pensiun dari menyutradarai.  Tentu saja sebagai salah satu pendiri studio animasi populer Ghibli, ia mungkin akan tetap berkarya sebagai produser. Namun, as one of the most celebrated director, tentu saja kabar ini menyesakkan dada yang berarti kita tidak akan menyaksikan lagi film-film beliau.

Continue reading “Hayao Miyazaki’s Top 5”

Film Review: Eat Drink Man Woman (1994)

Eat Drink Man Woman‘Eat Drink Man Woman‘ (Yin shi nan nu – 饮食男女) mempunyai banyak kesamaan dengan film Ang Lee sebelumnya, ‘The Wedding Banquet’ (1993). Tidak hanya sebagai ajang reuni Lung Sihung, Gua Ah Lei dan Winston Chao dan keberhasilan dalam mendapatkan nominasi sebagai film berbahasa asing terbaik di anugerah Oscar dan Golden Globe, akan tetapi juga persamaan dalam tema dan juga pendekatan film terhadap narasi yang dirangkainya. Sebuah komedi satir yang dimulai seolah-olah sebuah drama serius yang melodramatis, namun berkembang menjadi serangakain tawa lirih yang menyindir sikap dan prilaku manusia, yang kadang memang sulit tertebak.

Continue reading “Film Review: Eat Drink Man Woman (1994)”

Film Review: Taste of Cherry (1997)

Taste of Cherry

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?” (Bagheri)

Di tahun 1997, maestro ternama Iran, Abbas Kiarostami (Certified Copy), mengarahkan sebuah film yang berjudul ‘Taste of Cherry’ (طعم گيلاس, Ta’m-e gīlās), yang berkisah tentang pencarian dan kerapuhan. Dengan memenangkan Palme d’Or pada Cannes Film Festival 1997, tentulah ada yang istimewa dari film ini. Melalui teknik filmis Kiarostami yang khas, kisah pencarian tersebut berujud sebuah perjalanan yang tidak hanya mencari akan tetapi juga menemukan.

Continue reading “Film Review: Taste of Cherry (1997)”

Film Review: All About My Mother (1999)

All About My Mother

Ditangan Pedro Almodovar kita bisa selalu yakin jika sebuah melodrama, bahkan yang bergaya opera sabun sekalipun, akan tetap menjadi sebuah drama yang mendalam dan menyentuh. Tentu saja dalam balutan perspektif Almodovar. ‘All About My Mother’ (1999) atau ‘Todo Sobre Mi Madre‘ adalah salah satu buktinya. Film yang banyak memenangkan anugerah perfilman, termasuk Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar, mencoba mengajak kita untuk masuk kedunia kelam yang coba dihindarkan seorang perempuan. Namun saat tragedi menimpa kehidupannya, untuk berdamai dengan dirinya sendiri, ia menemui kembali kekelaman yang seharusnya telah menjadi masa lalu.

Continue reading “Film Review: All About My Mother (1999)”

Film Review: Tropical Malady (2004)

‘Tropical Malady‘ atau Sud Pralad – สัตว์ประหลาด memenangkan Jury Prize pada anugerah film Cannes di tahun 2004, meski mendapatkan banyak respon yang tidak menyenangkan setelah screening film dilaksanakan. Bisa dipahami jika para penonton tersebut mengerutkan kening saat menyimak film ini, karena Apichatpong Weerasethakul tanpa mengenal kompromi membuat filmnya sedemikian rupa berdasarkan visinya yang sedikit “melenceng” dari pakem film kebanyakan. Perlu kompromi serta kesiapan akan sesuatu yang “berbeda’ untuk dapat menikmati film ini. Setelah kita melepaskan ekspektasi tersebut, maka nikmati ‘Tropical Malady’ sebagai sebuah perjalanan mistis yang intim dan juga mencekam.

Continue reading “Film Review: Tropical Malady (2004)”

Film Review: Certified Copy (2010)

Yang saya sukai dari Certified Copy (Copie Conforme), selain dia adalah film Perancis dengan sutradara berasal dari Iran dan memakai tiga bahasa yang berbeda dalam dialognya, adalah betapa menyenangkan melihat dua orang dewasa yang ngobrol dengan intens soal kehidupan mereka sebagai…orang dewasa. Mereka membicarakan masalah remeh-temeh dengan santai namun terkadang dengan penuh emosi membahas hubungan yang terjalin panjang diantara mereka. Sepasang suami-istri yang menghabiskan hari minggu siang mereka dengan mengunjungi Tuscany, Italia, guna merayakan peringatan 15 tahun pernikahan mereka, yang tampaknya telah terlupakan oleh sang suami. Sebuah hari minggu yang cerah mungkin memang saat yang tepat untuk itu. Tapi..tapi..tapi, bagaimana jika kemudian mereka ternyata baru bertemu untuk pertama sekalinya justru pada hari itu? Lantas apa yang tengah terjadi?

Continue reading “Film Review: Certified Copy (2010)”

Film Review: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Selamat datang di dunia supernatural paman Boonmee, dimana mahluk ghaib dan manusia duduk bersama mengenang masa lalu. Sebuah memoar akan memori kehidupan lampau yang mungkin mempengaruhi kehidupan saat ini atau masa depan. Sebuah samsara tak berujung berasal dari karma yang diperbuat, entah baik atau buruk. Sebuah fantasi sureal tapi sekaligus realitis ala Apichatpong Weerasethakul, yang memenangi anugerah prestisius Palme d’Or pada ajang 2010 Cannes Film Festival, berjudul ‘Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives’.

Continue reading “Film Review: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)”

Film Review: Mukhsin (2007)

Semua orang pastilah pernah mengalami cinta pertama. Demikian premis yang diurai Yasmin Ahmad dalam ‘Mukhsin’ (2007), bagian ketiga dari trilogi Orkednya setelah ‘Sepet’ dan ‘Gubra’. Dalam bagian ini, kisah Orked bagai sebuah lingkaran, cerita kembali ke awal, saat dia masih gadis cilik berusia 10 tahun dan tinggal di sebuah kampung. Sekinchan, Sabak Bernam lebih tepatnya.

Continue reading “Film Review: Mukhsin (2007)”