Film Review: Fabricated City (2017)

Perlu waktu 12 tahun bagi Park Kwang-hyun untuk kembali menghadirkan sebuah film selepas Welcome to Dongmakgol (2005) yang kini sudah bisa dianggap klasik. Tentunya Fabricated City (조작된 도시;  Jojakdoen Doshi), demikian film terbarunya, memancing rasa penasaran, apakah ia akan kembali menghadirkan sebuah petualangan sinema yang istimewa? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung sudut pandang. 

Continue reading “Film Review: Fabricated City (2017)”

Girls’ Generation – The Best

Girls Generation - The Best

Semenjak mulai berkarir di tahun 2007, girl-group Korea Selatan, Girls’ Generation atau yang juga dikenal dengan So Nyeo Shi Dae (SNSD), terus merilis single demi single, EP demi EP dan juga album demi album. Tapi mereka tampaknya belum berminat untuk merilis sebuah album kompilasi hits. Meski demikian, untuk karir mereka di skena musik pop berbahasa Jepang, SNSD ternyata merilis album The Best yang berisi hits single mereka.

Continue reading “Girls’ Generation – The Best”

White Night

White Night

White Night (백야 – Baek Ya) awalnya diniatkan Leesong Hee-il sebagai bagian dari trilogi film pendek bersama dengan Suddenly, Last Summer dan Going South. Akan tetapi, khusus untuk White Night, wacana berkembang menjadi sebuah film panjang, yang ternyata tidak begitu panjang juga. Tapi, dengan durasi 75 menit, film cukup efektif bertugas sebagai sebuah drama roman sekaligus komentar sosial.

Sebagai sutradara yang secara terbuka mengaku gay, Leesong Hee-il tidak melulu menjual dirinya. No Regret (2006) membuktikan jika ia patut untuk diperhitungkan. Terbukti dalam White Night ia meningkatkan kualitas teknis dan juga kemapanan dalam bercerita.

Memang, terkadang ia masih terasa meledak-ledak yang menunjukkan kekurang matangandari segi emosionil. Tapi White Night cukup sukses dalam memberikan kita film yang padat secara tutur dan juga menyentuh secara esensi.

Secara tematis, agak mengingatkan akan Weekend (2011) karya Andrew Haigh. Dan White Night juga mencuplik kisah sepasang pria asing yang mulanya hanya ingin melakukan one night stand, namun berkembang menjadi semacam proses dialogis yang membuka diri mereka masing-masing.

Dua sosok yang berbeda secara karakter (diperankan oleh Won Tae-hee dan Lee I-kyeong) menjadi sentra; satu dingin, terkesan angkuh dan menjaga jarak, sedang satu lagi hangat, akrab dan terbuka. Pada awalnya rendezvous mereka tidak berjalan dengan baik. Keterpaksaan lantas menjadi landasan kebersamaan. Tapi seperti diduga, perlahan afeksi mulai timbul dan mungkin menentukan masa depan mereka.

Plot film dibuka seperti mengupas bawang. Penuh lapisan yang harus dipreteli satu persatu. Tapi proses pengupasan ini untungnya tidak mengundang air mata, karena Leesong Hee-il menjaga filmnya agar tidak terlalu melodmaratis, sementara pemberi penekanan yang cukup tajam pada isu sosial yang terjadi pada kalangan homoseksual Korea Selatan. Hanya saja perlu ekstra perhatian agar kita, penonton, tidak mengelupas lapisan yang salah.

White Night menunjukkan kelas Leesong Hee-il sebagai sutradara. Tradisi penjelasan verbal digantinya dengan bahasa visual penuh makna dan juga pengandalan pada gestur karakter-karakternya. Hal ini mengizinkan penonton untuk menganalisa situasi secara personal.

Perlu ketelatenan memang, but if we succeed, we will know that White Night is really a captivating film. Kompleks sekaligus sederhana. Riuh tapi juga sunyi. Romantis namun getir.

(4/5)

Our Sunhi

Our Sunhi

Our Sunhi bisa disebutkan sebagai double feature Hong Sangsoo di tahun 2013 yang lalu bersama dengan Nobody’s Daughter Haewon. Secara tematis mereka mirip, yaitu kisah seorang perempuan muda dengan lelaki-lelaki yang tertarik padanya.

Sunhi (Jung Yoo-mi, kembali bekerjasama dengan Hong setelah Oki’s Movie dan In Another Country) adalah seorang mahasiswi perfilman yang telah menghilang cukup lama dan kembali untuk meminta referensi kepada salah satu dosennya, Choi Donghyun (Kim Sang-joong, The Day He Arrives) untuk keperluan kuliah S-2-nya. Lantas ia bertemu dengan mantan pacarnya Munsu (Lee Sun-kyun, yet another Hong regular, also appears in Nobody’s Daughter Haewon), dan mereka lantas membahas hubungan mereka.

Ternyata Munsu masih mencintai Sunhi dan kemudian melampiaskan uneg-unegnya dengan curhat kepada temannya, Jaehak (Jung Jae-young). Tapi, saat Jaehak berkesempatan bertemu dengan Sunhi, ia juga jatuh cinta kepada Sunhi.

