Film Review: Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara (2018)

Film-film Indonesia berlatar Tentara Nasional Indonesia biasanya mengambil sudut pandang para perwira itu sendiri, seperti Pasukan Garuda: I Leave My Heart In Lebanon (2016) atau Merah Putih Memanggil (2017). Kini hadir Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara yang mengambil pendekatan bertutur berbeda, yaitu istri sang perwira.

Alur naskah film hasil tulisan Jujur Prananto dan Krisnawati sederhana saja. Berseting di pulau Natuna, Kepulauan Riau, film berkisah tentang Sharifah (Putri Marino), seorang dara yang menjalani hidupnya sebagai seorang istri tentara asal Bandung bernama Jaka (Wafda Saifan Lubis). Di sepanjang durasi kita akan mengikuti lika-liku kehidupan Sharifah dalam suka-duka menjadi seorang istri tentara yang tentu saja kerap ditinggal sang suami yang mengabdi pada tugasnya kepada negara.

Tidak hanya romansa Sharifah dan Jaka yang dikedepankan, namun juga dinamika hubungannya dengan sang ayah (Yayu Unru, yang reuni dengan Putri setelahPosesif) dan emak (Nena Rosier), juga adiknya yang bengal, Farhan (Aldi Maldini).

Meski tidak tepat benar bergaya bildungsroman, tapi Jelita Sejuba berjalan memang layaknya sebuah biografi. Kita menyimak Sharifah selepas tamat SMA, berkenalan dengan Jaka, menikah dan kemudian memiliki anak. Hanya saja tidak ada konflik atau urgensi yang benar-benar solid di dalam alurnya.

Oleh karena itu, Ray Nayoan – yang melakukan debut film panjangnya melalui film ini selepas terlibat dalam film antologi seperti Takut dan Sinema Purnama – mengerti jika plot Jelita Sejuba dieksekusi secara standar, maka alur akan cenderung monoton bahkan menjemukan.

Maka dengan tangkas Ray menghadirkan pengarahan bergaya. Ritme film dinamis sehingga tidak terasa membosankan, setidaknya di paruh awal, di mana kita menyimak perjalanan asmara antara Sharifah dan Jaka. Ray telaten dalam menginfusi film dengan riak-riak komedi segar dan sisi dramatik menggelitik.

Sayangnya memasuki paruh akhir film terasa mulai berlarat-larat, meski diniatkan sebagai momentum emosional dalam ceritanya. Selain itu, insert adegan-adegan militer (yang tentu saja wajib hadir) sejujurnya malah tidak terlalu penting dan mendistraksi, mengingat sentra kisah adalah pada sang Jelita Sejuba alias Sharifah sang istri tentara.

Tapi tak mengapa. Secara keseluruhan Jelita Sejuba tetap menyenangkan untuk disimak. Ia adalah jenis film sederhana, hangat dan tanpa pretensi berlebihan. Ditambah pula dengan latar budaya Melayu dan lanskap indah Natuna ditangkap cermat oleh Ray untuk memperkaya warna film tanpa harus terkesan terlalu turistik atau mengedepankan eksotisme.

Apalagi ada Putri Marino di dalamnya. Meski didukung oleh barisan pemain yang tampil tak kalah baik, namun penggerak utama Jelita Sejuba tetap saja adalah Putri. Ia mampu menjadi sentra film secara kuat berkat aktingnya yang makin terasah. Putri menghadirkan Sharifah menjadi sosok hidup dan lekat di benak penonton. Oleh Putri, kita tertawa, termangu, atau bersedih bersama Sharifah. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyaksikan Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara.

Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara
★★★☆☆
Advertisements