Film Review: Alien: Covenant (2017)

Di tahun 2012 hadir Prometheus yang merupakan kembalinya Ridley Scott ke ranah fiksi-ilmiah, setelah terakhir adalah Blade Runner (1982). Film tersebut juga menandakan kembalinya Scott pada film yang sukses mengangkat namanya ke permukaan, Alien (1979). Hanya saja, meski diset sebagai prekuel untuk Alien, Scott ingin melebarkan cerita Prometheus tidak hanya terbatas pada aksi teror Xenomorph belaka, namun juga elaborasi pada semesta atau world building-nya, serta mengangkat tema eksistensialisme.

Continue reading “Film Review: Alien: Covenant (2017)”

Film Review: Lavender (2016)

Selepas The Last Exorcism Part II (2013), yang naskahnya ditulis bersama dengan Damien Chazelle (Whiplash, La La Land), kurang mendapat sambutan memuaskan dari para kritikus, sutradara asal Kanada, Ed-Gass Donnelly, ternyata tidak mau menyerah begitu saja di genre horor. Kali ini ia datang kembali dengan Lavender. Meski memang bukan horor murni karena dibungkus juga dengan drama dan thriller.

Continue reading “Film Review: Lavender (2016)”

Film Review: The Devil’s Candy (2015)

Sutradara asal Australia, Sean Byrne, sempat mencuri perhatian berkat debutnya, The Loved Ones, di tahun 2009. Beberapa tahun lalu berlalu, ia kembali dengan karya sophomore-nya, The Devil’s Candy. Dengan seting Texas, Amerika, Byrne berpindah dari psycho-thriller ke ranah horor supernatural. Yah, setidaknya sebagian saja, karena The Devil’s Candy ternyata belum begitu melepas aspek psycho-thriller tadi yang membesarkan nama Byrne.

Continue reading “Film Review: The Devil’s Candy (2015)”

Film Review: Life (2017)

Dirilis hanya selang beberapa bulan sebelum Alien: Covenant, maka sulit bagi Life, karya sutradara asal Swedia Daniel Espinosa (Easy Money, Safe House, Child 44), untuk mengelakkan tudingan dirinya sebagai peniru Alien, yang merupakan karya klasik Ridley Scott. Fiksi-ilmiah berbumbu horor dengan seting berlokasi di luar angkasa dan melibatkan sosok mahluk asing yang meneror bisa menjadi alasan di balik tudingan.

Continue reading “Film Review: Life (2017)”

Film Review: Don’t Knock Twice (2017)

Film horor yang mengisahkan hubungan retak antara ibu dan anak sudah cukup banyak beredar. Dan Don’t Knock Twice mencoba untuk kembali mengangkat tema serupa melalui tangan sutradara Caradog W James. Jika konsisten dan disiplin dengan tema yang dipilihnya, Don’t Knock Twice bisa saja menjadi sebuah horor film yang berkesan. Tapi film terlalu banyak maunya, yang menyebabkan potensinya menjadi tidak tergali optimal dan berakhir menjadi film yang relatif menggelikan.

Continue reading “Film Review: Don’t Knock Twice (2017)”

Film Review: Split (2017)

Semenjak mengemuka lewat The Sixth Sense (1999), nama M. Night Shyamalan identik dengan twist. Film demi film yang dirilisnya setelah itu mempertegas kesan tersebut. Sayangnya secara kualitas film-film Shyamalan kemudian mengalami penurunan. Puncaknya saat ia memutuskan banting setir dengan mengarahkan beberapa film blockbuster kaya efek khusus (The Last Airbender, After Earth). Selepas sambutan kurang memuaskan terhadap film-film tersebut, ia seperti menyadari jika “bakatnya” lebih tepat tetap berada di ranah thriller atau horor. Tidak heran kemudian Shyamalan “me-reboot” karirnya dengan menghadirkan film horor mockumentary berjudul The Visit (2015) yang ternyata mendapat sambutan bagus. Kini, ia menyusulnya dengan Split.

Continue reading “Film Review: Split (2017)”

Rihanna Adalah Marion Crane Dalam Trailer Bates Motel Musim 5

Rihanna semakin disibukkan saja dengan aktivitasnya di dunia seni peran. Saat ini ia tengah disibukkan dalam syuting film Ocean’s 8 yang juga menampilkan banyak aktris kenamaan seperti Sandra Bullock, Kate Blanchett, Anne Hathaway, dan Sarah Paulson. Namun masih lama kalau kita ingin menyaksikan aksi RiRi di film tersebut, karena baru akan tayang bulan Juni tahun depan.

Continue reading “Rihanna Adalah Marion Crane Dalam Trailer Bates Motel Musim 5”

Film Review: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)

Meski diangkat dari buku karangan Ransom Riggs (terbitan 2011), namun Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children seperti tercipta khusus untuk Tim Burton. Ada aspek fantasi-horor-gothik di dalamnya yang tentunya merupakan warna khas ala Burton sekali. Dan sebagai film Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children memang terasa sangat Burton-esque sekali, meski sayangnya ada yang mengganjal. Tidak hambar juga, masih renyah disimak, hanya saja pengolahannya kurang matang.

Continue reading “Film Review: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)”