Album Review: Ed Sheeran – Divide (2017)

Saat ini siapa penikmat musik pop yang tak mengenal Ed Sheeran. Penyanyi asal Suffolk, Inggris, 26 tahun lalu ini telah menuai kesuksesan berkat dua albumnya, “+” (2011) dan “×” (2014). Kini, setelah sempat memvakumkan diri selama beberapa tahun dengan niat untuk menjalani kehidupan yang lebih “normal”, Sheeran kembali dengan album ketiganya, yang masih meminjam istilah perhitungan sebagai judul, “÷” atau “Devide”.

Continue reading “Album Review: Ed Sheeran – Divide (2017)”

Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)

Selamat datang di “La La Land”, dunia di mana mimpi dan cita-cita dirayakan dengan penuh cinta dalam warna-warni musikal penuh gaya. Sebuah film yang memadukan antara realita dan eskapisme musikal yang dulunya riuh mengisi layar lebar di era 40 hingga 60-an. Kini dalam “La La Land”, jiwa musikal yang sinematik tersebut dihadirkan kembali dengan penuh kejayaan oleh sutradara pemenang Golden Globe, Damien Chazelle (“Whiplash”) dengan Justin Hurwitz (“Whiplash”) sebagai komposer, serta duo Benj Pasek dan Justin Paul (“Smash”) sebagai penulis lirik lagu. Tentunya ada Ryan Gosling dan Emma Stone yang menghadirkan vokal mereka untuk membawakan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh “La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)“.

Continue reading “Album Review: Various Artists – La La Land (Original Motion Picture Soundtrack)”

Lana Del Rey – Honeymoon

Lana Del Rey - Honeymoon

The one and only Lana Del Rey is return. Dan tak lama setelah ia merilis “Ultraviolence” tahun lalu. Dalam “Honeymoon“, album studio label besar ketiganya, Del Rey menyebutkan ia mencoba kembali pada pendekatan yang dilakukannya dalam “Born To Die” dan juga EP “Paradise”, yaitu retro dream-pop yang kental dengan nuansa sadcore atmosferik. Mungkin ini memang benar. Hanya saja “Honeymoon” tidak secerah atau se-pop “Born To Die”. Ia bahkan jauh lebih kelam daripada “Ultraviolence”.

Continue reading “Lana Del Rey – Honeymoon”

Jess Glynne – I Cry When I Laugh

Cover

Tahun lalu mungkin kita hanya mengenal Jess Glynnesebagai bintang tamu dari single-single sukses milik Clean Bandit dan Route 94 (‘Rather Be’ dan ‘My Love’). Namun kini dengan dua single nomor satu dengan mengusung namanya sendiri (‘Hold My Hand’ dan ‘Don’t Be So Hard On Yourself’) serta tambahan satu lagi dari kolaborasinya dengan Tinie Tempah dalam ‘Not Letting Go’, jelas nama Jess Glynne kini menjulang sebagai penyanyi muda asal Inggris yang berada di garda depan. Menyusul 5 single #1 tersebut kini Glynne siap untuk mempersembahkan musikalitas dirinya dalam album debut, “I Cry When I Laugh“.

Continue reading “Jess Glynne – I Cry When I Laugh”

Calvin Harris & Disciples – How Deep Is Your Love (Remixes) EP

Apalah artinya sebuah lagu EDM tanpa remix? Apalagi jika itu single dari musisi sekaliber Calvin Harris. Bekerjasama dengan Disciples, ia merilis single barunya yang berjudul ‘Hod Deep Is Your Love’ yang mengarahkannya ke genre deep house yang selama ini belum tersentuh olehnya. Review lengkap saya bisa dibaca di sini.

Continue reading “Calvin Harris & Disciples – How Deep Is Your Love (Remixes) EP”

Various Artists – Paper Town OST

Setelah sukses “The Fault In Our Stars”, lagi-lagi novel karya John Green diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Kali ini giliran “Paper Towns”, yang dibintangi oleh Cara Delevingne dan Nat Wolff. Mengingat ini film tentang remaja, tentunya tak terlepas dari sebuah album soundtrack yang mewakili semangat filmnya. Dan sebagaimana “TFOS”, album “Paper Towns (Music from the Motion Picture)” juga diisi oleh banyak musisi yang menghadirkan lagu-lagu yang menghadirkan nuansa remaja tadi.

Continue reading “Various Artists – Paper Town OST”

Galantis – Pharmacy

Duo asal Swedia, Galantis, mendapat perhatian saat single-single seperti ‘Runaway (U & I)’ dan ‘You’ hadir di tahun 2014 yang lalu. Dengan produksi EDM yang kental berbau pop, tampaknya Galantis memang lebih mengincar pasar yang lebih mainstream. Itu jelas. Tapi yang tidak bisa dinafikan adalah kekuatan mereka dalam mengkomposisikan lagu-lagunya dengan memadukan antara semangat progressive house dan pop dengan takaran yang pas.

