Film Review: Out In The Dark (2012)

Out In The Dark

Out In The Dark memberikan bukan hanya kisah cinta, namun juga tentang harapan serta ketidakpastian yang kerap mengambang seperti satelit disekitarnya.

Seorang mahasiswa bernama Nimr (Nicholas Jacob) jatuh cinta dengan Roy (Michael Aloni), seorang pengacara. Namun, hubungan sejenis bukan hanya satu-satunya masalah mereka. Sebagai seorang laki-laki Palestina, Nimr tentunya menyimpan rapat-rapat identitas dirinya dari hadapan keluarga. Sedang Roy yang asal Israel, menjalani hubungan mereka dengan lebih santai.

Latar belakang mereka yang jauh berbeda perlahan menjadi bom waktu dan dengan latar konflik Palestina dan Israel yang tak kunjung selesai, film kemudian berganti rupa menjadi thriller saat memasuki paruh akhir.

Sebelumnya memang sudah ada The Bubble (2006) karya Eytan Fox yang mengambil pendekatan serupa, akan tetapi Out in the Dark memiliki plot yang lebih padat dan berkesan.

Out In The Dark merupakan debut dari Michael Mayer (bukan Michael yang itu, ya). Sebagai debutan, ia cukup mulus mengeksekusi filmnya, meski di beberapa titik skrip terasa sedikit lemah. Akan tetapi patut dipuji ia tidak terlalu terjebak pada sentimental cengeng yang berlebihan.

Tensi dibanggun dengan cukup baik melalui suspensi yang cukup terjaga. Film cukup sukses membuat kita sulit menebak ke mana film akan mengarah atau akan diakhiri.

Yang lebih penting, Out In The Dark merupakan film yang tidak hanya sukses bertugas sebagai romansa mengharu-biru, tapi juga sebuah studi sosiologis yang cukup subtil dan drama humanis dengan emosi yang cukup tergali.

PS. I love Nicholas and Michael’s chemistry. Tremendously well build. They make a believable pair. Awesome job, especially for Nicholas who also a debutante.

(4/5)