Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)

“What a fun ride!” adalah kesan setelah selesai menyimak Pacific Rim Uprising, sekuel dari film Pacific Rim (2013) karya sutradara yang baru saja menyabet Oscar, Guillermo del Toro (The Shape of Water). Mengingat Pacific Rim Uprising adalah sinema eskapis dengan tujuan dasarnya menghibur penonton, maka kemampuan dalam menunaikan tugasnya pastinya adalah kelebihan tersendiri. Begitu tersedotnya kita pada keseruan Pacific Rim Uprising sehingga teralihkan dari berbagai kelemahan dirinya.

Continue reading “Film Review: Pacific Rim Uprising (2018)”

Film Review: Atomic Blonde (2017)

Stuntman/stunt coordinator, David Leitch, bersama dengan rekannya, Chad Stahelski, sukses terangkat namanya sebagai sutradara berkat proyek kolaboratif mereka, John Wick (2014), yang dianggap sebagai salah satu film aksi terbaik dekade ini. Stahelksi kemudian menggarap secara mandiri sekuelnya, John Wick: Chapter 2 (2017), dan berhasil membuktikan jika karya pertamanya bukan hasil kemujuran semata, melainkan bukti jika ia memang memilki potensi sebagai sutradara andalan. Lantas bagaimana dengan Leitch? Ia punya Atomic Blonde sebagai debutnya sebagai sutradara solo.

Continue reading “Film Review: Atomic Blonde (2017)”

Film Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Semenjak Sam Raimi menghadirkan Spider-Man (2002), sementara  ini telah ada 5 buah film versi mutakhir yang berangkat dari karakter komik Marvel kreasi Stan Lee dan Steve Ditko. Dan dalam lebih dari satu dekade kemudian, franchise gawangan Sony ini bahkan telah mengalami reboot dengan The Amazing Spider-Man (2012). Performa yang kurang memuaskan dari The Amazing Spider-Man 2 (2014) ternyata membuat Sony kembali berniat untuk me-reboot kembali franchise-nya. Hanya saja, tentu harus ada yang membedakan jika kisah sang laba-laba merah “diperkenalkan” kembali di layar lebar.

Continue reading “Film Review: Spider-Man: Homecoming (2017)”

Film Review: Wonder Woman (2017)

Setelah sempat sangat mencuri perhatian saat untuk pertama kalinya dalam 70 tahun sejarahnya muncul di layar lebar melalui Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), akhirnya Wonder Woman (Gal Gadot) tampil dalam film solonya yang merupakan bagian ke-4 dari seting DC Extended Universe. Dan melaluinya, sah sudah jika pesona Wonder Woman bukanlah sekedar one hit wonder.

Continue reading “Film Review: Wonder Woman (2017)”

Film Review: Ghost In The Shell (2017)

Sebagai salah satu anime ikonik di era 90-an, tidak mengherankan jika Ghost in the Shell (1995), karya Mamoru Oshii yang diangkat dari manga kreasi Masamune Shirow, sukses dilirik Hollywood untuk diulang buat. Bagaimanapun Ghost in the Shell dianggap sebagai salah satu anime terbaik dan berperan besar dalam perkembangan sub-genre cyberpunk. Termasuk oleh Wachowski bersaudara saat mengerjakan The Matrix (1999).

Continue reading “Film Review: Ghost In The Shell (2017)”

Film Review: Fabricated City (2017)

Perlu waktu 12 tahun bagi Park Kwang-hyun untuk kembali menghadirkan sebuah film selepas Welcome to Dongmakgol (2005) yang kini sudah bisa dianggap klasik. Tentunya Fabricated City (조작된 도시;  Jojakdoen Doshi), demikian film terbarunya, memancing rasa penasaran, apakah ia akan kembali menghadirkan sebuah petualangan sinema yang istimewa? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung sudut pandang. 

Continue reading “Film Review: Fabricated City (2017)”

Film Review: Logan (2017)

Setelah 17 tahun terakhir ini menjadi salah satu ikon utama film ber-subgenre superhero, baik sebagai bagian seri The X-Men ataupun film solonya, akhirnya Wolverine hadir dalam aksi terakhirnya, Logan. Sebagai film yang (diniatkan) sebagai yang terakhir, tentunya ia diharapkan bisa memberi impresi yang kuat akan statusnya sebagai ikon tadi. James Mangold kembali duduk di bangku sutradara setelah The Wolverine (2013).

Continue reading “Film Review: Logan (2017)”

Book Review: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi [Yusi Avianto Pareanom]

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sensasi terbaru di dunia literer Indonesia. Debut dari Yusi Avianto Pareanom ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Meski sebuah debut, Pareanom memaparkan ceritanya dengan gaya tutur di atas rata-rata. Selain mengalir, mengikat, serta pemiliham diksi yang cukup kaya agar tidak menjemukan dan monoton, tulisannya terasa matang dan tajam.

Continue reading “Book Review: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi [Yusi Avianto Pareanom]”