Film Review: The Dark Knight Rises (2012)

You think this can last? There’s a storm coming, Mr. Wayne. You and your friends better batten down the hatches, because when it hits, you’re all gonna wonder how you ever thought you could live so large and leave so little for the rest of us. (Selina Kyle)

The Dark Knight Rises (TDKR) is one of the most anticipated film for this year. Tidak hanya dia berperan menjadi penutup dari seri Batman di dekade 2000-an, namun juga sebagai film terbaru dari Christopher Nolan yang telah dinanti-nantikan. Semenjak kesuksesan The Dark Knight (2008) dan disusul oleh Inception (2010), nama Nolan memang seolah telah menjadi jaminan sebuah film mainstream yang “tidak biasa”. Betapa tidak, saat kecendrungan trend film-film yang mengangkat pahlawan komik hadir untuk mengejar sensasi keseruan dalam level extravaganza yang tinggi, he dare to take a different route to his journey. A risky one. But it made his films are more memorable and never be a Sunday morning matinee popcorn flick.

Dan estetika kelam dan dewasa yang diusung semenjak Batman Begins (2005) pun berlanjut di dalam atmosfir yang menyelubingi TDKR. Hanya saja, Nolan memutuskan untuk kembali ke akar dimensi komikal yang menjadi pijakan Begins setelah sempat bermain-main dengan ranah psikologis dalam skena crime-thriller yang menjadi pondasi bertutur The Dark Knight. Ini menjadi keputusan yang mutlak, karena plot yang bergerak dalam TDKR pun tidak terlepas dari apa yang dituturkan dalam Begins.

Delapan tahun setelah The Dark Knight, Batman (Christian Bale), sang vigilante kota Gotham, telah mengilang dan dianggap sebagai musuh masyarakat. Namun kemudian hadir bentuk ancaman baru yang hadir dalam sosok bernama Bane (Tom Hardy), seorang mantan anggota League of Shadows, dan tampaknya ingin melanjutkan misi yang dulu gagal diusung oleh Ra’s al Ghul (Liam Neeson). Keselamatan Gotham pun berada di ujung tanduk.

Namun Bruce Wayne, milyuner eksentrik yang menjadi alter-ego Batman, pun tampaknya telah patah semangat dalam melawan kebatilan. Belum lagi pelayan setianya, Alfred (Michael Caine) sangat menentang jika Wayne berniat untuk kembali beraksi. Sementara itu, aksi Bane semakin mengganas. Komisaris Gordon (Gary Oldman) tak mampu lagi untuk membendung, bahkan harus kehilangan sejumlah besar angota korps kepolisian yang dipimpinnya. Untungnya ada seorang polisi muda penuh dedikasi bernama John Blake (Joseph Gordon-Levitt) yang penuh semangat membantu Gordon.

Dengan durasi sepanjang 165 menit, skrip yang dikerjakan oleh Nolan bersama adiknya, Jonathan, berkesempatan untuk menghadirkan beberapa karakter baru ke dalam jalinan ceritanya. Paruh pertama durasi mungkin akan sedikit monoton karena lebih banyak diisi oleh pengenalan karakter dan eksposisi. Namun disinilah sebenarnya kecermatan penonton harus diuji, karena petunjuk untuk twist yang disiapkan di ujung kisah, telah disebar di berbagai sudut. Yang kita butuhkan hanya kesabaran untuk menyerapnya.

Paruh kedua menjelang akhir, barulah adrenalin dipacu dengan intensitas yang tinggi dan ditutup dengan klimaks yang menguras emosi dan mengandung ambigu yang cukup kental. Lagi-lagi sebuah idealisme Nolan yang cukup rentan mengundang pro-dan-kontra, meski bagi saya pribadi, keputusan Nolan untuk mengakhiri kisahnya merupakan keputusan yang cukup cerdik dan cerdas. Porsi laga yang mengandalkan fisik mungkin masih agak lemah. Rasa-rasanya Nolan masih harus mencari penata kelahi yang lebih mumpuni untuk menghadirkan adegan pertarungan yang (lebih) seru. Namun, terlepas dari itu, TDKR mengandung letupan-letupan aksi yang mencengangkan dan fantastis.


Yang patut menjadi highlight adalah penempatan sosok perempuan yang kini memiliki peranan jauh lebih penting dan karakterisasi yang sangat kuat dibandingkan dengan sebelumnya. Maka tidak heran jika kehadiran sang pencuri cantik, Selina Kyle (Anne Hathaway), begitu berkesan dan mencuri perhatian. Hathaway berhasil membungkam pihak-pihak yang dulu meragukan kemampuan dirinya dalam menginterprestasi salah satu karakter ikonik dari komik Batman ini, mengingat versi Michelle Pfeiffer dalam Batman Returns (1992) sangat lekat dalam ingatan. Anggun, tangguh dan manipulatif.