Lantas hadirlah album debut ini, “Pharmacy”, yang memaparkan kekuatan mereka. Album ini bisa dibilang istimewa dan cukup pantas dinantikan karena duo terdiri dari sosok-sosok yang cukup punya nama di kancah pop dan EDM. Galantis adalah proyek dari Christian Karlsson, yang merupakan satu dari trio Miike Snow dan duo Bloodshy & Avant, serta Linus Eklöw yang lebih dikenal sebagai Style of Eye, seorang DJ dan produser yang cukup kenamaan.

Sebagai Bloodshy, Karlsson sudah banyak membantu musisi pop seperti Britney Spears, Hilary Duff, Madonna, Katy Perry, J.Lo hingga Girls’ Generation dan banyak lagi. Sedang Eklöw yang tahun lalu merilis album kedua Style of Eye, “Footprints”, juga kerap membidani lagu-lagu musisi lain seperti Lily Allen, Usher, Kylie Minogue atau Zedd. Dengan resume seperti ini tentunya tidak heran jika tidak usah diragukan lagi kualitas produksi “Pharmacy”.

Yang menjadi pertanyaan, apa yang ditawarkan Galantis untuk albumnya? Apakah EDM yang club ready atau mengejar selera pasar? Well, jawabannya sebenarnya cenderung di yang kedua.

Mungkin karena latar mereka sebagai produser untuk banyak lagu pop, sehingga mau tidak mau “Pharmacy” lebih mengedepankan semangat yang sama dalam lagu-lagunya, meski dikemas dalam bentuk progressive house. Album dibuka dengan sebuah nomor dance ‘Forever Tonight’ yang mengusung semangat ceria dan party dengan masif. Sebuah teaser yang mengindikasikan kesan pop tadi dengan kuat memang.

Memasuki track kedua, ‘Gold Dust’, moody dan melankolisme menjadi menu utama lagunya. Bahkan di pertengah pertama bentuk lagu adalah balada dengan musik latar yang atmosferik. Barulah di sekitar menit 1.30 ia menunjukkan rupanya sebagai progressive house, meski melankolisme tetap dikedepankan.

Pendekatan yang sama, melankolisme, juga bisa ditemukan dalam track seperti ‘Dancin’ to the Sound of a Broken Heart’ yang terasa berkesan karena vokalnya yang lembut, nyaris lirih, menyuarakan kesedihan, meski beat di latar terdengar intens dan ‘Water’ yang bertugas sebagai penutup album.

Sisanya, album berisi nomor-nomor EDM riuh dengan penekakan pada kata Dance seperti ‘In My Head’, ‘Louder. Harder, Better’, ‘Call Me If You Need Me’, ‘Firebird’ dan ‘Don’t Care’. Track-track yang dipastikan akan memeriahkan suasana pesta, meski rasa-rasanya mungkin tidak akan masuk dalam setlist seorang DJ yang berniat memancing adrenalin crowd-nya.

Yang patut menjadi highlight mungkin track ‘Kill ‘Em with the Love’ yang meminggirkan EDM dan terdengar seperti sebuah track pop-rock dan nomor retro-disco ‘Peanut Butter Jelly’ yang fun dan menunjukkan pengalaman Galantis sebagai produser.

So, jika mengharapkan sebagai sebuah album EDM yang inventif ataupun kaya warna, mungkin bukan pilihan yang tepat. Akan susah pula untuk memuaskan kaum puritan EDM. Tapi, overall “Pharmacy” adalah album pop yang seru untuk disimak. Lagu-lagunya enjoyable, catchy dan easy listening. Siap menjadi teman bersantai.

(3.5/7)

Major Lazer – Peace Is The Mission

Saat Major Lazer mengajak Lorde, serta Ariana Grande sebagai pengisi vokal, untuk track ‘All My Love’, sebagai kontribusi grup dancehall yang digawangi oleh Diplo ini untuk soundtrack film “The Hunger Games: Mockingjay, Part 1″, mereka sudah menimbulkan rasa heran karena memberikan karya yang jauh lebih nge-pop ketimbang yang mereka biasakan.

Continue reading “Major Lazer – Peace Is The Mission”

Jack Ü – Skrillex and Diplo Present Jack Ü

Salah dua nama terdepan dalam skena EDM masa kini, Skrillex dan Diplo, sudah tidak asing dengan yang  namanya proyek kolaborasi. Tapi bagaimana jika keduanya justru yang berkolaborasi? Maka terbentuklah Jack Ü yang memberikan apa yang kita kenal dari keduanya dalam sebuah perpaduan yang ekplosif dan tersajikan dalam sebuah album berjudul “Skrillex and Diplo Present Jack Ü“.

Continue reading “Jack Ü – Skrillex and Diplo Present Jack Ü”