Bagi yang gemar kepada film-film Hong Sangsoo, Our Sunhi akan terasa sangat familiar, karena masih memiliki pendekatan, baik segi teknis dan penceritaan, yang setipe. Hebatnya auteur Korea Selatan ini, filmnya tidak terasa repetitif atau membosankan.

Our Sunhi, sebagaimana film Hong Sangsoo lainnya, memiliki dialog yang memikat, terkadang pedas namun juga sangat mengena dan realistis. Dan yang tak terlupa, kejenakaan yang tidak dibuat-buat, asal mengerti konteksnya tentu, serta karakterisasi yang tegas.

Sinematografi Our Sunhi yang sederhana tidak menutupi bentuknya sebagai sebuah gambaran mendalam tentang hubungan antar-personal serta romansa yang tersubjugasi.

(4/5)

Film Review: Killer Toon (2013)

Killer Toon

Di akhir dekade 90-an hingga pertengahan 2000, film-film horror Korea Selatan dianggap sebagai salah satu yang terbaik, tidak saja menyeramkan, namun juga inventif. Sangat disayangkan kemudian terjebak dalam repetisi hingga hilanglah pesonanya di mata penonton. Film horror masih diproduksi, tentu saja, meski kuseksesan yang masif sulit untuk dicapai. Di tengah iklim yang lesu tersebut, Killer Toon hadir dengan mencolok dan menjadi satu-satunya film horor yang berhasil meraih lebih dari satu juta penonton setelah terakhirDeath Bell di tahun 2008 (total peraihan penonton Killer Toon adalah 1.199.775). Lantas, apa istimewanya film ini?

Continue reading “Film Review: Killer Toon (2013)”

Film Review: Cold Eyes (2013)

Cold Eyes

Eye in the Sky (2007), debut penyutradaraan Yau Nai-Hoi yang biasa menulis skrip untuk Johnny To, mendapat pujian sebagai thriller cerdas yang menegangkan. Namun, film juga dikritik karena dianggap kurang memiliki kreatifitas untuk menggali ceritanya lebih dalam dan juga terlalu singkat (film memiliki durasi sepanjang 90 menit).

Apakah karena untuk menjawab tantangan tersebut, maka sineas Korea Selatan berinisiatif me-remake film yang dibintangi oleh Simon Yam dan Tony Leung Kafai tersebut? Maka hadirlah Cold Eyes yang longer and deeper yet still retain intensity and sheer edginess as smart thriller.

Continue reading “Film Review: Cold Eyes (2013)”

Film Review: Sector 7 (2011)

Kesuksesan The Host (2006), karya Bong Joon-ho (Memories of Murder) mau tidak mau menjadi sebuah standar bagi perfilman Korea Selatan yang tampaknya mulai gemar mengangkat monster sebagai sajian dalam filmnya. The Host bukan saja mampu menghadirkan aksi mendebarkan dalam melawan teror mahluk raksasa jejadian namun juga sebuah drama satir yang bernas. Ditengarai sebagai sebuah proyek yang ambisius dan menghabiskan bujet sebesar $ 10 juta, Oleh karenanya, jelas ekspektasi tersampir sangat tinggi sekali untuk Sector 7 (7광구), sebuah proyek film 3 dimensi yang pertama dari Korea arahan Kim Ji-hoon (May 18).

Continue reading “Film Review: Sector 7 (2011)”

Film Review: A Barefoot Dream (2010)

A Barefoot Dream‘ (맨발의 꿈 – Maen-bal-eui Ggoom) adalah film yang dikirim oleh Korea Selatan sebagai andalan mereka di ajang Oscar k3 83 lalu untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Sayang, kurang beruntung untuk dapat masuk kedalam daftar nominasi. Menilik filmnya, jujur menurut saya pihak Korea Selatan memang terlalu muluk-muluk jika mengira film ini akan dapat menarik simpati para juri AMPAS untuk kemudian memberi kesempatan dalam ajang tersebut. Meski sangat mengibur, namun kisah seorang underdog yang melatih underdog lainnya demi mencapai pengakuan dengan embel-embel titel “juara” ini tidak-lain-tidak-bukan adalah jenis melodrama yang awam kita kenal dari ranah Korea Selatan, bertujuan untuk menguras emosi dan mudah-mudahan juga airmata penonton.

Continue reading “Film Review: A Barefoot Dream (2010)”

Film Review: The Man From Nowhere (2010)

Jujur saja, alasan saya menonton film ini awalnya cuma ingin melihat Won Bin. I’m his fans and not shame of it, hehe. Dan kalau ternyata filmnya memang bagus, yah itu bonus sih namanya. Setelah menjadi orang dengan keterbelakangan mental dalam ‘Mother’ (2009), maka kali ini Won Bin merubah peran sebagai seorang Jason Bourne versi Korea Selatan, seorang agen khusus dengan kemampuan diri diatas rata-rata. Tapi alih-alih berhadapan dengan konflik konspirasi pelik atau menyelamatkan dunia dari villain-over-the-top,  ‘The Man From Nowhere’ malah berurusan dengan hal yang sifatnya lebih domestik dan subtil, meski tetap saja kita bisa mengandalkannya dalam memberikan rangkaian adegan laga yang seru.

Continue reading “Film Review: The Man From Nowhere (2010)”