Marion Cotillard mendapat porsi sebagai love interest bagi Bruce Wayne yang bernama Miranda Tate, sosok perempuan budiwati yang tampaknya siap membantu Wayne dalam menghadapi ganasnya invasi Bane. Meski terlihat layaknya sebuah damsel-in-distress, namun Cotillard mampu memberi kedalaman yang cukup untuk membuat kita sebagai penonton menangkap emosi karakter yang diperankannya meski sebenarnya bisa saja jatuh ke wilayah satu dimensi yang artifisial.

Nolan memang beruntung didukung oleh barisan aktor papan atas yang bermain dengan sangat cemerlang. Bale hadir sebagai Wayne yang terluka, baik secara fisik maupun mental, sehingga terlihat tidak hanya lelah namun juga kosong. Bane mungkin kalah kharismatis dibandingkan Joker atau Ra’s al Ghul, akan tetapi Tom Hardy menghadirkan sosok mengerikan ini dengan nyaris sempurna. Mulai dari gestur hingga tatapan mata menjadi andalan Hardy dalam menampilkan Bane yang bengis sekaligus cerdas.

Aktor-aktor veteran film ini, seperti Oldman, Caine, Freeman dan bahkan Cillian Murphy semakin menunjukkan kelasnya, terlebih lagi bagi Oldman dan Caine, yang kini mendapat porsi yang jauh lebih besar dan berkesempatan untuk memperluas jangkauan emosi karakternya. Dan meski karakter Joseph Gordon-Levitt merupakan sosok baru dalam saga ini, namun skrip dengan cerdik menginfusi peran yang vital bagi karakternya dan diperankan dengan kharisma yang pas oleh Levitt.

Menarik bagaimana film memilih untuk sedikit meminggirkan Batman dan mencurahkan perhatian justru pada Bruce Wayne. Dilematika psikologis yang mendera Wayne-lah yang menjadi penentu hidup atau matinya sang Batman dan film mencoba mengajak kita untuk mengikuti kegelisahan Wayne. Pada akhirnya Bane, dengan segala agenda politisnya, tidak lain dan tidak bukan merupakan villain sekunder dalam TDKR karena justru musuh utama yang harus dikalahkan oleh Bruce Wayne adalah dirinya sendiri.

TDKR juga cukup self referential, yang berarti mengharuskan penonton untuk familiar dengan kisah yang terpapar di dalam dua film sebelumnya untuk memahami alur dalam TKDR, terlepas dari beberapa penjelasan yang (masih) disempalkan. Dan bagi para penggemar komiknya pasti bersorak-sorai karena TDKR jauh lebih setia dengan materi yang menjadi dasar filmnya, termasuk pada beberapa adegan yang mungkin hanya bisa diapresiasi secara penuh oleh para penggemar komik. Kalau tertarik, mungkin komik-komik Batman dengan judul seperti Knightfall (2003)The Dark Knight Returns (1986), dan No Man’s Land (1999), dapat dipakai sebagai acuan sebelum menyimak filmnya.

In the end, The Dark Knight Rises is a perfect closure for Nolan’s Batman epic. Mungkin film ini tidak akan menjadi banyak favorit banyak orang, terutama bagi yang menggemari film-film berdasarkan komik yang menggelegar dan riuh. Bagaimanapun ini adalah film seorang Christopher Nolan, yang film-filmnya selalu menampilkan karakter-karakter ambigu dan menantang secara psikologis. Tapi terlepas dari itu, ia membayar tuntas penantian selama 7 tahun setelah Batman Begins dan menyempurnakan story arc yang sudah dibangun sebelumnya. Saying Nolan’s Batman saga as the best superhero adaption so far is argueable. Akan tetapi yang jelas ia menaikan kelas film-film sejenis ke tingkat yang lebih tinggi.

dark_knight_rises_ver3_xlg

★★★★½☆

::SPOILER::

Mungkin tagline TDKR adalah The Legend Ends. Akan tetapi setelah John Blake menyebutkan nama pertamanya sebagai Robin dan mendapat “warisan” Batcave dari Wayne, jelas jika kisah si ksatria Kegelapan ini akan berlanjut. Well most likely in the form of Nightwing. Lantas, bukankah karakter Robin itu merupakan alter ego dari Dick Grayson, Jason Todd, dan Tim Drake? Nah, tampaknya Nolan mengadopsi ketiga sosok tersebut untuk kemudian dilebur dalam bentuk  karakter John Blake. Pilihan yang cukup bijaksana jika memang bertujuan memberi kejutan pada penontonnya di akhir kisah.

Advertisements